KOMPAS.com - Kembang api mungkin memukau banyak orang dengan warna-warnanya yang indah dan suara ledakannya yang keras, tetapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya terus berlanjut lama setelah pertunjukan berakhir.
Melansir Science Daily, Jumat (3/7/2026) tiga studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal American Chemical Society (ACS) meneliti apa saja yang ditinggalkan oleh kembang api, mulai dari sampah yang terbuang, partikel di udara, hingga senyawa kimia yang terlepas ke atmosfer.
Secara keseluruhan, temuan-temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana kembang api dapat memengaruhi kualitas udara, kandungan kimia air, serta berpotensi berdampak pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Setelah kembang api habis terbakar, benda tersebut meninggalkan lebih dari sekadar abu. Sisa-sisa petasan menyebarkan residu yang mengandung bahan bakar yang terbakar sebagian, garam logam, zat aditif, serta serpihan kemasan yang hangus.
Baca juga: Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Dalam sebuah penelitian laboratorium yang diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology, para peneliti menemukan bahwa sampah sisa kembang api melepaskan zat logam dalam jumlah besar serta bahan organik yang larut saat masuk ke dalam air danau dan sungai.
Pada saat yang sama, sisa padatan kembang api tersebut juga menyerap beberapa zat yang sudah ada di dalam air, termasuk senyawa yang lebih besar dan rumit.
Menurut para peneliti, perubahan kimia ini dapat mengganggu kehidupan mikroba dan ekosistem air, terutama jika sampah petasan dalam jumlah besar terus-menerus hanyut ke sungai dan danau setiap kali selesai festival atau perayaan.
Mengumpulkan dan membuang sisa kembang api dengan benar dapat membantu mengurangi dampak buruk bagi lingkungan ini.
Kembang api hanyalah salah satu sumber polusi pada perayaan umum berskala besar, tetapi para peneliti ingin tahu seberapa besar kontribusinya dibandingkan dengan aktivitas lainnya.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal ACS ES&T Air, para ilmuwan memantau kadar debu dan partikel halus di udara selama acara olahraga besar yang berlangsung beberapa hari di Inggris. Mereka mendeteksi kenaikan tajam namun singkat pada partikel udara kasar maupun halus sepanjang acara tersebut.
Tim peneliti menemukan bahwa sebagian besar polusi dipicu oleh asap masakan dari pedagang makanan serta debu yang beterbangan akibat lalu lalang kendaraan. Namun, saat upacara pembukaan dan penutupan, mereka mencatat dua lonjakan tajam partikel halus di udara.
Lonjakan pertama terjadi saat kerumunan penonton tiba dan kadar debu meningkat, sedangkan lonjakan kedua yang sedikit lebih kecil terjadi bersamaan dengan pertunjukan kembang api.
Para peneliti memperkirakan bahwa orang-orang yang menghadiri acara tersebut setiap hari terpapar tingkat polusi udara yang melebihi batas aman rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini menunjukkan bahwa perayaan besar dapat meningkatkan paparan partikel halus berbahaya secara signifikan.
Baca juga: Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
Studi lain berfokus pada bahan kimia bernama amina, yang digunakan dalam beberapa racikan kembang api. Senyawa ini dapat bereaksi di udara dan membentuk aerosol yang memicu munculnya kabut asap serta menurunkan kualitas udara.
Untuk mengetahui apa yang terjadi pada bahan kimia tersebut saat kembang api dinyalakan, para peneliti mengukur kadar amina dalam bentuk gas maupun partikel di udara selama perayaan Tahun Baru Imlek di wilayah pinggiran kota di China.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters ini menunjukkan adanya peningkatan lonjakan beberapa jenis amina dibanding hari-hari biasa. Peningkatan terbesar terjadi saat pertunjukan kembang api skala besar. Para ilmuwan juga mencatat tingginya kadar polutan lain terkait kembang api, termasuk partikel halus serta ion sulfat dan kalium.
Para peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini membuktikan kembang api menyumbang lebih dari sekadar asap yang terlihat pada kabut yang sering menggantung setelah perayaan besar, sehingga menambah daftar panjang dampak buruknya bagi lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya