KOMPAS.com - Riset terbaru dari PwC menemukan bahwa perbedaan tingkat kemahiran kecerdasan buatan (AI) di kalangan pekerja tengah menciptakan jurang pemisah baru di dunia kerja. Sebagian besar pekerja bahkan mengaku mulai tertinggal dari rekan kerja mereka yang lebih paham teknologi.
Melansir ESG Dive, Kamis (1/10/2026) firma akuntansi Big Four tersebut membagi pekerja ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat keterampilan AI mereka.
Baca juga: PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Front-runners (14 persen) merupakan kelompok teratas yang memiliki kemampuan AI sangat kuat, AI Insurgents (18 persen) yaitu pengguna aktif dengan keterampilan AI tingkat menengah atau umum.
Kemudian Indispensables (11 persen) yaitu pekerja dengan keahlian penting lain, tetapi lambat dalam mempelajari AI. Dan terakhir adalah Engine Room (56 persen) yang merupakan kelompok terbesar di posisi terbawah, yaitu pekerja tanpa keahlian khusus yang juga belum banyak belajar tentang AI.
Pete Brown, pemimpin Global Workforce di PwC, mendesak para pemberi kerja untuk memberi perhatian lebih kepada kelompok terbawah (engine room), karena merekalah yang menjalankan operasional harian perusahaan.
"Ada risiko nyata bahwa tenaga kerja global mulai bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda," ungkapnya dalam laporan tersebut.
PwC menggelar survei Global Workforce Hopes and Fears Survey 2026 pada bulan Mei dan Juni lalu dengan melibatkan 49.364 pekerja dari 48 negara di 29 sektor bisnis.
Pembagian kelompok AI tersebut memperlihatkan munculnya jurang pemisah antara si "mampu" dan si "tidak mampu". Kelompok teratas tampak memetik manfaat dari kemahiran AI mereka, sebanyak 29 persen di antaranya berencana pindah kerja tahun depan dan merasa sangat percaya diri dengan keamanan posisi mereka.
Baca juga: UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Sebaliknya, mayoritas pekerja di kelompok terbawah menjadi kelompok yang paling tidak merasa siap untuk beradaptasi, dan hanya separuh dari mereka yang merasa yakin akan keamanan pekerjaannya.
Temuan ini memperkuat laporan PwC yang dirilis Juni lalu mengenai munculnya pasar kerja dua jalur. Pasar kerja ini memberikan keuntungan besar bagi profesi tertentu yang membutuhkan keahlian khusus manusia, dibandingkan dengan pekerjaan rutin yang kini bisa dilakukan oleh orang awam dengan bantuan AI.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya