KOMPAS.com - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University mengembangkan bahan bakar nabati melalui proses fermentasi biomassa yang mengandung pati, gula, atau selulosa atau bioetanol multifeedstock.
Dalam pengembangan bioetanol multifeedstock, Agrinas Palma dan IPB University berupaya memastikan berbagai bahan baku yang direncanakan sudah tersedia, seperti singkong, sorgum, dan jagung. Lebih dari sekadar membangun pabrik, pengembangan bioetanol multifeedstock juga akan dilakukan dengan menggunakan teknologi yang tepat, rantai pasok terintegrasi, dan produk akhirnya mampu bersaing secara komersial.
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pengembangan bioetanol multifeedstock perlu ditempatkan sebagai ekosistem dari hulu hingga hilir.
Agrinas Palma telah melakukan pemetaan lahan dan menyiapkan roadmap pengembangan multifeedstock.
Dalam roadmap tersebut, Agrinas Palma menargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan untuk singkong, sorgum, dan jagung, dengan kapasitas produksi bioetanol sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun pada 2029.
Baca juga: Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Abdul Ghani dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).
Wakil Rektor I IPB, Deni Noviana mengatakan, kebijakan strategis perlu dibangun di atas scientific base dan kompetensi lintas fakultas. Pengembangan bioetanol tidak cukup dikaji dari satu sisi karena menyangkut pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan aspek sosial.
“Kami berharap forum ini menghasilkan kajian berbasis data dan rekomendasi yang jelas, termasuk bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah,” tutur Deni.
Di dalam Focus Group Discussion (FGD) 'Produksi, Pengolahan dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol Berbahan Jagung, Sorgum, dan Singkong' pada Sabtu (3/10/2026), Agrinas Palma bersama IPB University menyepakati delapan arah penting.
Pertama, bioetanol merupakan agenda strategis nasional untuk menekan impor energi dan mendukung target net zero emission (NZE) 2060. Kedua, keberlanjutan pasokan menjadi kunci, mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen.
Ketiga, lokus bioetanol perlu dibedakan dari lokus pangan agar tidak terjadi persaingan harga. Keempat, kesesuaian komoditas dan lokasi harus divalidasi melalui uji lapangan karena setiap tanaman memiliki kebutuhan lingkungan dan teknologi budidaya yang berbeda. Kelima, desain industri harus mengintegrasikan on-farm dan off-farm sebagai satu rantai nilai.
Baca juga: Tak Pakai Tebu, Pertamina Akan Kembangkan Bioetanol dari Sorgum
Keenam, kawasan industri perlu membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk ketersediaan enzim, agar tidak bergantung pada pasokan dari luar kawasan. Ketujuh, bioetanol diarahkan untuk kompetitif dan dikembangkan tanpa ketergantungan subsidi. Kedelapan, IPB siap menindaklanjuti penyusunan Feasibility Study (FS) terintegrasi, termasuk pendampingan lapangan pada aspek on-farm dan off-farm.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University, Suryo Wiyono mengatakan, kolaborasi lintas disiplin dibutuhkan agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada gagasan.
Fakultas Pertanian IPB University memiliki berbagai inovasi dan kompetensi yang bisa dikolaborasikan untuk mendukung pengembangan bioetanol. Mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi, ekonomi, serta model pengembangan yang dapat menghasilkan keluaran konkret dan terukur.
Fakultas Pertanian IPB University memiliki berbagai inovasi dan siap berkolaborasi untuk mendukung program ini agar dapat dikembangkan secara produktif dan berkelanjutan.
“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik," ucapnya.
FGD yang menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama antara Agrinas Palma dan Pertamina ini menempatkan kemitraan masyarakat sebagai bagian penting dalam desain pengembangan. Skema kemitraan sekitar 10–20 persen dari produksi dibahas sebagai salah satu opsi, termasuk kemungkinan integrasi dengan peternakan dan penyediaan hijauan pakan.
Dengan kebutuhan bioetanol yang diproyeksikan sekitar 7 juta kiloliter untuk mendukung implementasi E20 atau pencampuran 20 persen bioetanol ke bensin, maka seluruh fondasi proyek harus dapat dibuktikan secara ilmiah dan ekonomis. Jadi, bukan sekadar langkah memperbesar kapasitas. Bagi Agrinas Palma, transisi energi tidak hanya berbicara tentang energi, melainkan juga tentang petani, lahan, teknologi, industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Pertamina telah mengembangkan proyek percontohan (pilot project) bahan bakar nabati yang dihasilkan dari fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga saat ini, bioetanol yang diproduksi Pertamina masih memakai bahan baku berbasis molase atau tetes tebu. Pertamina sedang melakukan kajian untuk diversifikasi bahan baku selain dari tebu. Pertamina menganggap aren dan sorgum sudah memenuhi spesifikasi untuk menjadi bahan bakar nabati untuk dicampur ke bensin.
"Saat ini, kami bergerak ke (arah) bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, dengan emisi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar eksisting," ujar Manager Sustainability Rating & Disclosure PT Pertamina (Persero), Hendrick Warman dalam webinar Our Power; Our Planet, Jumat (24/4/2026).
Bioetanol dari molase tebu dan sorgum yang dicampurkan ke bensin bisa meningkatkan kualitas bahan bakar. Bioetanol yang dicampurkan ke Pertamax akan membuat nilai research octane number (RON)-nya semakin tinggi dan mengurangi jejak karbonnya.
Pertamina mencampurkan 5 persen bioetanol ke dalam bensin yang terimplementasi melalui produk Pertamax Green 95. "95 berarti RON-nya adalah 95, di atas Pertamax, di bawah Pertamax Turbo yang 98. Campurannya 5 persen bioetanol dan saat ini baru dijual di DKI Jakarta dan di Surabaya," tutur Hendrick.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya