Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20

Kompas.com, 5 Oktober 2026, 17:18 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University mengembangkan bahan bakar nabati melalui proses fermentasi biomassa yang mengandung pati, gula, atau selulosa atau bioetanol multifeedstock.

‎Dalam pengembangan bioetanol multifeedstock, Agrinas Palma dan IPB University berupaya memastikan berbagai bahan baku yang direncanakan sudah tersedia, seperti singkong, sorgum, dan jagung. Lebih dari sekadar membangun pabrik, pengembangan bioetanol multifeedstock juga akan dilakukan dengan menggunakan teknologi yang tepat, rantai pasok terintegrasi, dan produk akhirnya mampu bersaing secara komersial.

‎Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pengembangan bioetanol multifeedstock perlu ditempatkan sebagai ekosistem dari hulu hingga hilir.

Agrinas Palma telah melakukan pemetaan lahan dan menyiapkan roadmap pengembangan multifeedstock.

Dalam roadmap tersebut, Agrinas Palma menargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan untuk singkong, sorgum, dan jagung, dengan kapasitas produksi bioetanol sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun pada 2029.

Baca juga: Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol

‎“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Abdul Ghani dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).

‎Wakil Rektor I IPB, Deni Noviana mengatakan, kebijakan strategis perlu dibangun di atas scientific base dan kompetensi lintas fakultas. Pengembangan bioetanol tidak cukup dikaji dari satu sisi karena menyangkut pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan aspek sosial.

‎“Kami berharap forum ini menghasilkan kajian berbasis data dan rekomendasi yang jelas, termasuk bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah,” tutur Deni.

‎Di dalam Focus Group Discussion (FGD) 'Produksi, Pengolahan dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol Berbahan Jagung, Sorgum, dan Singkong' pada Sabtu (3/10/2026), Agrinas Palma bersama IPB University menyepakati delapan arah penting.

‎Pertama, bioetanol merupakan agenda strategis nasional untuk menekan impor energi dan mendukung target net zero emission (NZE) 2060. Kedua, keberlanjutan pasokan menjadi kunci, mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen.

‎Ketiga, lokus bioetanol perlu dibedakan dari lokus pangan agar tidak terjadi persaingan harga. Keempat, kesesuaian komoditas dan lokasi harus divalidasi melalui uji lapangan karena setiap tanaman memiliki kebutuhan lingkungan dan teknologi budidaya yang berbeda. Kelima, desain industri harus mengintegrasikan on-farm dan off-farm sebagai satu rantai nilai.

Baca juga: Tak Pakai Tebu, Pertamina Akan Kembangkan Bioetanol dari Sorgum

‎Keenam, kawasan industri perlu membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk ketersediaan enzim, agar tidak bergantung pada pasokan dari luar kawasan. Ketujuh, bioetanol diarahkan untuk kompetitif dan dikembangkan tanpa ketergantungan subsidi. Kedelapan, IPB siap menindaklanjuti penyusunan Feasibility Study (FS) terintegrasi, termasuk pendampingan lapangan pada aspek on-farm dan off-farm.

‎Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Suryo Wiyono mengatakan, kolaborasi lintas disiplin dibutuhkan agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada gagasan.

Fakultas Pertanian IPB University memiliki berbagai inovasi dan kompetensi yang bisa dikolaborasikan untuk mendukung pengembangan bioetanol. Mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi, ekonomi, serta model pengembangan yang dapat menghasilkan keluaran konkret dan terukur.

‎Fakultas Pertanian IPB University memiliki berbagai inovasi dan siap berkolaborasi untuk mendukung program ini agar dapat dikembangkan secara produktif dan berkelanjutan.

Baca juga: Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?

‎“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik," ucapnya.

‎FGD yang menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama antara Agrinas Palma dan Pertamina ini menempatkan kemitraan masyarakat sebagai bagian penting dalam desain pengembangan. Skema kemitraan sekitar 10–20 persen dari produksi dibahas sebagai salah satu opsi, termasuk kemungkinan integrasi dengan peternakan dan penyediaan hijauan pakan.

‎Dengan kebutuhan bioetanol yang diproyeksikan sekitar 7 juta kiloliter untuk mendukung implementasi E20 atau pencampuran 20 persen bioetanol ke bensin, maka seluruh fondasi proyek harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan ekonomis. Jadi, bukan sekadar langkah memperbesar kapasitas. Bagi Agrinas Palma, transisi energi tidak hanya berbicara tentang energi, melainkan juga tentang petani, lahan, teknologi, industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

‎Pilot project bioetanol sorgum 

‎Pertamina telah mengembangkan proyek percontohan (pilot project) bahan bakar nabati yang dihasilkan dari fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga saat ini, bioetanol yang diproduksi Pertamina masih memakai bahan baku berbasis molase atau tetes tebu. Pertamina sedang melakukan kajian untuk diversifikasi bahan baku selain dari tebu. Pertamina menganggap aren dan sorgum sudah memenuhi spesifikasi untuk menjadi bahan bakar nabati untuk dicampur ke bensin.

‎"Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting," ujar Manager Sustainability Rating & Disclosure PT Pertamina (Persero), Hendrick Warman dalam webinar Our Power; Our Planet, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?

‎Bioetanol dari molase tebu dan sorgum yang dicampurkan ke bensin bisa meningkatkan kualitas bahan bakar. Bioetanol yang dicampurkan ke Pertamax akan membuat nilai research octane number (RON)-nya semakin tinggi dan mengurangi jejak karbonnya.

‎Pertamina mencampurkan 5 persen bioetanol ke dalam bensin yang terimplementasi melalui produk Pertamax Green 95. "95 berarti RON-nya adalah 95, di atas Pertamax, di bawah Pertamax Turbo yang 98. Campurannya 5 persen bioetanol dan saat ini baru dijual di DKI Jakarta dan di Surabaya," tutur Hendrick.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau