Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah

Kompas.com, 8 Oktober 2026, 07:50 WIB
Bambang P. Jatmiko

Penulis

WONOGIRI, KOMPAS.com - Coca-Cola Indonesia turut memperkuat tata kelola sumber daya air di masyarakat melalui pembangunan infrastruktur penampungan dan resapan air di sejumlah daerah yang menghadapi persoalan ketersediaan air.

Public Affairs and Communication Director PT Coca-Cola Indonesia yang juga Ketua Coca-Cola Foundation Triyono Prijosoesilo mengatakan, upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan perusahaan yang salah satu fokus utamanya adalah pengelolaan air.

“Di Coca-Cola karena kita paham bahwa kita menggunakan air sebagai salah satu sumber bahan baku, kita juga harus bisa melakukan kegiatan yang mendorong ke arah pengelolaan sumber daya air yang lebih baik,” ujar Triyono di sela-sela peresmian perluasan manfaat Embung Doho, Girimarto, Wonogiri, Rabu (8/10/2026).

Baca juga: Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?

Menurut dia, salah satu pendekatan yang dilakukan adalah membantu masyarakat di wilayah yang mengalami kekurangan air, terutama pada musim kemarau.

Salah satunya melalui pembangunan embung yang berfungsi menampung air hujan pada musim penghujan untuk kemudian dimanfaatkan saat musim kemarau, termasuk untuk kebutuhan irigasi pertanian.

Triyono mengatakan, pembangunan embung tidak hanya ditujukan untuk menyediakan air, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam pengelolaan infrastrukturnya.

Seperti halnya di Wonogiri, lahan untuk embung disediakan oleh pemerintah desa. Selanjutnya, pengelolaan embung dilakukan oleh desa dan masyarakat setempat, dan COca Cola membantu menyediakan akses teknologi dan pengembangannya.

“Komitmen dari masyarakatnya juga penting. Masyarakat berkomitmen bahwa pada waktu kita bangun ini, mereka akan mengelola dengan baik,” katanya.

Tak hanya embung

Selain embung, Coca-Cola juga mengembangkan pendekatan lain berupa pembangunan sumur resapan berukuran sekitar 2 meter x 2 meter x 2 meter.

Berbeda dengan embung yang digunakan untuk mendukung kebutuhan irigasi, sumur resapan ditujukan untuk membantu menjaga ketersediaan air tanah.

Menurut Triyono, sumur resapan ditempatkan antara lain di wilayah hulu atau daerah dengan ketinggian tertentu yang mengalami persoalan berkurangnya debit mata air.

Air hujan yang tertampung kemudian dibiarkan meresap ke dalam tanah. Dengan cara tersebut, air yang sebelumnya langsung mengalir ke wilayah bawah dapat lebih banyak masuk kembali ke dalam tanah.

Triyono mengatakan, pendekatan tersebut telah diterapkan di sejumlah lokasi dan menurut pemantauan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Salah satunya berupa debit mata air yang lebih terjaga dan kemudian dapat dimanfaatkan masyarakat maupun perusahaan daerah air minum (PDAM) setempat.

Baca juga: Krisis Air Bersih di Tana Toraja, Warga Numpang Mandi ke Kampung Sebelah

“Yang kita lihat di beberapa titik itu sudah memberikan manfaat. Mata air yang tadinya kalau musim kemarau kering sekarang bisa debitnya stabil dimanfaatkan oleh masyarakat, bahkan dimanfaatkan oleh PDAM lokal,” ujarnya.

Saat ini, Coca-Cola telah membangun enam embung di sejumlah daerah, antara lain Wonogiri, Pacitan, Gunung Kidul, serta Nusa Tenggara Timur.

Triyono mengatakan, perusahaan masih mengevaluasi pengembangan infrastruktur serupa di lokasi lain.

Menurut dia, keberlanjutan program tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan air, tetapi juga kesiapan masyarakat untuk mengelola infrastruktur yang dibangun.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau