Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi

Kompas.com, 30 September 2026, 12:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kualitas zat gizi pada beras fortifikasi dapat menurun selama penyimpanan dan proses pengolahan sebelum dikonsumsi.

Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena stabilitas setiap vitamin dan mineral yang ditambahkan ke dalam beras berbeda-beda. Akibatnya, sebagian zat gizi mungkin masih memenuhi standar, sementara komponen lain mengalami penurunan kadar.

Kepala Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) IPB University Puspo Edi Giriwono mengatakan, diperlukan kajian berbasis data untuk mengetahui perubahan kadar fortifikan sejak produksi, distribusi, hingga penyimpanan.

Baca juga: Ini Cara Pemerintah Jaga Beras Tetap Murah dan Petani Tetap Sejahtera

Hasil kajian tersebut kemudian dapat digunakan untuk menyusun rekomendasi teknis bagi produsen.

“Dengan demikian, diharapkan penerapan beras fortifikasi dapat dilakukan secara konsisten dalam skala besar dan memberikan manfaat gizi bagi masyarakat,” ujar Puspo, dilansir dari laman resmi IPB University, Rabu (30/9/2026).

Teknologi fortifikasi berpengaruh

Menurut Puspo, teknologi yang digunakan untuk memasukkan zat gizi ke dalam beras turut menentukan ketahanannya selama penyimpanan maupun pengolahan.

Hal tersebut penting karena beras umumnya dicuci terlebih dahulu sebelum dimasak. Proses pencucian dapat memengaruhi zat gizi tambahan, terutama jika fortifikan hanya berada di permukaan bulir beras.

Beberapa teknologi yang dapat digunakan dalam fortifikasi beras antara lain coating atau pelapisan, dusting atau penaburan, dan ekstrusi.

Puspo mengatakan, teknologi ekstrusi memiliki keunggulan karena fortifikan dapat dimasukkan ke dalam buliran beras sehingga lebih terlindungi dari faktor lingkungan seperti oksigen, cahaya, dan panas.

“Teknologi ekstrusi menghasilkan buliran yang fortifikannya sudah tercampur dan terlindungi. Ketika beras dicuci sebelum dimasak, kandungan fortifikan relatif lebih terjaga dibandingkan teknologi yang hanya melapisi permukaan beras,” ucapnya.

Sebaliknya, pada teknologi coating atau dusting, fortifikan berada di permukaan beras. Sebagian zat gizi tersebut berisiko larut dan terbuang bersama air cucian sebelum dikonsumsi.

Karena itu, menurut Puspo, pengembangan beras fortifikasi perlu mempertimbangkan kebiasaan konsumen dalam mengolah beras agar kandungan zat gizi yang ditambahkan tetap sesuai dengan standar setelah melalui proses pencucian dan pemasakan.

Perlu perhatikan penyimpanan dan pengujian

Selain proses pencucian, stabilitas zat gizi selama penyimpanan juga perlu diperhitungkan.

Puspo mengatakan, perbedaan stabilitas antarfortifikan dapat menyebabkan kadar vitamin dan mineral berubah selama masa penyimpanan. Karena itu, produsen perlu memiliki data mengenai perubahan kadar fortifikan pada setiap tahapan rantai pasok.

Baca juga: Dugaan Kejahatan di Balik Beras Fortifikasi

Pengujian juga perlu memperhatikan metode pengambilan sampel.

Menurut Puspo, rasio pencampuran fortifikan dengan beras dapat mencapai 1:100. Dengan rasio tersebut, sampel yang diambil harus mampu merepresentasikan keseluruhan produk.

“Kalau pencampurannya tidak merata dan sampelnya tidak representatif, hasil analisis dapat menggambarkan kondisi yang tidak sesuai dengan keseluruhan produk,” tutur Puspo.

Ia juga menilai penguatan ekosistem fortifikasi perlu mencakup akses produsen terhadap teknologi dan pembiayaan. Ketersediaan bahan fortifikan di dalam negeri juga perlu diperhatikan karena sebagian vitamin dan mineral masih bergantung pada impor.

25 dari 27 produk tak memenuhi persyaratan

Persoalan kualitas beras fortifikasi sebelumnya ditemukan Kementerian Pertanian melalui pemeriksaan terhadap 27 merek beras fortifikasi.

Dari pemeriksaan tersebut, sebanyak 25 produk dinyatakan tidak memenuhi persyaratan karena kandungan gizinya tidak sesuai dengan informasi yang tercantum pada label kemasan.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman kemudian memerintahkan penarikan produk yang bermasalah dari peredaran.

Izin edar produk-produk tersebut juga akan ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Beras fortifikasi sendiri merupakan beras yang ditambahkan mikronutrien berupa tiga vitamin, yakni vitamin B1, B9, dan B12, serta dua mineral, yaitu besi dan zink.

Penambahan besi ditujukan untuk membantu mengatasi dan menurunkan risiko anemia, sedangkan zink ditujukan untuk mendukung daya tahan tubuh dan pertumbuhan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau