Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peneliti Soroti Tantangan untuk Kelestarian dan Pasokan Kayu Global

Kompas.com, 28 Oktober 2026, 11:35 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber phys

KOMPAS.com - Sebuah studi yang dipimpin oleh Centre for Global Wood Security secara resmi mendefinisikan konsep keamanan kayu global dan mengidentifikasi 20 tantangan terbesar bagi keamanan kayu pada abad ke-21.

Melansir Phys, Rabu (16/10/2026) para penulis mendesak masyarakat internasional untuk menyejajarkan keamanan kayu dengan keamanan pangan, energi, dan air sebagai tantangan besar masyarakat di abad ke-21.

Publikasi tersebut ditulis oleh 41 ahli dari 23 lembaga di 12 negara, dan diterbitkan dalam jurnal Trends Open.

Studi ini mendefinisikan keamanan kayu sebagai penyediaan layanan ekosistem yang berkelanjutan dalam jangka panjang melalui pemanfaatan, pemulihan, dan konservasi hutan.

Penulis utama studi ini, Dr. Christopher Bousfield dari Universitas Sheffield yang juga mantan anggota kelompok Ekologi dan Konservasi Tropis di Cambridge mengatakan, hutan menghadapi berbagai macam tekanan dalam beberapa dekade mendatang, mulai dari persaingan lahan dan perubahan iklim hingga maraknya penebangan kayu liar.

"Melalui penetapan konsep keamanan kayu dan penilaian masalah utamanya, kami berharap dapat memicu penelitian dan aksi kolaboratif yang diperlukan untuk mengatasi berbagai tekanan rumit ini," katanya.

Baca juga: Kemenhut: Kayu Hanyutan Banjir hanya Bisa Dimanfaatkan untuk Rehabilitasi Pascabencana

Profesor David Edwards, kepala bidang Ekologi dan Konservasi Tropis di Universitas Cambridge sekaligus penulis senior penelitian tersebut juga mengatakan hal serupa.

Menurutnya pemahaman tentang keamanan kayu global masih tertinggal jika dibandingkan dengan keamanan pangan.

"Melalui kerja sama tim ahli keamanan kayu yang besar ini, kami berhasil menyoroti berbagai tantangan mendesak yang membutuhkan perhatian berkelanjutan dari sektor kehutanan, penelitian, dan kebijakan. Tujuannya adalah untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan jangka panjang sistem hutan serta berbagai manfaat yang kita peroleh darinya," paparnya.

Meningkatnya tekanan pada ekosistem hutan

Hutan saat ini menutupi sekitar sepertiga daratan di Bumi. Hutan menyimpan banyak sekali karbon yang menyerap hampir separuh dari emisi bahan bakar fosil tahunan sekaligus menjadi tempat tinggal bagi sebagian besar keanekaragaman hayati di darat.

Produksi kayu merupakan pilar penting dalam ekonomi global yang menghasilkan sekitar 1,5 triliun dolar AS setiap tahunnya, di mana sekitar sepertiga dari total hutan di dunia dikelola untuk produksi kayu.

Namun, permintaan kayu dunia diperkirakan akan melonjak antara 50 persen hingga 200 persen pada tahun 2050. Peningkatan ini dipicu oleh pertumbuhan populasi yang cepat, urbanisasi yang meluas, serta pergeseran tren masyarakat yang beralih menggunakan kayu sebagai alternatif pengganti baja dan beton yang rendah karbon dalam dunia konstruksi.

Baca juga: Norwegia Suntik Bantuan, Tanjabtim Hijaukan 475 Hektar Hutan dan Benteng Pesisir

Lonjakan permintaan ini dikhawatirkan akan memperparah tekanan yang sudah ada pada ekosistem hutan, seperti deforestasi, kerusakan hutan, konflik penggunaan lahan, serta risiko perubahan iklim yang semakin parah.

Untuk mengatasi ancaman-ancaman baru ini, tim penulis mengadakan workshop pada Mei 2025 guna mengidentifikasi, menilai, dan memeringkat masalah-masalah paling mendesak yang dihadapi hutan global saat ini maupun di masa depan, dengan menggunakan metode pemindaian horison Delphi yang telah dimodifikasi.

Studi kemudian membagi 20 tantangan utama ke dalam lima tema besar yakni pengelolaan hutan, konservasi, dan perubahan penggunaan lahan; perubahan iklim dan mitigasinya; kebijakan dan tata kelola; pemantauan dan teknologi; serta yang terakhir inovasi, perdagangan, dan ekonomi sirkular.

Beberapa isu utama yang disoroti meliputi mengatasi perebutan lahan global antara industri kehutanan, pertanian, dan konservasi alam; mengurangi risiko kebakaran hutan dan cuaca ekstrem yang semakin parah; serta memperkuat tata kelola hukum dan hak atas tanah masyarakat adat.

Baca juga: PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global

Mengatasi tantangan kelangkaan kayu

Makalah ini menekankan bahwa untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, diperlukan kerja sama antardisiplin yang mendesak dan berkelanjutan antara peneliti akademis, pelaku industri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), pembuat kebijakan, dan masyarakat lokal.

Banyak dari tantangan yang diidentifikasi memiliki solusi yang saling melengkapi. Contohnya, meningkatkan daur ulang kayu dan sirkularitas rantai pasok, membuat produk kayu lebih tahan lama, serta mengoptimalkan hasil panen hutan tanaman industri dapat membantu memenuhi permintaan kayu tanpa menambah tekanan pada hutan alam primer.

Selain itu, kemajuan teknologi penginderaan jarak jauh yang dipadukan dengan data pemantauan lapangan jangka panjang dapat meningkatkan kemampuan kita dalam melacak perdagangan kayu ilegal dan memantau pemulihan hutan.

Pada akhirnya, studi ini menjadi ajakan untuk bertindak bersama secara lintas sektor, dengan menekankan bahwa memastikan keamanan kayu global sangat penting untuk menjaga kesehatan bumi, mengatasi perubahan iklim, dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dunia.

sumber https://phys.org/news/2026-10-wood-global-agenda-outline-core.html

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30
Aktivitas Pertambangan Ancam Target Konservasi Global 30x30
Pemerintah
Peneliti Soroti Tantangan untuk Kelestarian dan Pasokan Kayu Global
Peneliti Soroti Tantangan untuk Kelestarian dan Pasokan Kayu Global
Pemerintah
Menjaga Keandalan Listrik di Tengah Transisi Energi Indonesia
Menjaga Keandalan Listrik di Tengah Transisi Energi Indonesia
BrandzView
Lonjakan Permintaan Tembaga Akibat EV-Pusat Data di Masa Depan, RI Punya Peluang Besar
Lonjakan Permintaan Tembaga Akibat EV-Pusat Data di Masa Depan, RI Punya Peluang Besar
Pemerintah
Isu Perubahan Iklim Perlu Diintegrasikan ke dalam PAUD Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Isu Perubahan Iklim Perlu Diintegrasikan ke dalam PAUD Sesuai Tahap Perkembangan Anak
LSM/Figur
Disinformasi Perubahan Iklim Berpotensi Jadi Ancaman Baru Kesehatan Publik
Disinformasi Perubahan Iklim Berpotensi Jadi Ancaman Baru Kesehatan Publik
Pemerintah
Reaktor Kecil Makin Dilirik, Lebih dari 35 Negara Jajaki Pengembangan Nuklir
Reaktor Kecil Makin Dilirik, Lebih dari 35 Negara Jajaki Pengembangan Nuklir
Pemerintah
Program PLTS 100 GWp Bukan Hanya Soal Membangun Pembangkit Listrik
Program PLTS 100 GWp Bukan Hanya Soal Membangun Pembangkit Listrik
LSM/Figur
Korban Jiwa Perempuan dan Anak dalam Perang Sipil Naik Dua Kali Lipat Sejak 2021
Korban Jiwa Perempuan dan Anak dalam Perang Sipil Naik Dua Kali Lipat Sejak 2021
Pemerintah
Bappenas Perkuat Penilaian SDGs Action Awards, Soroti Praktik Baik Berdampak Nyata
Bappenas Perkuat Penilaian SDGs Action Awards, Soroti Praktik Baik Berdampak Nyata
Pemerintah
Menyusuri Perjalanan 5 Dekade Mitsubishi Power Menerangi Nusantara
Menyusuri Perjalanan 5 Dekade Mitsubishi Power Menerangi Nusantara
BrandzView
Tak Hanya Pembangkit, Transisi Energi juga Butuh Jaringan dan Penyimpanan Daya
Tak Hanya Pembangkit, Transisi Energi juga Butuh Jaringan dan Penyimpanan Daya
Pemerintah
CSO Global Tunjukkan Optimisme Terhadap Tren Keberlanjutan Dunia
CSO Global Tunjukkan Optimisme Terhadap Tren Keberlanjutan Dunia
Pemerintah
LinkedIn: Akses Perempuan terhadap Karier Hijau Masih Terbatas
LinkedIn: Akses Perempuan terhadap Karier Hijau Masih Terbatas
Pemerintah
Krisis Asia-Pasifik Meningkat, UNDP Dorong Keamanan Berbasis Pembangunan
Krisis Asia-Pasifik Meningkat, UNDP Dorong Keamanan Berbasis Pembangunan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau