KOMPAS.com-Prospek bagi perempuan untuk menduduki posisi eksekutif tertinggi (C-suite) masih kurang menggembirakan, menurut analisis data dari lembaga 50/50 Women on Board.
Analisis kuartal kedua (Q2) menunjukkan bahwa perempuan menduduki 29,2 persen kursi dewan direksi di perusahaan publik di Amerika Serikat yang terdaftar dalam indeks Russell 3000, turun dari 30,1 persen pada tahun sebelumnya.
Melansir ESG Dive, Rabu (13/10/2026) laporan sebelumnya dari 50/50 Women on Boards bersama Equilar menyatakan bahwa pada kuartal pertama (Q1) tahun lalu, keterwakilan perempuan di dewan direksi Russell 3000 berada di angka 30,4 persen, sebelum akhirnya turun menjadi 29,9 persen pada Q1 tahun ini.
Baca juga: Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Meskipun sebagian besar kursi dewan yang baru didapatkan perempuan berasal dari posisi baru, hanya 13,8 persen perempuan yang baru ditunjuk tersebut menggantikan posisi laki-laki di dewan direksi.
Temuan ini memperkuat laporan bersama sebelumnya dari perusahaan tersebut dan Equilar, yang mengindikasikan bahwa keterwakilan perempuan di dewan direksi perusahaan Russell 3000 sedang mengalami penurunan. CEO perusahaan tersebut menyarankan agar tren ini dijadikan peringatan keras bagi dunia kerja.
Seiring berlanjutnya penurunan tahunan ini, Heather Spilsbury, CEO 50/50 Women on Boards, membunyikan alarm peringatan.
"Riset ini adalah seruan untuk bertindak," kata Spilsbury dalam sebuah pernyataan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan perusahaan seperti 50/50 Women on Boards bertindak sebagai jembatan yang mempertemukan para petinggi perusahaan dengan kandidat perempuan berkualitas tinggi, sekaligus memperbaiki sistem kaderisasi pemimpin agar regenerasi kepemimpinan lebih adil.
Tim HR di perusahaan pun harus turun tangan mengatasi kesenjangan ini dengan memberikan dukungan nyata seperti fasilitas, pelatihan, atau perangkat kerja yang terbukti masih dikeluhkan kurang oleh 1 dari setiap 3 perempuan pekerja.
Masalah minimnya perempuan di dewan direksi bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena kurangnya akses dan dukungan sistemik dari tempat kerja.
Berdasarkan survei dari HiBob, hanya 36 persen perempuan yang mendapatkan dukungan untuk memberikan kinerja terbaik dari perusahaan mereka. Sementara hanya 28 persen yang merasa pemberi kerja secara aktif mendukung mereka. HiBob juga menyoroti bahwa kesempatan mentoring bagi perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki.
Baca juga: Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Para pengelola SDM dan manajer sebenarnya melihat sendiri di depan mata bagaimana perempuan perlahan-lahan tersisih atau gagal bertahan dalam jenjang karier korporat.
Laporan dari lembaga riset terkemuka LeanIn.org dan McKinsey & Co. memprediksi bahwa jika tren perusahaan mengurangi fokus pada keberagaman dibiarkan terus, dunia kerja di Amerika Serikat bisa kehilangan seluruh pencapaian kesetaraan gender yang sudah dirintis sebelumnya, membuat situasinya kembali seperti di masa lalu.
Masalah penurunan jumlah perempuan di dewan direksi bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kemunduran sistemik yang lebih besar di seluruh tingkat korporat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya