JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi metana (CH4) dari unit pengomposan sampah organik skala komunal di Kota Bandung menunjukkan perbedaan yang signifikan meski metode pengomposan yang digunakan memiliki nama yang sama.
Hasil pengukuran Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT) menunjukkan, perbedaan emisi dipengaruhi antara lain oleh konstruksi fisik komposter dan tingkat keterisian sampah.
Pada metode Lubang Kompos, misalnya, fluks metana tercatat mencapai 72 gram per jam per meter persegi ketika komposter terisi setengah. Namun, ketika kondisi sampah penuh, fluks yang terukur turun menjadi sekitar 18 gram per jam per meter persegi.
Baca juga: Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Tenaga ahli MERIT Siti Ainun mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan sirkulasi udara di dalam unit pengomposan.
Pada konstruksi Lubang Kompos yang menggunakan galian tanah sederhana atau sisa puing bangunan dengan dinding tanpa sirkulasi udara horizontal yang memadai, bagian dalam timbunan sampah dapat menjadi kedap udara atau anaerobik.
Kondisi anaerobik tersebut memungkinkan mikroorganisme pembentuk metana (methanogen) berkembang dan menghasilkan gas metana.
“Kalau pengomposan itu inginnya aerobik. Jadi harusnya konfigurasi dengan ventilasi, adanya lubang udara, kemudian pertukaran udara, oksigen mudah masuk, kondisi proses lebih aerobik,” ujar Ainun dalam MERIT Conference 2026, Selasa (22/9/2026).
Berbeda dengan Lubang Kompos, metode Bata Terawang menghasilkan fluks metana yang lebih rendah pada kondisi keterisian setengah maupun penuh.
Menurut hasil pengukuran tersebut, keberadaan celah atau rongga udara pada susunan bata memungkinkan terjadinya pertukaran udara secara alami. Pasokan oksigen membantu mempertahankan kondisi aerobik di dalam komposter.
Meski demikian, desain Bata Terawang yang berbeda, seperti ukuran pori, penggunaan roster, atau dinding yang sebagian tertutup, tetap dapat menyebabkan perbedaan emisi antarunit.
Sementara itu, metode Lodong Sisa Dapur (Loseda) yang menggunakan tabung pipa berlubang untuk sirkulasi menunjukkan tingkat emisi lebih rendah dibandingkan dua metode lainnya.
Tingkat emisinya tetap bervariasi berdasarkan volume sampah yang berada di dalam unit.
Ainun mengatakan, faktor operasional juga perlu diperhatikan karena desain komposter yang mendukung kondisi aerobik dapat kehilangan fungsinya jika pengelolaan di lapangan tidak sesuai.
Salah satu contohnya adalah kebiasaan memadatkan sampah di dalam Loseda agar dapat menampung lebih banyak sampah dan lebih cepat penuh.
Baca juga: Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Pemadatan tersebut dapat menghilangkan rongga udara dan menciptakan kondisi anaerobik yang meningkatkan potensi pembentukan metana.
Selain konstruksi, proses pengomposan juga membutuhkan pengelolaan yang sesuai, antara lain melalui pengadukan, pengaturan lapisan sampah, komposisi bahan, dan pengendalian kelembapan.
Sampah organik basah atau hijau yang menjadi sumber nitrogen perlu diseimbangkan dengan bahan kering atau cokelat sebagai sumber karbon.
Jika komposisi bahan dan kelembapan tidak terkelola, proses penguraian dapat bergeser dari pengomposan aerobik menjadi pembusukan anaerobik yang menghasilkan metana dan bau.
“Konstruksinya mempengaruhi konstruksi metana. Sisi lain operasional di lapangan. Masyarakat dan juga petugas dan lain-lain berkreativitas sendiri,” kata Ainun.
Menurut dia, pengadukan, layering, kesesuaian komposisi karbon dan nitrogen, volume pengisian, serta kelembapan perlu dikendalikan agar proses tetap berada dalam kondisi yang diharapkan.
Baca juga: TPST Bantargebang Dibayangi Risiko Kebakaran akibat Gas Metana
Karena itu, pengukuran emisi metana dari unit pengolahan sampah organik di luar tempat pemrosesan akhir (TPA) perlu dilakukan dengan metode terstandar.
Pengukuran juga perlu dikaitkan dengan karakteristik unit, konstruksi, bahan baku, serta cara pengoperasian. Kondisi internal seperti kadar oksigen (O2), kelembapan, dan temperatur juga perlu diperhatikan.
Data pengukuran tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi yang memicu pembentukan metana dan menentukan intervensi pada desain maupun operasional unit pengomposan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya