KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan strategi lima tahun untuk pusat pemantauan pandemiknya, dengan target agar setiap negara mampu mendeteksi dan memahami ancaman kesehatan baru dalam waktu 24 jam sejak kemunculannya pada tahun 2030.
Strategi untuk Pemantauan Pandemi dan Epidemik WHO ini diumumkan pada pembukaan KTT Kesehatan Dunia (World Health Summit) di Berlin pada tanggal 12 Oktober 2026.
Melansir Down to Earth, Rabu (13/10/2026) WHO menyatakan bahwa deteksi yang lebih cepat merupakan kunci utama dalam keamanan kesehatan global, yang membantu berbagai negara meredam wabah sebelum berkembang menjadi epidemi yang lebih besar atau menyebar secara internasional.
Baca juga: WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemantauan yang berpusat di Berlin ini dibentuk pada tahun 2021 dengan dukungan dari pemerintah Jerman setelah pandemi COVID-19 mengungkap berbagai celah dalam cara negara-negara mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan baru.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa pusat tersebut telah menjadi bagian penting dari sistem keamanan kesehatan global lima tahun setelah didirikan.
"Strategi barunya memetakan jalan yang jelas menuju tahun 2030, menyatukan pemerintah dan para mitra dalam satu tujuan bersama: dunia di mana setiap negara dapat merespons ancaman kesehatan secara cepat sebelum berubah menjadi krisis besar," ujarnya.
WHO menyatakan pusat tersebut telah bekerja sama dengan 160 negara anggota, 190 organisasi mitra, serta ribuan ilmuwan dan pembuat kebijakan.
Pekerjaannya meliputi mendeteksi ancaman epidemi, mengurai susunan genetika(sequencing) dan mengenali kuman penyebab penyakit, serta mendukung tindakan cepat untuk melindungi masyarakat.
Di bawah strategi baru ini, pusat tersebut akan berfokus pada lima program prioritas. Di antaranya adalah pemantauan wabah dari sumber terbuka.
Pemantauan ini akan menggunakan kecerdasan buatan untuk memindai ribuan sumber data publik secara real-time setiap hari guna mendeteksi tanda-tanda awal ancaman kesehatan.
Sistem ini melibatkan lebih dari 4.000 ahli dan telah digunakan lebih dari 125 negara anggota serta 30 organisasi regional dan internasional.
Fokus kedua adalah jaringan pengawasan patogen internasional. Ini bertujuan memperkuat kemampuan berbagai negara dalam menganalisis kuman penyakit, sehingga mempercepat pembuatan alat tes, pengobatan, dan vaksin.
Selanjutnya adalah program yang fokus pada kolaborasi di mana akan menghubungkan lebih dari 2.000 ahli pemodelan dan sains data yang siap dikerahkan saat ancaman kesehatan baru muncul.
Baca juga: Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Prioritas lain adalah inisiatif pengawasan kolaboratif yang diterapkan di lebih dari 83 negara untuk membantu lembaga nasional dan tenaga kesehatan mendeteksi ancaman melalui pendekatan "Satu Kesehatan" (One Health), yang memperhatikan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Terakhir adalah inisiatif penggerak digital untuk pemantauan kesehatan masyarakat. Inisiatif ini akan mengembangkan sistem digital yang aman untuk membantu negara dan mitra dalam membagikan, menganalisis, serta memanfaatkan data, sekaligus mendukung penggunaan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab.
WHO menyatakan untuk mencapai target strategi ini, diperlukan investasi yang berkelanjutan, kerja sama yang dilandasi kepercayaan, serta kolaborasi yang kuat lintas sektor dan negara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya