Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 17:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com-Prospek bagi perempuan untuk menduduki posisi eksekutif tertinggi (C-suite) masih kurang menggembirakan, menurut analisis data dari lembaga 50/50 Women on Board.

Analisis kuartal kedua (Q2) menunjukkan bahwa perempuan menduduki 29,2 persen kursi dewan direksi di perusahaan publik di Amerika Serikat yang terdaftar dalam indeks Russell 3000, turun dari 30,1 persen pada tahun sebelumnya.

Melansir ESG Dive, Rabu (13/10/2026) laporan sebelumnya dari 50/50 Women on Boards bersama Equilar menyatakan bahwa pada kuartal pertama (Q1) tahun lalu, keterwakilan perempuan di dewan direksi Russell 3000 berada di angka 30,4 persen, sebelum akhirnya turun menjadi 29,9 persen pada Q1 tahun ini.

Baca juga: Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan

Meskipun sebagian besar kursi dewan yang baru didapatkan perempuan berasal dari posisi baru, hanya 13,8 persen perempuan yang baru ditunjuk tersebut menggantikan posisi laki-laki di dewan direksi.

Temuan ini memperkuat laporan bersama sebelumnya dari perusahaan tersebut dan Equilar, yang mengindikasikan bahwa keterwakilan perempuan di dewan direksi perusahaan Russell 3000 sedang mengalami penurunan. CEO perusahaan tersebut menyarankan agar tren ini dijadikan peringatan keras bagi dunia kerja.

Seiring berlanjutnya penurunan tahunan ini, Heather Spilsbury, CEO 50/50 Women on Boards, membunyikan alarm peringatan.

"Riset ini adalah seruan untuk bertindak," kata Spilsbury dalam sebuah pernyataan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan perusahaan seperti 50/50 Women on Boards bertindak sebagai jembatan yang mempertemukan para petinggi perusahaan dengan kandidat perempuan berkualitas tinggi, sekaligus memperbaiki sistem kaderisasi pemimpin agar regenerasi kepemimpinan lebih adil.

Tim HR di perusahaan pun harus turun tangan mengatasi kesenjangan ini dengan memberikan dukungan nyata seperti fasilitas, pelatihan, atau perangkat kerja yang terbukti masih dikeluhkan kurang oleh 1 dari setiap 3 perempuan pekerja.

Masalah minimnya perempuan di dewan direksi bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena kurangnya akses dan dukungan sistemik dari tempat kerja.

Berdasarkan survei dari HiBob, hanya 36 persen perempuan yang mendapatkan dukungan untuk memberikan kinerja terbaik dari perusahaan mereka. Sementara hanya 28 persen yang merasa pemberi kerja secara aktif mendukung mereka. HiBob juga menyoroti bahwa kesempatan mentoring bagi perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki.

Baca juga: Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia

Para pengelola SDM dan manajer sebenarnya melihat sendiri di depan mata bagaimana perempuan perlahan-lahan tersisih atau gagal bertahan dalam jenjang karier korporat.

Laporan dari lembaga riset terkemuka LeanIn.org dan McKinsey & Co. memprediksi bahwa jika tren perusahaan mengurangi fokus pada keberagaman dibiarkan terus, dunia kerja di Amerika Serikat bisa kehilangan seluruh pencapaian kesetaraan gender yang sudah dirintis sebelumnya, membuat situasinya kembali seperti di masa lalu.

Masalah penurunan jumlah perempuan di dewan direksi bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kemunduran sistemik yang lebih besar di seluruh tingkat korporat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau