KOMPAS.com - Sebuah studi yang dipimpin oleh Centre for Global Wood Security secara resmi mendefinisikan konsep keamanan kayu global dan mengidentifikasi 20 tantangan terbesar bagi keamanan kayu pada abad ke-21.
Melansir Phys, Rabu (16/10/2026) para penulis mendesak masyarakat internasional untuk menyejajarkan keamanan kayu dengan keamanan pangan, energi, dan air sebagai tantangan besar masyarakat di abad ke-21.
Publikasi tersebut ditulis oleh 41 ahli dari 23 lembaga di 12 negara, dan diterbitkan dalam jurnal Trends Open.
Studi ini mendefinisikan keamanan kayu sebagai penyediaan layanan ekosistem yang berkelanjutan dalam jangka panjang melalui pemanfaatan, pemulihan, dan konservasi hutan.
Penulis utama studi ini, Dr. Christopher Bousfield dari Universitas Sheffield yang juga mantan anggota kelompok Ekologi dan Konservasi Tropis di Cambridge mengatakan, hutan menghadapi berbagai macam tekanan dalam beberapa dekade mendatang, mulai dari persaingan lahan dan perubahan iklim hingga maraknya penebangan kayu liar.
"Melalui penetapan konsep keamanan kayu dan penilaian masalah utamanya, kami berharap dapat memicu penelitian dan aksi kolaboratif yang diperlukan untuk mengatasi berbagai tekanan rumit ini," katanya.
Baca juga: Kemenhut: Kayu Hanyutan Banjir hanya Bisa Dimanfaatkan untuk Rehabilitasi Pascabencana
Profesor David Edwards, kepala bidang Ekologi dan Konservasi Tropis di Universitas Cambridge sekaligus penulis senior penelitian tersebut juga mengatakan hal serupa.
Menurutnya pemahaman tentang keamanan kayu global masih tertinggal jika dibandingkan dengan keamanan pangan.
"Melalui kerja sama tim ahli keamanan kayu yang besar ini, kami berhasil menyoroti berbagai tantangan mendesak yang membutuhkan perhatian berkelanjutan dari sektor kehutanan, penelitian, dan kebijakan. Tujuannya adalah untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan jangka panjang sistem hutan serta berbagai manfaat yang kita peroleh darinya," paparnya.
Hutan saat ini menutupi sekitar sepertiga daratan di Bumi. Hutan menyimpan banyak sekali karbon yang menyerap hampir separuh dari emisi bahan bakar fosil tahunan sekaligus menjadi tempat tinggal bagi sebagian besar keanekaragaman hayati di darat.
Produksi kayu merupakan pilar penting dalam ekonomi global yang menghasilkan sekitar 1,5 triliun dolar AS setiap tahunnya, di mana sekitar sepertiga dari total hutan di dunia dikelola untuk produksi kayu.
Namun, permintaan kayu dunia diperkirakan akan melonjak antara 50 persen hingga 200 persen pada tahun 2050. Peningkatan ini dipicu oleh pertumbuhan populasi yang cepat, urbanisasi yang meluas, serta pergeseran tren masyarakat yang beralih menggunakan kayu sebagai alternatif pengganti baja dan beton yang rendah karbon dalam dunia konstruksi.
Baca juga: Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir
Lonjakan permintaan ini dikhawatirkan akan memperparah tekanan yang sudah ada pada ekosistem hutan, seperti deforestasi, kerusakan hutan, konflik penggunaan lahan, serta risiko perubahan iklim yang semakin parah.
Untuk mengatasi ancaman-ancaman baru ini, tim penulis mengadakan workshop pada Mei 2025 guna mengidentifikasi, menilai, dan memeringkat masalah-masalah paling mendesak yang dihadapi hutan global saat ini maupun di masa depan, dengan menggunakan metode pemindaian horison Delphi yang telah dimodifikasi.
Studi kemudian membagi 20 tantangan utama ke dalam lima tema besar yakni pengelolaan hutan, konservasi, dan perubahan penggunaan lahan; perubahan iklim dan mitigasinya; kebijakan dan tata kelola; pemantauan dan teknologi; serta yang terakhir inovasi, perdagangan, dan ekonomi sirkular.
Beberapa isu utama yang disoroti meliputi mengatasi perebutan lahan global antara industri kehutanan, pertanian, dan konservasi alam; mengurangi risiko kebakaran hutan dan cuaca ekstrem yang semakin parah; serta memperkuat tata kelola hukum dan hak atas tanah masyarakat adat.
Baca juga: PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Mengatasi tantangan kelangkaan kayu
Makalah ini menekankan bahwa untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, diperlukan kerja sama antardisiplin yang mendesak dan berkelanjutan antara peneliti akademis, pelaku industri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pembuat kebijakan, dan masyarakat lokal.
Banyak dari tantangan yang diidentifikasi memiliki solusi yang saling melengkapi. Contohnya, meningkatkan daur ulang kayu dan sirkularitas rantai pasok, membuat produk kayu lebih tahan lama, serta mengoptimalkan hasil panen hutan tanaman industri dapat membantu memenuhi permintaan kayu tanpa menambah tekanan pada hutan alam primer.
Selain itu, kemajuan teknologi penginderaan jarak jauh yang dipadukan dengan data pemantauan lapangan jangka panjang dapat meningkatkan kemampuan kita dalam melacak perdagangan kayu ilegal dan memantau pemulihan hutan.
Pada akhirnya, studi ini menjadi ajakan untuk bertindak bersama secara lintas sektor, dengan menekankan bahwa memastikan keamanan kayu global sangat penting untuk menjaga kesehatan bumi, mengatasi perubahan iklim, dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dunia.
sumber https://phys.org/news/2026-10-wood-global-agenda-outline-core.html
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya