Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 16:00 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meluncurkan strategi lima tahun untuk pusat pemantauan pandemiknya, dengan target agar setiap negara mampu mendeteksi dan memahami ancaman kesehatan baru dalam waktu 24 jam sejak kemunculannya pada tahun 2030.

Strategi untuk Pemantauan Pandemi dan Epidemik WHO ini diumumkan pada pembukaan KTT Kesehatan Dunia (World Health Summit) di Berlin pada tanggal 12 Oktober 2026.

Melansir Down to Earth, Rabu (13/10/2026) WHO menyatakan bahwa deteksi yang lebih cepat merupakan kunci utama dalam keamanan kesehatan global, yang membantu berbagai negara meredam wabah sebelum berkembang menjadi epidemi yang lebih besar atau menyebar secara internasional.

Baca juga: WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi

Pemantauan yang berpusat di Berlin ini dibentuk pada tahun 2021 dengan dukungan dari pemerintah Jerman setelah pandemi COVID-19 mengungkap berbagai celah dalam cara negara-negara mendeteksi dan merespons ancaman kesehatan baru.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa pusat tersebut telah menjadi bagian penting dari sistem keamanan kesehatan global lima tahun setelah didirikan.

"Strategi barunya memetakan jalan yang jelas menuju tahun 2030, menyatukan pemerintah dan para mitra dalam satu tujuan bersama: dunia di mana setiap negara dapat merespons ancaman kesehatan secara cepat sebelum berubah menjadi krisis besar," ujarnya.

WHO menyatakan pusat tersebut telah bekerja sama dengan 160 negara anggota, 190 organisasi mitra, serta ribuan ilmuwan dan pembuat kebijakan.

Pekerjaannya meliputi mendeteksi ancaman epidemi, mengurai susunan genetika(sequencing) dan mengenali kuman penyebab penyakit, serta mendukung tindakan cepat untuk melindungi masyarakat.

Di bawah strategi baru ini, pusat tersebut akan berfokus pada lima program prioritas. Di antaranya adalah pemantauan wabah dari sumber terbuka.

Pemantauan ini akan menggunakan kecerdasan buatan untuk memindai ribuan sumber data publik secara real-time setiap hari guna mendeteksi tanda-tanda awal ancaman kesehatan.

Sistem ini melibatkan lebih dari 4.000 ahli dan telah digunakan lebih dari 125 negara anggota serta 30 organisasi regional dan internasional.

Fokus kedua adalah jaringan pengawasan patogen internasional. Ini bertujuan memperkuat kemampuan berbagai negara dalam menganalisis kuman penyakit, sehingga mempercepat pembuatan alat tes, pengobatan, dan vaksin.

Selanjutnya adalah program yang fokus pada kolaborasi di mana akan menghubungkan lebih dari 2.000 ahli pemodelan dan sains data yang siap dikerahkan saat ancaman kesehatan baru muncul.

Baca juga: Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak

Prioritas lain adalah inisiatif pengawasan kolaboratif yang diterapkan di lebih dari 83 negara untuk membantu lembaga nasional dan tenaga kesehatan mendeteksi ancaman melalui pendekatan "Satu Kesehatan" (One Health), yang memperhatikan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Terakhir adalah inisiatif penggerak digital untuk pemantauan kesehatan masyarakat. Inisiatif ini akan mengembangkan sistem digital yang aman untuk membantu negara dan mitra dalam membagikan, menganalisis, serta memanfaatkan data, sekaligus mendukung penggunaan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab.

WHO menyatakan untuk mencapai target strategi ini, diperlukan investasi yang berkelanjutan, kerja sama yang dilandasi kepercayaan, serta kolaborasi yang kuat lintas sektor dan negara.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau