Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan

Kompas.com, 6 November 2026, 10:57 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim semakin mengkhawatirkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut berskala besar yang menghasilkan asap pekat lintas batas meluas ke Sumatera, Kalimantan, hingga Papua Selatan.

Gelombang panas dan musim kering berkepanjangan pasca-El Niño 2026 memicu krisis air bersih di berbagai daerah. Bahkan, dampaknya meluas ke mata pencaharian, kebudayaan masyarakat adat, sampai akses pendidikan anak terganggu.

Perwakilan masyarakat Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Sembay mengatakan, kebakaran hutan berarti hilangnya bahan bangunan, mata pencaharian, dan pengetahuan turun-temurun.

Baca juga: Jarak Pandang Udara Terbatas akibat Asap Karhutla, 4 Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Dibatalkan

Ia mengingatkan, pemugaran yang membuat kawasan tampak lebih 'modern' belum tentu menjawab kebutuhan warga.

Padahal, hutan menjadi bagian dari kehidupan, penghidupan, dan kebudayaan masyarakat adat. Misalnya, Rumah Betang sepanjang 118 meter dan setinggi sekitar lima meter, bergantung pada kayu hutan untuk pemeliharaannya.

“Ketika hutan hilang, sumber kayu untuk rumah, penghidupan para pengrajin, serta tumbuhan untuk pewarna alami dan obat-obatan ikut terdampak. Kehilangan hutan juga berarti kehilangan bagian dari masyarakat adat,” ujar Sembay dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).

Sebagai sumber air dan tempat mencari ikan, sungai di Sintang sudah mulai mengering. Imbasnya, distribusi bantuan terkendala armada, galon, dan pasokan air.

Kebakaran hutan desa yang dikelola warga Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terpantau pada 8 Juli dan merambat hingga Taman Nasional Gunung Palung, habitat orang utan dan satwa lain.

Hendri Gunawan dari Yayasan Palung mengatakan, sekitar 6.000 hektare hutan desa terbakar selama 15 hari. Tim pemadam gabungan warga, relawan, TNI, dan polisi menghadapi gambut yang terus menyala dengan minimnya air.

Karhutla memicu krisis air bersih hingga warga sulit mendapatkan air minum dan memasak. Ia mengaitkan kondisi ini dengan pembangunan kanal untuk perkebunan sawit sejak 2017 yang mengeringkan gambut dan membuatnya rentan terbakar saat kemarau panjang.

Ia menyoroti ketimpangan antara pembukaan lahan yang dinikmati sebagian pihak. Sedangkan warga kehilangan hutan, kebun, sumber air, dan habitat satwa.

Menurut Hendri, masyarakat tidak hanya butuh bantuan darurat. Masyarakat juga perlindungan atas hutan yang menopang hidup mereka.

Baca juga: Dampak Karhutla, Pertumbuhan Subsektor Kehutanan Berbalik Negatif pada Kuartal III 2026

“Kaya boleh, tapi jangan serakah. Kami hanya butuh air bersih. Kami hanya minta tolong bantu jaga rumah kami, hutan tempat kami tinggal bersama berbagai kehidupan di dalamnya,” tutur Hendri.

Natanael Undas menyaksikan bentang alam di Palangka Raya, Kalimantan Tengah berubah, dari agroforestri karet menjadi perkebunan sawit ilegal.

Perubahan lanskap tersebut disertai maraknya tambang emas ilegal di sekitar sungai dalam dua dekade terakhir. Ia juga menyoroti dampak karhutla yang menghentikan pembelajaran tatap muka selama dua bulan.

“Anak-anak harus belajar daring, padahal tidak semua keluarga memiliki perangkat dan jaringan yang memadai. Pemadaman listrik 6–12 jam di sejumlah daerah semakin menyulitkan,” ucapnya.

Ketika kesempatan belajar terus berkurang, kata dia, anak anak beresiko kehilangan peluang untuk menentukan masa depan yang berbeda dari kondisi lingkungan dan ekonomi yang mereka hadapi sekarang. Ia mendorong perbaikan fasilitas pendidikan sekaligus penegakan hukum terhadap aktivitas perusak lingkungan.

“Pendidikan adalah akar dari masa depan Indonesia,” ujar Natanael.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
6 Perusahaan Indonesia Sabet Penghargaan Emas ESG Tingkat Asia
6 Perusahaan Indonesia Sabet Penghargaan Emas ESG Tingkat Asia
Swasta
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
Swasta
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
LSM/Figur
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Swasta
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau