KOMPAS.com - Gelas kertas sekali pakai yang sering digunakan untuk wadah kopi takeaway dan minuman lainnya ternyata melepaskan jutaan partikel mikroplastik saat terkena cairan panas. Hal ini ditemukan oleh para peneliti dari University of Queensland.
Melansir Phys, Sabtu (29/8/2026) tim peneliti dari lembaga riset kesehatan lingkungan UQ meneliti dua jenis gelas sekali pakai yakni gelas yang dilapisi bahan plastik biasa (polietilena) dan gelas yang dilapisi plastik ramah lingkungan atau dapat terurai (polylactic acid atau PLA).
Dr. Elvis Okoffo menjelaskan bahwa kedua jenis gelas tersebut sama-sama melepaskan partikel plastik. Namun, gelas yang dilapisi PLA melepaskan partikel 12 kali lebih banyak.
Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah ACS Food Science & Technology.
Baca juga: Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
"Gelas kertas sekali pakai digunakan setiap hari oleh jutaan orang di seluruh dunia untuk minum kopi, teh, dan minuman panas lainnya," kata Okoffo.
"Gelas yang sebagian besar terbuat dari kertas bukan berarti bebas dari plastik, karena banyak di antaranya dilapisi lapisan plastik tipis agar tahan air dan bentuknya tetap kokoh.
Hasil penelitian kemudian menunjukkan bahwa gelas kertas berlapisan plastik melepaskan bahan plastik berukuran mikro dan nano dalam jumlah yang sangat banyak saat terkena air panas.
"Dalam eksperimen kami, gelas berlapisan PLA melepaskan total massa partikel sekitar 12 kali lebih tinggi dibanding gelas berlapisan PE," terang Okoffo.
Para peneliti mencatat ada sekitar 4,3 juta partikel nano per mililiter dari gelas berlapisan PLA, dibandingkan dengan 2,7 juta partikel per mililiter dari gelas berlapisan PE.
Partikel nano ini berukuran sangat kecil, sekitar seribu kali lebih tipis dibanding sehelai rambut manusia.
Okoffo menjelaskan bahwa studi ini menambah bukti yang menunjukkan bahwa produk plastik baru yang digunakan untuk menyimpan dan menyiapkan makanan merupakan sumber paparan plastik yang cukup besar bagi tubuh manusia melalui makanan atau minuman, meskipun sering kali diabaikan.
"Ini bukan berarti orang-orang harus berhenti menggunakan gelas kertas, atau bahwa bahan PLA itu pasti berbahaya. Namun, dampak partikel plastik bagi kesehatan manusia masih belum jelas, dan kita tahu bahwa bahan kimia dalam plastik memang tidak ditujukan untuk dikonsumsi," ujarnya.
Okoffo juga menjelaskan bahan yang digunakan untuk wadah makanan dan minuman perlu dinilai bukan hanya dari seberapa ramah lingkungan bahannya, tetapi juga dari seberapa banyak partikel yang terlepas saat digunakan sehari-hari.
Studi ini pun mengisi celah penting tentang bagaimana gelas kertas sekali pakai berlapisan plastik dapat menyumbang paparan plastik harian kita.
Baca juga: Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Okoffo mengatakan bahwa konsumen berhak mendapatkan informasi mengenai bahan yang digunakan sebagai lapisan gelas kertas. Ia juga mendesak para pembuat kebijakan untuk mempertimbangkan panduan keselamatan atau peringatan pada label produk.
"Pembuat kebijakan dan pengatur regulasi perlu mempertimbangkan apakah pengujian pelepasan mikroplastik dan nanoplastik harus menjadi bagian dari penilaian keamanan wadah makanan, khususnya untuk produk yang dirancang bagi minuman panas," ujarnya.
Produsen produk juga dapat mempertimbangkan untuk mengembangkan lapisan gelas yang melepaskan lebih sedikit partikel plastik saat terkena cairan panas.
"Dengan menggabungkan desain produk yang lebih baik, pelabelan yang lebih jelas, serta kesadaran masyarakat, kita dapat membantu membatasi jumlah plastik yang masuk ke dalam tubuh maupun lingkungan kita," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya