KOMPAS.com-Kerugian ekonomi akibat emisi karbon diperkirakan bisa mencapai hingga empat kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, sementara kenaikan permukaan air laut global dipastikan akan terus terjadi hingga berabad-abad mendatang.
Laporan bertajuk 10 New Insights in Climate Science 2026/2027 mengungkapkan bahwa suhu Bumi pada tahun 2025 tercatat lebih hangat sekitar 1,43 derajat C dibanding era pra-industri.
Pada saat yang sama, aktivitas manusia menghasilkan rekor emisi karbon dioksida (CO2) tertinggi dari bahan bakar fosil dan semen, yaitu sebanyak 38,1 miliar ton.
Melansir Down to Earth, Rabu (7/10/2026) laporan ini mengompilasi bukti ilmiah terbaru untuk mengidentifikasi 10 perkembangan penting mulai dari perubahan iklim fisik, ketahanan air, sistem pangan, ekonomi karbon, hingga geopolitik.
Dekade 2015 hingga 2025 menjadi periode 11 tahun terpanas dalam sejarah. Konsentrasi CO2 di atmosfer pada 2025 telah naik 53 persen dibanding era pra-industri. Sayangnya, janji penurunan emisi dari negara-negara dunia saat ini baru mencapai 12 persen pada 2035, sangat jauh dari target 55 persen yang dibutuhkan untuk menahan pemanasan di angka 1,5 derajat C.
Baca juga: Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
“Bukti ilmiah sudah sangat jelas bahwa 1,5 derajat C adalah ambang batas yang melahirkan risiko besar jika kita lewati. Di luar batas itu, risiko dampak iklim yang beruntun dan tidak dapat dipulihkan akan makin meningkat. Setiap kenaikan 0,1 derajat C akan membuat dampaknya makin parah,” tegas Johan Rockström, Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research.
Laporan tersebut mencatat bahwa suhu panas samudra kembali memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut pada 2025. Lautan menyerap lebih dari 90 persen kelebihan panas di Bumi, dan butuh waktu sekitar 25 tahun bagi panas tersebut untuk meresap dari permukaan hingga kedalaman 2.000 meter. Artinya, sebagian dari pemanasan laut saat ini sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa dibatalkan.
Kecepatan kenaikan permukaan air laut global telah melonjak dua kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Jika kebijakan iklim saat ini terus berlanjut hingga 2050, air laut diproyeksikan akan naik 30 cm pada tahun 2300.
Jika pola ini dibiarkan hingga 2090, kenaikan air laut bisa mencapai 80 cm. Namun, jika kita menerapkan pemangkasan emisi yang ketat sesuai Perjanjian Paris, kita bisa mencegah kenaikan sebesar 600 milimeter dari total risiko tersebut.
Laporan ini juga memperkirakan bahwa gletser di dunia bisa kehilangan hingga 39 persen massanya yang akan menyumbang sekitar 113 milimeter kenaikan air laut dalam jangka panjang, bahkan tanpa adanya pemanasan tambahan.
Jika pemanasan terus berlanjut, sumbangannya bisa melonjak hingga 230 milimeter. Padahal, sekitar satu miliar orang di dunia saat ini tinggal di wilayah pesisir dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut.
Laporan ini menyoroti kekeringan daratan sebagai risiko iklim lain yang dampaknya makin cepat. Sekitar tiga perempat penduduk dunia kini tinggal di 101 negara yang terus kehilangan cadangan air bersih sejak tahun 2002.
Baca juga: Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Penilaian global yang dicantumkan dalam laporan menemukan bahwa konsumsi air oleh manusia telah melebihi batas ketersediaan yang aman sebesar 458 kilometer kubik per tahun.
Angka ini setara dengan total pemakaian air tahunan di Amerika Serikat atau India. Kesenjangan pasokan air ini diperkirakan akan naik sekitar 6 persen pada pemanasan suhu 1,5 derajat C dan membengkak hingga 15 persen pada pemanasan 3 derajat C.
Asia Selatan menjadi wilayah paling kritis akibat irigasi yang berlebihan. Sungai Gangga, Sabarmati, dan Indus termasuk dalam wilayah yang mengalami penyusutan air tanah secara drastis di tengah melonjaknya permintaan air.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya