SURABAYA, KOMPAS.com - Pohon-pohon mangga berusia puluhan tahun tumbuh rindang di antara rumah-rumah warga di sebuah permukiman dekat Universitas Hayam Wuruk, Surabaya.
Kawasan yang berdiri sejak 1980-an itu kini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang bagi warga untuk menjalankan berbagai praktik ramah lingkungan.
Dari halaman rumah hingga fasilitas bersama di tingkat rukun warga (RW), warga mencoba mengurangi sampah sekaligus memanfaatkan kembali sumber daya yang masih bisa digunakan.
Baca juga: Transaksi Langkah Membumi Naik Dua Kali Lipat, Minat Produk Ramah Lingkungan Menguat
Sampah organik dari dapur diolah menggunakan biopori dan komposter galon Takakura. Sementara sampah anorganik dipilah, minyak jelantah dikumpulkan, dan air bekas aktivitas rumah tangga diupayakan untuk digunakan kembali.
Kebiasaan tersebut berjalan berdampingan dengan urban farming, budidaya ikan lele, hingga pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF).
Bagi warga, berbagai kegiatan itu bukan berdiri sendiri. Semuanya perlahan membentuk siklus pengelolaan lingkungan yang dilakukan dari rumah dan lingkungan sekitar.
Di tingkat rumah tangga, warga mulai belajar mengenali jenis sampah organik yang bisa masuk ke komposter dan mana yang sebaiknya dipisahkan.
Kader lingkungan setempat, Setyo, misalnya, mengingatkan warga untuk tidak memasukkan nasi ke dalam komposter karena dapat memicu bau.
Sisa tulang dan cangkang telur juga dipisahkan. Cangkang telur yang sulit terurai perlu ditumbuk hingga halus sebelum dimanfaatkan sebagai bahan pupuk tanaman.
Namun, belum semua jenis sampah organik dapat dikelola dengan cara yang sama.
Sisa kuah makanan, misalnya, masih dibuang ke selokan karena belum tersedia pengolahan yang sesuai.
"Ada yang masih bertahan kuat untuk tumbuh, ada yang langsung layu. Saya pernah menyaksikan, kuah bekas menggodok daging itu bisa malah membuat subur bagi beberapa tanaman. Tapi, ketika sudah diolah, enggak kuat," ujar Setyo, Selasa (29/9/2026).
Sementara itu, minyak jelantah dikumpulkan dalam wadah terpisah di rumah masing-masing untuk kemudian disetorkan ke Bank Sampah.
Tokoh penggerak lingkungan setempat, Ilyas, mengatakan sampah organik dapur lainnya dipilah dan dikeringkan terlebih dahulu sebelum diolah dengan menambahkan air cucian beras sebagai aktivator.
Baca juga: Studi: Banyak Kantor Enggan Terapkan Makan Siang Ramah Lingkungan
Daun-daun kering yang dikumpulkan warga setiap pagi juga tidak dibakar. Sampah tersebut dimasukkan ke dalam biopori dan diaktivasi menggunakan air lindi agar terurai menjadi pupuk.
Upaya mengelola sampah organik kemudian berlanjut ke budidaya maggot BSF di area Balai RW.
Maggot dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik, terutama sisa makanan seperti nasi, sayuran, dan kulit buah. Hasil budidaya tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele.
"Yang paling bagus itu sebetulnya kalau di maggot kita hindari minyak, supaya mungkin untuk mengurangi bau juga. Jadi kalau bisa itu makanan basi seperti nasi, terus sayur, buah, kulit-kulit buah," tutur Ilyas.
Warga kemudian memanfaatkan maggot sebagai bagian dari budidaya lele. Ke depan, pengurus lingkungan berencana mengembangkan sistem peternakan organik berlapis.
Dalam konsep tersebut, ayam akan dipelihara di bagian atas kandang. Kotorannya akan masuk ke wadah maggot, sedangkan maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele di kolam bagian bawah.
Warga juga menyiapkan pelatihan mengenai kebersihan dan pengelolaan kandang untuk mengantisipasi bau dari kotoran ayam maupun maggot.
Namun, sistem tersebut masih menghadapi tantangan. Suhu udara yang terlalu panas membuat fase prepupa maggot mengalami kesulitan untuk melanjutkan proses perkembangbiakan.
Pengelolaan sampah organik kemudian terhubung dengan aktivitas urban farming warga.
Berbagai tanaman, mulai dari tomat, cabai, kangkung hingga tanaman obat keluarga (toga), ditanam di lahan-lahan yang tersedia di sekitar rumah.
Air dari kolam lele juga tidak langsung dibuang. Air yang belum dikuras selama sekitar sebulan dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair untuk tanaman.
Dengan cara tersebut, sisa dari satu kegiatan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya.
Praktik ramah lingkungan juga diterapkan di fasilitas umum, termasuk masjid di kawasan tersebut.
Masjid memiliki sejumlah sumur biopori berukuran besar yang dimanfaatkan untuk mengelola limbah dari penyembelihan hewan kurban.
Baca juga: UE Tindak Tegas 27 Negara Anggota Soal Aturan Bangunan Ramah Lingkungan
Menjelang Idul Adha, isi sumur dikuras dan dimasukkan ke dalam karung agar tidak meluber ketika digunakan untuk membilas area penyembelihan.
Limbah tersebut kemudian dicampur dengan dedaunan kering dan dibiarkan selama sekitar satu tahun hingga terurai menjadi kompos.
Dengan cara ini, limbah penyembelihan tidak langsung dialirkan ke sungai atau selokan.
Konsep ramah lingkungan juga diterapkan pada penggunaan energi dan air di masjid.
Lampu bertenaga surya dipasang di empat hingga lima titik penerangan. Pengurus juga membangun sistem penampungan air hujan yang dialirkan ke tandon bawah tanah berkapasitas sekitar lima meter kubik.
Air bekas wudu jamaah juga ditampung dan diproses melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Setelah melalui proses penyaringan, air tersebut dimanfaatkan kembali untuk menyiram pepohonan di halaman masjid.
Untuk memantau kondisi air di tandon, pengurus bahkan memelihara ikan lele sebagai bioindikator.
"Kita mau masjid ini juga jadi *green building*. Ke depannya kita mau tanami sayur-sayur di polibag-polibag itu. Kami tanami itu sambil merangkul anak-anak remaja masjid," ujar Ilyas.
Pengurus kawasan tersebut juga berencana mengembangkan sistem IPAL masjid dalam skala komunal untuk permukiman. Salah satu yang dipertimbangkan adalah penambahan penyaring khusus untuk menangkap minyak dan lemak.
Tidak semua persoalan sampah telah teratasi. Kapasitas tempat penampungan Bank Sampah yang terbatas membuat warga menyimpan sampah anorganik, seperti kardus dan botol plastik, di rumah masing-masing.
Pengumpulan dilakukan secara bersama-sama pada setiap tanggal 10 berdasarkan kesepakatan antarwarga.
Sebagian sampah anorganik terpilah juga diberikan kepada petugas gerobak yang mengangkut residu menuju tempat penampungan sementara (TPS).
Warga bahkan telah memisahkan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) rumah tangga, seperti baterai, lampu bekas, dan peralatan elektronik yang rusak. Pengurus Balai RW menyediakan wadah khusus agar sampah tersebut tidak bercampur dengan jenis sampah lainnya.
Baca juga: eMaggot, Platform Jual Beli Online Maggot untuk Pengolahan Sampah
Namun, persoalan lain masih tersisa, salah satunya popok sekali pakai.
"Itu yang paling susah popok. Pengelolaannya bagaimana caranya? Pengumpulannya juga susah," kata Ilyas.
Karena itu, perjalanan kawasan tersebut menjadi kampung ramah lingkungan masih berlangsung.
Warga tidak hanya mencoba mengurangi sampah yang berakhir di TPS, tetapi juga membangun kebiasaan agar sampah dan air yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari dapat kembali dimanfaatkan.
Dari komposter di halaman rumah, maggot di Balai RW, lele di kolam, tanaman di pekarangan, hingga biopori di lingkungan masjid, upaya tersebut perlahan membentuk satu siklus pengelolaan lingkungan berbasis warga.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk Wahana Visi Indonesia (WVI), turut membantu warga mengembangkan berbagai praktik tersebut. Namun, fondasi utamanya tetap berada pada kebiasaan warga yang dilakukan setiap hari di lingkungan tempat mereka tinggal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya