KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa fenomena El Niño menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Peringatan ini disampaikan di saat dunia bersiap menghadapi gelombang iklim yang diperkirakan bakal menjadi yang terparah dalam sejarah.
Pola cuaca alami yang dipicu oleh pemanasan suhu permukaan Samudra Pasifik ini berkaitan erat dengan lonjakan suhu udara, kekeringan ekstrem, hingga banjir meluas. Dampaknya bahkan sudah mulai dirasakan dari Amerika Tengah hingga Indonesia.
Baca juga: Puncak El Nino hingga Februari: Risiko Kematian Capai Setengah Juta Jiwa
Melansir Phys, Selasa (22/9/2026) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut curah hujan tinggi akibat fenomena ini dapat memicu penyebaran wabah kolera serta mempercepat perkembangbiakan serangga pembawa penyakit, khususnya nyamuk.
Hal ini berpotensi meningkatkan kasus penyakit seperti malaria, chikungunya, dan demam berdarah.
"Dampak paling parah akan terjadi ketika krisis iklim menghantam wilayah dengan fasilitas kesehatan yang lemah, akses medis yang terbatas, krisis pangan, pengungsian, serta krisis kemanusiaan," puji Teresa Zakaria, Kepala Unit WHO untuk Pengurangan Risiko, Operasi Kemanusiaan, dan Perubahan Iklim.
Menyebut El Niño sebagai ancaman serius bagi kesehatan masyarakat sekaligus pemicu pelipatgandaan risiko, Zakaria pun mendesak negara-negara untuk segera bertindak demi menekan dampak ini sehingga dapat mencegah jatuhnya korban jiwa dan penderitaan.
"Kita masih memiliki kesempatan untuk bertindak sekarang, sebelum risiko-risiko ini berubah menjadi krisis besar," katanya.
Pada awal September, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) milik PBB memperingatkan bahwa El Niño saat ini diprediksi menjadi yang terkuat sejak pencatatan resmi dimulai empat dekade lalu. Dampak lanjutannya terhadap iklim dunia diperkirakan akan terus berlanjut hingga jauh ke tahun 2027.
Baca juga: Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Meskipun El Niño bukan disebabkan langsung oleh perubahan iklim, para ilmuwan memperkirakan fenomena ini akan memperparah suhu bumi yang sudah memanas akibat pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia, sekaligus meningkatkan cuaca ekstrem.
"Setiap peristiwa El Niño itu berbeda," kata Armel Castellan, penasihat gelombang panas ekstrem di Program Bersama Iklim dan Kesehatan WHO-WMO.
"Namun, El Niño kali ini menjadi sangat unik karena terjadi bersamaan dengan suhu bumi yang sebelumnya memang sudah memecahkan rekor terpanas," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya