Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital

Kompas.com, 29 September 2026, 18:30 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - UN Women meluncurkan pusat riset global baru untuk Bidang Digital, Inovasi, dan AI yang berfokus pada kesetaraan gender.

PBB menyebut perempuan masih sangat terpinggirkan dari perancangan dan tata kelola teknologi yang saat ini mengubah dunia kerja, layanan publik, dan hak-hak masyarakat.

Melansir Down to Earth, Senin (28/9/2026) pusat riset ini akan mempertemukan para peneliti, pemerintah, perusahaan teknologi, pakar AI, dan organisasi hak-hak perempuan untuk bersama-sama merancang kecerdasan buatan serta transformasi digital agar bermanfaat bagi perempuan dan anak perempuan.

Peluncuran ini dilakukan saat para pemimpin dunia berkumpul di New York dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81. Dalam sidang tersebut, topik AI menjadi pembahasan utama terkait transformasi ekonomi, masa depan dunia kerja, pembangunan, peperangan, serta perdamaian dan keamanan internasional.

Baca juga: Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia

Perempuan masih diabaikan

UN Women menyoroti bahwa nasib perempuan dan anak perempuan, serta dampak perubahan teknologi terhadap hak dan pemberdayaan mereka, masih sering diabaikan dalam diskusi-diskusi tingkat dunia tersebut.

Menurut lembaga tersebut, kaum pria memegang hampir delapan dari 10 pekerjaan di bidang AI, serta menguasai hampir sembilan dari 10 posisi pimpinan senior yang menentukan arah teknologi ini.

"Sistem kecerdasan buatan yang kita bangun hari ini akan menentukan cara kita hidup dan bekerja di masa depan," kata Sima Bahous, Direktur Eksekutif UN Women.

"Jika perempuan tidak dilibatkan dalam perancangan dan pengaturannya, kita berisiko membawa ketimpangan masa kini ke masa depan," katanya lagi.

UN Women menyebutkan bahwa perempuan sudah mulai merasakan dampak buruk dari sistem AI yang gagal mencerminkan realitas kehidupan mereka. Analisis global terhadap 133 sistem AI menemukan bahwa 44 persen di antaranya menunjukkan bias gender.

Selain itu, hampir satu dari empat pembela HAM, aktivis, dan jurnalis perempuan yang disurvei oleh UN Women melaporkan pernah mengalami kekerasan daring berbasis AI.

Pusat riset baru ini bertujuan untuk mengumpulkan bukti nyata tentang bagaimana teknologi baru berdampak pada perempuan dan anak perempuan. Wadah ini akan membantu negara-negara anggota menyusun kebijakan digital dan AI yang adil gender, sekaligus bekerja sama dengan perusahaan teknologi untuk memasukkan prinsip kesetaraan gender dalam pembuatan dan pengaturan aturan teknologi.

UN Women menyampaikan bahwa pusat riset ini akan memperkuat kemampuan PBB dalam mengatur kebijakan AI dan digital, sekaligus memberi suara yang lebih kuat bagi perempuan dan organisasi hak-hak perempuan dalam merancang kebijakan, aturan, dan teknologi.

Baca juga: PBB: 1 Juta Perempuan Kehilangan Akses Bantuan Kemanusiaan

"AI bisa memperparah ketimpangan gender atau justru membantu mengatasinya. Semua itu adalah pilihan manusia," tegas Bahous. Ia menyebutkan bahwa keputusan-keputusan tersebut sedang dibuat saat ini oleh para insinyur, perusahaan, investor, dan pemerintah.

UN Women menambahkan bahwa kesetaraan dalam AI bukan hanya soal keterwakilan jumlah orang, melainkan soal kekuasaan dan pengaruh, karena teknologi ini sudah mulai mengubah sistem ekonomi, sosial, dan politik dunia.

Pusat Digital, Inovasi, dan AI ini merupakan bagian dari kerja besar UN Women untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.

Lembaga tersebut menegaskan bahwa langkah ini akan mendukung upaya internasional untuk memastikan bahwa transformasi digital dan AI mendorong pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, serta menghormati hak asasi manusia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Debu Batu Bara di Kawasan Industri Bahodopi Morowali Kian Meresahkan
Debu Batu Bara di Kawasan Industri Bahodopi Morowali Kian Meresahkan
LSM/Figur
Pendanaan Pengurangan Metana Timpang, Didominasi Mengalir ke WtE, Inisiatif Warga Justru Kesulitan Akses Dana
Pendanaan Pengurangan Metana Timpang, Didominasi Mengalir ke WtE, Inisiatif Warga Justru Kesulitan Akses Dana
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau