KOMPAS.com - Studi terbaru dari King's College London dan Stanford University menunjukkan bahwa jumlah karyawan justru meningkat ketika perusahaan mulai mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Namun, peningkatan ini terjadi karena perusahaan lebih banyak merekrut pekerja senior, sementara posisi junior justru berkurang.
Melansir Phys, Rabu (7/10/2026) riset yang menganalisis dampak AI terhadap tenaga kerja secara internasional ini menemukan bahwa penggunaan AI di tingkat perusahaan memicu kenaikan jumlah total perekrutan karyawan sebesar 3,3 persen. Meskipun jumlah pekerja posisi senior melonjak hingga 6,7 persen, posisi untuk pekerja junior justru merosot sebesar 2,5 persen.
Baca juga: AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
Penelitian ini menganalisis 1,25 miliar lowongan kerja dan 158 juta profil pekerja di 41 negara dari tahun 2016 hingga 2021.
Para peneliti menemukan setelah menerapkan AI generatif, permintaan perusahaan terhadap tenaga ahli senior serta pekerja di bidang komputer dan matematika meningkat pesat, sementara porsi untuk peran junior mengalami penurunan.
Dalam studi ini, sebuah perusahaan dikategorikan telah mengadopsi AI jika lowongan kerja mereka secara eksplisit mewajibkan pelamar untuk menggunakan AI generatif dalam pekerjaan sehari-hari.
Sebagian besar penelitian sebelumnya mengenai AI generatif dan pasar kerja hanya berfokus pada satu negara, sehingga sulit untuk membandingkan hasilnya antarnegara. Dengan menggunakan metode yang sama di 41 negara, para peneliti berhasil menemukan pola yang serupa tentang bagaimana perusahaan-perusahaan beradaptasi dengan AI.
Baca juga: PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
"Sangat sulit untuk memprediksi secara pasti pekerjaan apa yang akan digantikan atau dibantu oleh teknologi baru. Meskipun studi ini belum sepenuhnya menjawab pertanyaan itu, riset ini memberikan gambaran jelas tentang bagaimana perusahaan mengubah struktur tenaga kerja mereka setelah mengadopsi AI generatif," jelas Klein Teeselink dari King's College London.
"Kami menemukan pola yang mirip di berbagai pasar kerja yakni perusahaan cenderung mempekerjakan lebih sedikit pekerja junior dan lebih banyak pekerja senior setelah menggunakan AI," katanya lagi.
"Ini adalah studi global pertama di bidangnya. Hasilnya menunjukkan bahwa AI generatif mengubah komposisi jenis pekerjaan di dalam perusahaan, bukan mengurangi jumlah total karyawan. Yang menarik, tren ini terjadi secara global, mulai dari Amerika Serikat, Brasil, hingga Arab Saudi," tambah Bharat Chandar dari Stanford University.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya