Penulis
SINGAPURA, KOMPAS.com - Pemerintah Singapura menyatakan bahwa tidak ada solusi tunggal untuk menjawab tantangan transisi energi di negaranya.
Oleh sebab itu, Singapura mengimplementasikan strategi empat pilar, yakni pengamanan pasokan gas alam, pemanfaatan energi surya, interkoneksi jaringan listrik regional, serta pengembangan alternatif rendah karbon.
"Sebagai negara dengan keterbatasan sumber daya alternatif, kami harus bertindak lebih cepat beralih ke energi bersih tanpa mengorbankan keterjangkauan dan keandalan pasokan," ujar Menteri Negara, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Energi, Perdagangan, dan Industri Gan Siow Huang saat berpidato pada forum Asia Clean Energy Summit di Singapura, Selasa (17/10/2026).
Baca juga: Sukuk hingga Mudharabah Berpotensi Danai Energi Terbarukan
Singapura pun telah menaikkan target kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi 4 gigawatt peak (GWp) pada 2035.
Untuk mengejar target tersebut, pemerintah setempat menempuh dua pendekatan strategis, yakni memperluas area pemasangan dan mengadopsi teknologi panel surya mutakhir.
Ekspansi instalasi panel surya tidak lagi terbatas pada atap gedung hunian umum yang saat ini telah terpasang di lebih dari 5.000 blok.
Otoritas Pasar Energi (EMA) meluncurkan upaya baru untuk memanfaatkan fasilitas publik lainnya, seperti kanopi area parkir serta integrasi fotovoltaik pada struktur bangunan.
Pemanfaatan kantong-kantong lahan kosong juga dioptimalkan menggunakan sistem panel surya portabel dalam kontainer (containerised solar) yang cepat dipasang dan fleksibel.
Di sektor residensial swasta, EMA menggandeng Sustainable Energy Association of Singapore guna memfasilitasi pemilik rumah terhubung dengan penyedia jasa instalasi berlisensi untuk menambah 8.000 instalasi perumahan yang sudah ada saat ini.
Di sisi inovasi teknologi, badan pengelola kawasan industri JTC tengah menguji coba pemasangan panel surya kanopi gantung (overhang solar) di Woodlands East Industrial Estate.
Panel tersebut membentang di ruang kosong antargedung seluas lebih dari separuh lapangan sepak bola.
JTC juga meluncurkan kompetisi inovasi bagi industri untuk mengembangkan panel surya khusus fasad bangunan dan unit panel surya kontainer bergerak yang terhubung dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS).
Pemanfaatan genteng surya (solar roof tiles) bahkan diuji coba pada bangunan cagar budaya bersama Singapore Land Authority tanpa merusak nilai arsitekturnya.
Kendati seluruh permukaan ruang kota dioptimalkan, tenaga surya diperkirakan hanya mampu menyumbang paling banyak 10 persen dari total kebutuhan listrik Singapura pada 2050.
Oleh karena itu, percepatan EBT domestik tetap dikombinasikan dengan eksplorasi teknologi masa depan, seperti energi panas bumi, tenaga nuklir, serta proyek percontohan pembangkit biometana berkapasitas 300 megawatt.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya