KOMPAS.com - Sebanyak 52 dari 67 ikan yang jenis kelaminnya teridentifikasi dalam sensus di Kali Surabaya pada September 2026 berjenis kelamin betina.
Temuan ini memunculkan perhatian terhadap kemungkinan ketimpangan rasio kelamin ikan yang dapat memengaruhi keberlangsungan reproduksi populasi ikan di perairan tersebut.
Sensus yang dilakukan ECOTON bersama PT Petrokimia Gresik pada 12–13 September 2026 itu menemukan 71 ikan dari sejumlah jenis, antara lain jendil, bader merah, bader putih, rengkik, palung, nilem atau muntho, dan muraganting.
Dari 67 ikan yang jenis kelaminnya telah terdokumentasi, sebanyak 52 ekor atau 77,6 persen merupakan betina, sedangkan 15 ekor atau 22,4 persen merupakan jantan.
Baca juga: IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
Ikan jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan, dengan 35 ekor betina dan delapan ekor jantan.
Meski demikian, hasil sensus tersebut belum dapat menggambarkan rasio kelamin seluruh populasi ikan di Kali Surabaya.
Pengamatan dilakukan pada waktu dan lokasi tertentu, sehingga diperlukan pemantauan lanjutan untuk mengetahui apakah pola serupa terjadi secara konsisten.
Guru Besar Departemen Budidaya Perairan IPB University, Alimuddin, mengatakan ketimpangan rasio kelamin dapat memengaruhi keberhasilan reproduksi ikan apabila berlangsung terus-menerus.
Menurut dia, salah satu faktor yang perlu diteliti adalah paparan senyawa pengganggu endokrin atau endocrine-disrupting chemicals (EDC), yakni bahan kimia yang dapat mengganggu sistem hormon organisme.
Senyawa tersebut, termasuk sejumlah bahan yang memiliki aktivitas menyerupai estrogen, berpotensi memengaruhi proses diferensiasi kelamin pada ikan.
Selain paparan bahan kimia, Alimuddin juga menyebut kondisi lingkungan, seperti tingkat keasaman air dan perubahan suhu selama perkembangan larva, dapat memengaruhi diferensiasi kelamin pada spesies tertentu.
Namun, untuk memastikan penyebab ketimpangan rasio kelamin di Kali Surabaya, diperlukan pengujian kualitas air dan sedimen serta kajian terhadap ikan yang ditemukan.
“Dominasi populasi betina yang ekstrem berdampak signifikan terhadap keberlangsungan spesies lokal jika terjadi terus-menerus,” ujar Alimuddin, dilansir dari laman resmi IPB University, Selasa (13/10/2026).
Alimuddin menjelaskan, dampak ketimpangan rasio kelamin terhadap populasi ikan bergantung pada karakteristik spesies, termasuk sistem perkawinannya.
Salah satu risikonya adalah keterbatasan jumlah sperma untuk membuahi telur atau sperm limitation. Jika jumlah ikan jantan terlalu sedikit dibandingkan betina, peluang keberhasilan pembuahan dapat menurun, bergantung pada pola reproduksi masing-masing spesies.
Ketimpangan tersebut juga berpotensi mengurangi variasi genetik apabila jumlah individu yang berkontribusi terhadap reproduksi semakin terbatas.
Dalam kondisi tertentu, perkawinan sekerabat dapat meningkatkan risiko munculnya masalah genetik dan menurunkan kemampuan populasi menghadapi penyakit maupun perubahan lingkungan.
Baca juga: Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Risiko lainnya berkaitan dengan keberhasilan pemijahan dan perawatan telur. Pada spesies yang membutuhkan pejantan untuk menjaga telur, berkurangnya jumlah ikan jantan dapat meningkatkan kerentanan telur terhadap predator.
Untuk menilai kondisi ekosistem Kali Surabaya, Alimuddin menyarankan pemantauan senyawa pengganggu endokrin, termasuk etinilestradiol, pestisida, dan ftalat, pada air maupun sedimen. Pemetaan titik sumber pencemar juga diperlukan untuk mengidentifikasi lokasi yang perlu mendapat perhatian.
Ia juga mendorong evaluasi baku mutu air agar mempertimbangkan senyawa yang berpotensi mengganggu sistem hormon, disertai pengawasan terhadap pembuangan limbah cair industri.
Selain itu, pengelola lingkungan dapat mempertimbangkan peningkatan teknologi pengolahan air limbah, termasuk teknologi pengolahan tingkat lanjut dan lahan basah buatan (constructed wetlands) yang dirancang untuk membantu mengurangi pencemar.
Alimuddin turut menyarankan agar penebaran kembali benih ikan atau restocking ditunda sampai kualitas air dinilai membaik.
Menurut dia, pemulihan populasi ikan perlu disertai perbaikan kondisi habitat. Tanpa pengendalian sumber pencemar dan pemantauan kualitas air, penambahan ikan belum tentu menyelesaikan persoalan yang dihadapi ekosistem perairan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya