Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia

Kompas.com, 20 September 2026, 11:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dua tahun lalu, gagasan tentang pecahnya perang skala besar terasa seperti kemungkinan yang masih sangat jauh bagi para ahli risiko dunia. Kini, ancaman tersebut berada di urutan teratas dari hal yang paling mereka takuti, menurut Laporan Risiko Global PBB yang baru.

Studi tersebut mengumpulkan pandangan dari 1.300 orang dari kalangan pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, sektor swasta, dan akademisi dari seluruh wilayah di dunia.

Melansir laman resmi United Nations, Selasa (15/9/2026) mereka kemudian menilai 28 ancaman politik, ekonomi, lingkungan, sosial, dan teknologi berdasarkan seberapa besar kemungkinannya terjadi, seberapa parah dampaknya, dan seberapa siap dunia menghadapinya.

Ancaman perang yang makin nyata

Ancaman perang skala besar melonjak naik 16 peringkat dibanding tahun 2024, kenaikan paling tajam dibanding risiko lainnya dalam daftar tersebut.

Baca juga: Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan

Lebih dari sepertiga responden (36 persen) memperkirakan dampaknya bisa dirasakan oleh sebagian besar umat manusia dalam waktu satu tahun, dan 76 persen memperkirakannya terjadi dalam tujuh tahun.

Perang besar juga menjadi ancaman yang tampaknya belum siap dihadapi oleh dunia.

Dari 28 risiko yang diteliti, perang skala besar menjadi satu-satunya ancaman yang masuk dalam enam besar di seluruh kategori penilaian yaitu tingkat kepentingan, seberapa cepat akan terjadi, keterkaitannya dengan bahaya lain, serta ketidaksiapan lembaga dunia dalam menghadapinya.

Dua tahun lalu, ancaman lingkungan, informasi palsu dan pandemi mendominasi kekhawatiran global. Kini, ketegangan geopolitik, perang, dan melemahnya penegakan hukum menjadi pusat perhatian utama.

"Temuan ini sangat mengkhawatirkan. Risiko politik kini berada di panggung utama. Prospek terjadinya perang skala besar dinilai jauh lebih penting dan jauh lebih mendesak dibandingkan dua tahun lalu," tulis Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam kata pengantar laporan tersebut.

"Pada saat yang sama, lembaga-lembaga yang diharapkan mampu merespons justru dinilai semakin tidak berdaya," tulisnya lagi.

Ancaman senjata pemusnah massal juga mulai masuk dalam daftar 10 besar di wilayah Asia Tengah dan Selatan, Afrika Sub-Sahara, serta Oseania.

Sementara di Asia Timur dan Asia Tenggara, kekhawatiran makin meningkat terkait potensi krisis keuangan global, dampak negatif kecerdasan buatan (AI), serta makin besarnya kekuasaan perusahaan-perusahaan teknologi.

Risiko yang berkaitan dengan AI juga masuk dalam daftar 10 besar ancaman di Eropa dan Amerika Utara.

Sebaliknya, ancaman pandemi dan bahaya biologis keluar dari daftar 10 besar di semua wilayah, sebuah perubahan drastis dibanding dua tahun lalu, saat isu ini masih menjadi risiko paling mendesak di Asia Timur & Tenggara, Amerika Latin & Karibia, serta Afrika Sub-Sahara.

Sementara itu, perubahan iklim tidak pernah menghilang dari daftar kekhawatiran. Lambatnya penanganan iklim tetap menjadi risiko nomor satu yang paling penting secara keseluruhan, serta menduduki peringkat tinggi di setiap wilayah, bersamaan dengan kekhawatiran akan kelangkaan sumber daya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau