KOMPAS.com - Dua tahun lalu, gagasan tentang pecahnya perang skala besar terasa seperti kemungkinan yang masih sangat jauh bagi para ahli risiko dunia. Kini, ancaman tersebut berada di urutan teratas dari hal yang paling mereka takuti, menurut Laporan Risiko Global PBB yang baru.
Studi tersebut mengumpulkan pandangan dari 1.300 orang dari kalangan pemerintah, organisasi internasional, masyarakat sipil, sektor swasta, dan akademisi dari seluruh wilayah di dunia.
Melansir laman resmi United Nations, Selasa (15/9/2026) mereka kemudian menilai 28 ancaman politik, ekonomi, lingkungan, sosial, dan teknologi berdasarkan seberapa besar kemungkinannya terjadi, seberapa parah dampaknya, dan seberapa siap dunia menghadapinya.
Ancaman perang skala besar melonjak naik 16 peringkat dibanding tahun 2024, kenaikan paling tajam dibanding risiko lainnya dalam daftar tersebut.
Baca juga: Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
Lebih dari sepertiga responden (36 persen) memperkirakan dampaknya bisa dirasakan oleh sebagian besar umat manusia dalam waktu satu tahun, dan 76 persen memperkirakannya terjadi dalam tujuh tahun.
Perang besar juga menjadi ancaman yang tampaknya belum siap dihadapi oleh dunia.
Dari 28 risiko yang diteliti, perang skala besar menjadi satu-satunya ancaman yang masuk dalam enam besar di seluruh kategori penilaian yaitu tingkat kepentingan, seberapa cepat akan terjadi, keterkaitannya dengan bahaya lain, serta ketidaksiapan lembaga dunia dalam menghadapinya.
Dua tahun lalu, ancaman lingkungan, informasi palsu dan pandemi mendominasi kekhawatiran global. Kini, ketegangan geopolitik, perang, dan melemahnya penegakan hukum menjadi pusat perhatian utama.
"Temuan ini sangat mengkhawatirkan. Risiko politik kini berada di panggung utama. Prospek terjadinya perang skala besar dinilai jauh lebih penting dan jauh lebih mendesak dibandingkan dua tahun lalu," tulis Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam kata pengantar laporan tersebut.
"Pada saat yang sama, lembaga-lembaga yang diharapkan mampu merespons justru dinilai semakin tidak berdaya," tulisnya lagi.
Ancaman senjata pemusnah massal juga mulai masuk dalam daftar 10 besar di wilayah Asia Tengah dan Selatan, Afrika Sub-Sahara, serta Oseania.
Sementara di Asia Timur dan Asia Tenggara, kekhawatiran makin meningkat terkait potensi krisis keuangan global, dampak negatif kecerdasan buatan (AI), serta makin besarnya kekuasaan perusahaan-perusahaan teknologi.
Risiko yang berkaitan dengan AI juga masuk dalam daftar 10 besar ancaman di Eropa dan Amerika Utara.
Sebaliknya, ancaman pandemi dan bahaya biologis keluar dari daftar 10 besar di semua wilayah, sebuah perubahan drastis dibanding dua tahun lalu, saat isu ini masih menjadi risiko paling mendesak di Asia Timur & Tenggara, Amerika Latin & Karibia, serta Afrika Sub-Sahara.
Sementara itu, perubahan iklim tidak pernah menghilang dari daftar kekhawatiran. Lambatnya penanganan iklim tetap menjadi risiko nomor satu yang paling penting secara keseluruhan, serta menduduki peringkat tinggi di setiap wilayah, bersamaan dengan kekhawatiran akan kelangkaan sumber daya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya