KOMPAS.com - Kualitas zat gizi pada beras fortifikasi dapat menurun selama penyimpanan dan proses pengolahan sebelum dikonsumsi.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena stabilitas setiap vitamin dan mineral yang ditambahkan ke dalam beras berbeda-beda. Akibatnya, sebagian zat gizi mungkin masih memenuhi standar, sementara komponen lain mengalami penurunan kadar.
Kepala Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) IPB University Puspo Edi Giriwono mengatakan, diperlukan kajian berbasis data untuk mengetahui perubahan kadar fortifikan sejak produksi, distribusi, hingga penyimpanan.
Baca juga: Ini Cara Pemerintah Jaga Beras Tetap Murah dan Petani Tetap Sejahtera
Hasil kajian tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi teknis bagi produsen.
“Dengan demikian, diharapkan penerapan beras fortifikasi dapat dilakukan secara konsisten dalam skala besar dan memberikan manfaat gizi bagi masyarakat,” ujar Puspo, dilansir dari laman resmi IPB University, Rabu (30/9/2026).
Menurut Puspo, teknologi yang digunakan untuk memasukkan zat gizi ke dalam beras turut menentukan ketahanannya selama penyimpanan maupun pengolahan.
Hal tersebut penting karena beras umumnya dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak. Proses pencucian dapat memengaruhi zat gizi tambahan, terutama jika fortifikan hanya berada di permukaan bulir beras.
Beberapa teknologi yang dapat digunakan dalam fortifikasi beras antara lain coating atau pelapisan, dusting atau penaburan, dan ekstrusi.
Puspo mengatakan, teknologi ekstrusi memiliki keunggulan karena fortifikan dapat dimasukkan ke dalam buliran beras sehingga lebih terlindungi dari faktor lingkungan seperti oksigen, cahaya, dan panas.
“Teknologi ekstrusi menghasilkan buliran yang fortifikannya sudah tercampur dan terlindungi. Ketika beras dicuci sebelum dimasak, kandungan fortifikan relatif lebih terjaga dibandingkan teknologi yang hanya melapisi permukaan beras,” ucapnya.
Sebaliknya, pada teknologi coating atau dusting, fortifikan berada di permukaan beras. Sebagian zat gizi tersebut berisiko larut dan terbuang bersama air cucian sebelum dikonsumsi.
Karena itu, menurut Puspo, pengembangan beras fortifikasi perlu mempertimbangkan kebiasaan konsumen dalam mengolah beras agar kandungan zat gizi yang ditambahkan tetap sesuai dengan standar setelah melalui proses pencucian dan pemasakan.
Selain proses pencucian, stabilitas zat gizi selama penyimpanan juga perlu diperhitungkan.
Puspo mengatakan, perbedaan stabilitas antarfortifikan dapat menyebabkan kadar vitamin dan mineral berubah selama masa penyimpanan. Karena itu, produsen perlu memiliki data mengenai perubahan kadar fortifikan pada setiap tahapan rantai pasok.
Baca juga: Dugaan Kejahatan di Balik Beras Fortifikasi
Pengujian juga perlu memperhatikan metode pengambilan sampel.
Menurut Puspo, rasio pencampuran fortifikan dengan beras dapat mencapai 1:100. Dengan rasio tersebut, sampel yang diambil harus mampu merepresentasikan keseluruhan produk.
“Kalau pencampurannya tidak merata dan sampelnya tidak representatif, hasil analisis dapat menggambarkan kondisi yang tidak sesuai dengan keseluruhan produk,” tutur Puspo.
Ia juga menilai penguatan ekosistem fortifikasi perlu mencakup akses produsen terhadap teknologi dan pembiayaan. Ketersediaan bahan fortifikan di dalam negeri juga perlu diperhatikan karena sebagian vitamin dan mineral masih bergantung pada impor.
Persoalan kualitas beras fortifikasi sebelumnya ditemukan Kementerian Pertanian melalui pemeriksaan terhadap 27 merek beras fortifikasi.
Dari pemeriksaan tersebut, sebanyak 25 produk dinyatakan tidak memenuhi persyaratan karena kandungan gizinya tidak sesuai dengan informasi yang tercantum pada label kemasan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman kemudian memerintahkan penarikan produk yang bermasalah dari peredaran.
Izin edar produk-produk tersebut juga akan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Beras fortifikasi sendiri merupakan beras yang ditambahkan mikronutrien berupa tiga vitamin, yakni vitamin B1, B9, dan B12, serta dua mineral, yaitu besi dan zink.
Penambahan besi ditujukan untuk membantu mengatasi dan menurunkan risiko anemia, sedangkan zink ditujukan untuk mendukung daya tahan tubuh dan pertumbuhan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya