Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau

Kompas.com, 22 September 2026, 19:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Fluks atau aliran gas metana (CH4) dari tempat pemrosesan akhir (TPA) Suwung di Bali dan TPA Sarimukti di Jawa Barat meningkat lebih dari 20 kali lipat pada musim kemarau dibandingkan musim hujan.

Temuan tersebut diperoleh tim peneliti Methane Emission Reduction Initiative for Transparency (MERIT) melalui pengukuran emisi gas rumah kaca (GRK) menggunakan instrumen Closed Flux Chamber (CFC).

Tenaga ahli MERIT Didin Agustian Permadi mengatakan, pengukuran dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh pada musim hujan 2024 dengan pengukuran pada periode kemarau.

Baca juga: Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa

Menurut dia, pemetaan fluks metana dilakukan di sejumlah zona TPA untuk mengetahui tingkat emisi pada lokasi yang berbeda.

"Kalau kami lihat, bisa memetakan data dari pengukuran fluks di setiap zona di TPA. Kalau kami melihat di Sarimukti, di zona yang baru, itu juga mengukur cukup tinggi fluks metananya," ujar Didin dalam MERIT Conference 2026, Selasa (22/9/2026).

Hal serupa ditemukan di TPA Suwung. Fluks metana yang tinggi terukur di zona aktif B dan C.

Pengukuran tersebut kemudian dikaitkan dengan perhitungan menggunakan model First Order Decay (FOD) dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Model tersebut digunakan untuk menghitung emisi berdasarkan riwayat timbulan sampah sejak TPA mulai beroperasi.

Pengukuran emisi perlu diperkuat

Menurut Didin, pengukuran langsung di tingkat TPA masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama jika data tersebut akan digunakan untuk pelaporan emisi pada tingkat nasional.

Kapasitas pengelola TPA perlu diperkuat karena pengukuran secara berkala membutuhkan sumber daya manusia, peralatan teknis, serta pembiayaan.

Selain itu, diperlukan mekanisme penjaminan mutu dan verifikasi untuk memastikan hasil pengukuran dapat dipertanggungjawabkan.

"Kalau kita fokus di level TPA, maka diperlukan metode verifikasinya. Bagaimana hasil pengukuran yang dilakukan ini valid dan juga didukung oleh data-data yang bersifat spesifik lokasi," kata Didin.

Ia mengatakan, proses penjaminan kualitas idealnya dilakukan oleh pihak yang tidak terlibat langsung dalam pengukuran emisi metana.

Baca juga: Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan

Hal tersebut diperlukan untuk menjaga independensi proses verifikasi sebelum data digunakan lebih lanjut, termasuk untuk kepentingan pelaporan emisi.

Metana TPA terus dilepaskan

Didin mengatakan, emisi metana dari TPA memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sejumlah sumber emisi lainnya karena dapat berlangsung terus selama masih terdapat sampah organik yang mengalami proses penguraian.

"Di TPA ini bersifat terus-menerus. Artinya, selama masih ada sampah organik yang masuk ke TPA, maka emisi ini akan tetap keluar ke atmosfer," ujarnya.

Metana merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Di atmosfer, metana juga berperan sebagai prekursor pembentukan ozon di permukaan atau ozon troposferik yang merupakan pencemar udara.

Karena itu, menurut Didin, pengurangan emisi metana dari TPA tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga berhubungan dengan pengendalian pencemaran udara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau