JAKARTA, KOMPAS.com - Data center untuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghasilkan panas jauh lebih tinggi dibandingkan server biasa biasa yang digunakan untuk menjelajahi web.
Imbasnya, data center untuk AI membutuhkan sumber daya air dengan porsi semakin besar untuk sistem pendinginan (cooling system).
Di Indonesia, mayoritas data center saat ini masih menggunakan sistem pendingin berbasis udara (air cooling) konvensional. Metode ini sangat bergantung pada sirkulasi air yang besar untuk mendinginkan suhu udara di dalam data hall.
Baca juga: Google Bakal Manfaatkan Nuklir untuk Pasok Listrik Data Center
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (APTIKNAS), Fanky Christian mengatakan, besarnya kebutuhan industri data center untuk AI beresiko memicu kekhawatiran terkait kompetisi penggunaan sumber daya air dengan sektor lain.
"Rebutan untuk kebutuhan rumah tangga sama buat data center. Kalau Anda jadi yang punya air milih jualnya ke yang mana? Jual ke data center harganya beda, karena industri grade price industri. Kalau ke perumahan retail, customer, bahkan ada yang disubsidi kan," ujar Fanky di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Potensi krisis air akibat aktivitas data center untuk AI sudah mulai tampak di kawasan industri, seperti Johor Bahru, Malaysia. Industri data center untuk AI di sana menyedot air tanah terlalu banyak, sehingga penduduk di permukiman sekitar kawasan tersebut mengeluhkan kesulitan mengakses sumber daya ini.
Kapasitas sistem pendinginan memang menjadi tantangan pengembangan industri data center untuk AI di Indonesia. Kenaikan suhu akibat krisis iklim turut memperberat tantangan kapasitas sistem pendinginan industri data center di Indonesia.
Di Jakarta, beberapa lokasi data center mulai dibangun di tengah kota, yang lokasinya berdekatan danau atau sungai, seperti di kawasan Kuningan dan MT Haryono, untuk menjaga keberlangsungan sistem pendinginan mereka.
Sebagai solusi jangka panjang, kata dia, industri data center untuk AI sebaiknya mulai melirik teknologi liquid cooling (pendinginan cair).
Baca juga: Industri Data Center Boros Air, Daur Ulang Mulai Dilirik
Menurut Fanky, teknologi liquid cooling sistem pendinginan data center untuk AI setidaknya lebih 'ramah lingkungan' dibandingkan air cooling konvensional. Sekarang, standarisasi sistem pendinginan sedang didorong, dengan data center untuk AI harus memakai liquid cooling.
"Terus ke lingkungan dampaknya mungkin jauh lebih baik karena dia tidak menggunakan tidak melulu menggunakan air lingkungan. Tapi yang dipakai liquid cooling hanya untuk perangkat, sedangkan untuk facility ini tetap perlu air karena kan ada sirkulasi yang di chiller di atas didinginkan dibuang gitu," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya