KOMPAS.com - Sebanyak 63 persen pimpinan bidang keberlanjutan (CSO) perusahaan-perusahaan besar menyatakan dalam survei terbaru Forum Ekonomi Dunia (WEF) bahwa kemajuan keberlanjutan global kemungkinan besar akan bertahan stabil atau berakselerasi dalam satu tahun ke depan.
Menurut survei tersebut, tiga perempat responden juga memperkirakan bahwa investasi perusahaan yang berkaitan dengan transisi hijau akan tetap stabil atau meningkat dalam periode yang sama.
Temuan tersebut disimpulkan setelah WEF menyurvei 189 pimpinan dan menerima 103 tanggapan dalam rentang waktu antara 10 Februari hingga 18 Maret.
Melansir ESG Dive, Kamis (22/10/2026) sebagian besar responden (85 persen), memperkirakan bahwa adaptasi terhadap dampak fisik perubahan iklim dan alam pada operasional, infrastruktur, serta rantai pasok akan menjadi fokus global yang lebih besar.
Selain itu, 77 persen responden menyatakan bahwa investasi dari sektor swasta akan berperan krusial dalam memperluas upaya adaptasi tersebut.
"Kondisi bisnis saat ini ditandai oleh pertumbuhan yang lebih lambat, perpecahan politik, gangguan teknologi, serta risiko iklim dan alam yang semakin nyata," tulis Sebastian Buckup, direktur pelaksana Pusat Alam dan Iklim WEF.
Baca juga: AI Dorong Efisiensi dan Keberlanjutan Industri Manufaktur
Menurutnya, kondisi ini membuat fokus transisi keberlanjutan telah bergeser menjadi sebuah peluang bisnis yang menguntungkan.
Pandangan ini juga dibagikan oleh para pimpinan keberlanjutan. Sebanyak 64 persen responden menyatakan bahwa pendorong terbesar bagi kemajuan keberlanjutan global dalam tiga tahun ke depan adalah semakin kuatnya alasan bisnis untuk menjalankan langkah-langkah keberlanjutan.
Marisa Drew, Chief Sustainability Officer Standard Chartered mengungkapkan lingkungan geopolitik dan ekonomi yang sulit ini membuat perusahaan semakin fokus pada hal-hal yang membuat keberlanjutan itu bertahan.
Selain alasan bisnis yang lebih kuat, lebih dari separuh responden survei (56 persen) menyebutkan bahwa biaya teknologi keberlanjutan yang lebih murah dan ketersediaannya yang semakin luas akan menjadi pendorong utama kemajuan dalam tiga tahun ke depan.
Sementara itu, 50 persen responden memilih peningkatan kerja sama antar perusahaan di dalam maupun lintas rantai pasok sebagai pendorong penting. Responden dapat memilih hingga tiga faktor pendorong kemajuan keberlanjutan dalam rentang waktu tersebut.
Untuk jangka pendek, hampir tiga perempat responden (72 persen) memperkirakan bahwa AI dan teknologi digital lainnya akan menjadi pendorong penting bagi kemajuan keberlanjutan dalam satu tahun ke depan, terutama melalui pemodelan risiko, efisiensi proses dan sumber daya, serta pengukuran dan pelaporan.
Sebanyak 52 persen responden menyatakan bahwa AI akan menghasilkan peningkatan yang terukur pada kinerja keberlanjutan bisnis dalam 12 bulan ke depan, namun 68 persen lainnya memperingatkan bahwa kekurangan keterampilan dan kemampuan tenaga kerja akan menjadi hambatan besar dalam memanfaatkan teknologi ini secara optimal.
Meskipun demikian, masih ada keraguan mengenai apakah manfaat AI akan lebih besar daripada dampak lingkungan yang ditimbulkannya yang cukup tinggi. Sebanyak 37 persen responden meyakini manfaatnya lebih besar, 35 persen bersikap netral, dan 28 persen tidak sependapat.
Sementara itu, kebijakan pemerintah saat ini justru lebih dilihat sebagai hambatan alih-alih bantuan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya