KOMPAS.com - Saat hutan terbakar, dampak langsungnya sudah jelas: rumah-rumah hangus dilalap api dan habitat hancur. Namun, kerusakan akibat asap yang menyebar jauh melampaui area kebakaran tidak terlalu terlihat.
Sarah Meier, seorang ekonom lingkungan di ETH Zurich, mencoba untuk meneliti hal tersebut.
Melansir Phys, Senin (14/9/2026) setelah meneliti populasi burung di Amerika Serikat, ia menemukan jika suatu wilayah terdampak cukup parah oleh asap kebakaran pada tahun sebelumnya, keanekaragaman burung di wilayah tersebut menjadi lebih rendah pada musim kawin berikutnya.
Selain itu jika tingkat asap meningkat dari kondisi rata-rata tahunan menjadi kondisi dengan asap jauh lebih pekat, jumlah spesies turun sekitar 3 persen.
Baca juga: Studi: Kebakaran Hutan Kanada Bikin Puluhan Spesies Burung di New York Lebih Sulit Ditemukan
"Dampaknya memang tidak masif, namun tidak dapat diukur. Kita tidak pernah tahu spesies mana yang akan punah dan spesies mana yang sangat penting bagi ekosistem. Oleh karena itu, penurunan kecil sekalipun dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem," kata Meir.
Kebakaran hutan sering terjadi selama periode cuaca panas dan kekeringan. Oleh karena itu peneliti menerapkan metode ekonometrika, di mana peneliti memisahkan dampak asap dari faktor-faktor lainnya.
Mereka membandingkan wilayah yang sama selama bertahun-tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti cuaca, penggunaan lahan, dan perbedaan metode penghitungan populasi burung.
Selain itu, mereka memeriksa dua alasan yang paling masuk akal.
Pertama, berkurangnya jenis burung bisa jadi merupakan dampak langsung dari hancurnya tempat tinggal mereka. Namun, bahkan di jalur pengamatan yang tidak tersentuh api sama sekali dalam radius 5 kilometer, dampak dari kabut asap tetap terlihat.
Kedua, burung-burung mungkin hanya berpindah ke daerah tetangga untuk menghindari asap. Akan tetapi setelah para peneliti memperhitungkan perpindahan burung ke daerah sekitar dalam analisis mereka, penurunan jumlah jenis burung tetap terlihat jelas.
Studi ini belum mengungkapkan secara pasti apa yang sebenarnya terjadi pada burung-burung tersebut. Riset lain menunjukkan bahwa asap dapat melemahkan burung, yang berpotensi menyebabkan penurunan berat badan dan kerusakan saluran pernapasan. Perilaku mereka saat musim berkembang biak juga bisa berubah.
Bagi Meier, temuan studi ini mempertegas dampak kebakaran hutan yang sangat sulit diukur dalam penilaian kerusakan tradisional. Burung menjalankan fungsi penting dalam banyak ekosistem. Mereka menyebarkan benih tanaman, membantu penyerbukan bunga, dan mengendalikan hama.
Baca juga: Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Penurunan keanekaragaman jenis burung dapat memengaruhi spesies hewan dan tumbuhan lain serta pada akhirnya berdampak pada sektor-sektor seperti pertanian dan kehutanan.
Studi ini sengaja tidak menghitung besarnya kerugian ekonomi yang disebabkan oleh berkurangnya jenis burung. Meier memilih untuk berfokus membuktikan dampak-dampak tersebut secara pasti dan terpercaya terlebih dahulu.
"Untuk bangunan yang terbakar, kita bisa menghitung biaya kerusakannya dengan cukup mudah. Namun untuk keanekaragaman hayati, urusannya jauh lebih rumit," kata Meier.
"Ada dampak-dampak lain dari kebakaran hutan yang selama ini hampir tidak kita perhitungkan, padahal hal tersebut berdampak nyata bagi masyarakat," tambahnya.
Penelitian dipublikasikan dalam Journal of Environmental Economics and Management.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya