Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak

Kompas.com, 9 Oktober 2026, 20:41 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Angka kejadian obesitas pada anak dan remaja melonjak empat kali lipat sejak tahun 1990. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlahnya naik dari 2 persen menjadi sekitar 8 persen pada kelompok usia 5 hingga 19 tahun.

Melansir laman resmi United Nations, Rabu (7/10/2026) pada tahun 2024, terdapat sekitar 170 juta anak dan remaja yang hidup dengan obesitas, termasuk 70 juta anak usia 5–9 tahun dan sekitar 100 juta remaja usia 10–19 tahun.

WHO mendefinisikan obesitas sebagai penyakit kronis yang dapat kambuh kembali akibat penumpukan lemak berlebih, tetapi tetap bisa dikendalikan melalui perawatan yang efektif.

Risiko yang dihadapi

WHO memperingatkan, anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas menghadapi risiko medis maupun sosial sejak usia dini.

Baca juga: Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim

Anak yang menghadapi masalah kesehatan dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Kemudian masalah mental dan sosial juga bisa dihadapi anak, di mana akan meningkatkan risiko stigma, diskriminasi, serta perundungan yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental.

Dalam pedoman barunya, WHO sangat merekomendasikan perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, dan intervensi perubahan perilaku.

Sementara itu WHO menyebut obat penurun berat badan sebagai pilihan terakhir.

WHO tidak merekomendasikan penggunaan obat-obatan, operasi potong lambung (bariatric surgery), maupun alat penurun berat badan pada anak usia 0–9 Tahun.

Sedangkan pada remaja Usia 10–19 Tahun, penggunaan obat yang telah disetujui seperti terapi GLP-1 hanya boleh dipertimbangkan jika program perubahan gaya hidup di bawah pengawasan dokter gagal membuahkan hasil. Operasi potong lambung pun hanya dipertimbangkan dalam kondisi medis yang sangat parah.

“Pondasi utama penanganan obesitas pada anak dan remaja bukanlah obat atau operasi, melainkan akses ke dukungan menyeluruh yang memungkinkan pola makan sehat, aktivitas fisik, serta perubahan perilaku yang berkelanjutan,” tegas Dr. Luz María De Regil, Direktur Departemen Nutrisi dan Keamanan Pangan WHO.

Menjaga kesehatan mental dan semangat

Rekomendasi baru ini juga menekankan pentingnya menangani kesehatan mental bersamaan dengan penanganan obesitas, karena masalah mental bisa menjadi penyebab sekaligus dampak dari obesitas itu sendiri.

Rasa cemas, depresi, rasa percaya diri yang rendah, serta kesulitan mengendalikan emosi dapat memicu kebiasaan makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.

Di sisi lain, anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas sering kali menghadapi perundungan dan prasangka buruk yang merusak kondisi emosional mereka.

Baca juga: Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang

Pedoman ini menegaskan bahwa penanganan obesitas tidak boleh hanya berfokus pada penurunan berat badan, melainkan harus bertujuan meningkatkan kesehatan, fungsi tubuh, dan kesejahteraan hidup secara keseluruhan terutama dengan menyesuaikan kebutuhan tiap anak dan memastikan pendampingan jangka panjang.

Di saat yang sama, WHO mengakui bahwa perawatan medis saja tidak cukup untuk menghentikan lonjakan kasus obesitas. Perubahan sistemik secara menyeluruh sangat diperlukan.

WHO mendesak adanya kebijakan yang membuat makanan sehat dan aktivitas fisik lebih mudah diakses serta terjangkau oleh semua orang. Hal ini mencakup aturan hukum, kebijakan pajak, hingga aksi nyata di sektor pendidikan, tata kota, transportasi, dan perlindungan sosial.

“Prioritas kita haruslah memastikan bahwa setiap anak dan remaja mendapatkan perawatan yang berkualitas serta lingkungan yang mendukung sejak dini. Ini penting untuk membantu mereka mencapai dan mempertahankan berat badan sehat, sekaligus membangun fondasi bagi kesehatan mereka seumur hidup,” tegas Dr. De Regil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau