JAKARTA, KOMPAS.com – Di atas kertas, transisi energi dapat terdengar sederhana. Pembangkit penghasil emisi tinggi dikurangi, sembari kapasitas energi baru terbarukan (EBT) diperbesar.
Namun, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 menunjukkan bahwa perubahan sistem kelistrikan Indonesia tidak hanya bertumpu pada penambahan EBT. Penyimpanan energi serta pembangkit berbasis gas dan batu bara masih menjadi bagian dari rencana penambahan kapasitas selama periode tersebut.
Dalam 10 tahun ke depan, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas sebesar 69,5 gigawatt (GW). Sebanyak 42,6 GW atau 61 persen berasal dari EBT, 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi, sedangkan 16,6 GW lainnya merupakan pembangkit fosil.
Jika digabungkan, EBT dan penyimpanan energi mencakup sekitar 76 persen dari seluruh tambahan kapasitas. Komposisinya meliputi 17,1 GW surya, 11,7 GW hidro, 7,2 GW angin, 5,2 GW panas bumi, serta sumber EBT lainnya.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa transisi tidak sekadar mengganti seluruh pembangkit lama menggunakan satu sumber energi baru. Sistem listrik justru akan menggabungkan teknologi dengan karakter operasi dan fungsi yang berbeda.
Surya dan angin, misalnya, menghasilkan listrik dengan mengikuti kondisi alam. Di sisi lain, sistem juga membutuhkan pembangkitan yang dapat memasok daya secara lebih kontinu, merespons perubahan beban, serta menyimpan energi untuk digunakan pada waktu berbeda.
Pada saat yang sama, pembangkit yang telah beroperasi selama bertahun-tahun masih menjadi bagian dari sistem. Tantangannya adalah mengubah komposisi pembangkitan sambil memastikan listrik tetap tersedia sepanjang proses tersebut.
Chief Executive Officer (CEO) dan Managing Director Mitsubishi Power Asia Pacific Akihiro Ondo.Bagi Chief Executive Officer (CEO) dan Managing Director Mitsubishi Power Asia Pacific Akihiro Ondo, hal ini berarti pemilihan teknologi perlu mempertimbangkan sumber daya alam, kondisi ekonomi, serta infrastruktur yang tersedia di masing-masing negara.
Dalam konteks Indonesia, Ondo menyoroti ketersediaan batu bara dan gas, serta sumber EBT yang mampu menyediakan pasokan listrik beban dasar (baseload), seperti panas bumi dan tenaga air.
Ia juga memandang interkonektivitas sebagai salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan. Ini mengingat sistem ketenagalistrikan Indonesia, khususnya sumber-sumber EBT, tersebar di berbagai wilayah dan pulau.
Berbagai pertimbangan tersebut juga perlu diselaraskan dengan kebutuhan untuk menjaga keandalan, ketahanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan sistem energi. Mengingat kondisi setiap negara berbeda, bauran teknologi yang dipilih tidak dapat diseragamkan.
“Hal yang terpenting adalah membangun portofolio teknologi yang paling optimal dan secara khusus disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia,” ujar Ondo kepada Kompas.com, Jumat (25/9/2026).
Salah satu bagian dari portofolio tersebut adalah kapasitas pembangkit listrik yang saat ini telah beroperasi dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia.
Pembangkit listrik pada dasarnya dibangun untuk beroperasi dalam jangka panjang. Ketika suatu unit dihentikan, kapasitas yang sebelumnya dipasok pembangkit tersebut juga perlu digantikan agar kebutuhan listrik tetap terpenuhi.
Bagi Mitsubishi Power, hal ini berarti tidak hanya mendukung pengembangan kapasitas pembangkit listrik baru, tetapi juga membantu meningkatkan efisiensi dan kinerja aset pembangkit yang masih dibutuhkan dalam sistem ketenagalistrikan.
Peran Mitsubishi Power di Indonesia mencakup pengembangan fasilitas pembangkit listrik baru, serta peningkatan kinerja, pemeliharaan, dan penyediaan layanan jangka panjang sepanjang siklus operasional pembangkit yang sudah ada.
Untuk mendukung keberlangsungan operasional aset-aset tersebut dalam jangka panjang, Mitsubishi Power telah memperkuat kehadiran layanan lokalnya melalui PT Power Systems Service Indonesia (POSSI), yang menyediakan dukungan teknis dan layanan rekayasa untuk turbin gas dan turbin uap sepanjang masa operasionalnya. Layanan ini berperan penting dalam mengoptimalkan kinerja sekaligus memperpanjang usia pakai aset pembangkit.
Mitsubishi Power juga telah menjalin kerja sama jangka panjang dengan berbagai perusahaan pembangkit listrik di Indonesia. Salah satunya adalah Paiton Energy, independent power producer (IPP) yang mengelola Unit 3, 7, dan 8 di Kompleks Paiton, Jawa Timur, dengan total kapasitas 2.045 megawatt (MW).
Mitsubishi Power telah bekerja sama dengan Paiton Energy sejak pembangunan PLTU Paiton Unit 3, dengan kemitraan yang terus berlanjut melalui program pemeliharaan jangka panjang.
Bagi Ondo, peran aset pembangkit yang sudah ada perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari portofolio energi yang lebih luas untuk mendukung transisi energi. Seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan listrik di Indonesia, perubahan bauran pembangkit perlu dilakukan dengan tetap memastikan ketersediaan kapasitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sistem ketenagalistrikan.
Hal ini menunjukkan bahwa optimalisasi aset pembangkit yang sudah ada dan pengembangan kapasitas pembangkit baru bukanlah dua pendekatan yang saling bertentangan. Peningkatan efisiensi dan kinerja infrastruktur pembangkit yang telah beroperasi dapat dilakukan seiring dengan pengembangan pembangkit baru yang menghasilkan emisi lebih rendah. Keduanya memiliki peran masing-masing dalam mendukung perkembangan sistem ketenagalistrikan.
Namun, mengelola aset yang sudah tersedia baru menjawab sebagian kebutuhan. Ketika kapasitas surya dan angin bertambah, sistem kelistrikan juga perlu semakin mampu merespons perubahan produksi dari kedua sumber tersebut.
Produksi listrik tenaga surya berubah mengikuti intensitas cahaya matahari, sedangkan pembangkit angin bergantung pada kondisi angin. Sistem karena itu membutuhkan sumber daya lain untuk membantu menjaga keseimbangan ketika produksi berubah atau permintaan listrik meningkat.
RUPTL 2025–2034 mengantisipasi kebutuhan tersebut melalui penambahan 10,3 GW penyimpanan energi. Kapasitas itu terdiri dari 6 GW baterai dan 4,3 GW PLTA pumped storage.
Di saat yang sama, sistem ketenagalistrikan juga membutuhkan pembangkit listrik yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi listrik secara cepat (fast-ramping). Kemampuan ini memungkinkan pembangkit untuk segera meningkatkan pasokan listrik ketika produksi dari sumber energi terbarukan yang bersifat fluktuatif menurun atau ketika permintaan listrik meningkat.
Mitsubishi Power Indonesia President Director Nobuhiro Kawai melihat pembangkit gas masih memiliki fungsi dalam kebutuhan tersebut. Ia memperkirakan teknologi itu tetap menjadi bagian dari sistem kelistrikan Indonesia dalam lima hingga 10 tahun mendatang.
“Seiring meningkatnya pembangkitan energi terbarukan, pembangkit berbasis gas dapat menyediakan kapasitas fleksibel yang dibutuhkan untuk stabilitas jaringan, kebutuhan puncak, dan penyeimbangan sistem,” ujar Kawai.
Fleksibilitas dalam konteks tersebut berbeda dari sekadar memiliki kapasitas pembangkit yang besar. Pembangkit perlu mampu menyesuaikan keluaran listrik ketika kebutuhan jaringan berubah.
Salah satu teknologi yang digunakan untuk pembangkitan berbasis gas adalah gas turbine combined cycle (GTCC). Sistem tersebut memanfaatkan turbin gas terlebih dahulu untuk menghasilkan listrik, kemudian menggunakan kembali panas dari gas buangnya untuk menghasilkan uap.
Uap tersebut selanjutnya menggerakkan turbin uap dan menghasilkan listrik tambahan. Pemanfaatan panas buang membuat energi dari bahan bakar dapat digunakan lebih efisien dibandingkan sistem simple cycle, yang setara dengan peningkatan daya listrik sekitar 50 persen dengan jumlah bahan bakar yang sama.
M701F gas turbine for Muara Karang Block 3 Power Plant.Contohnya dapat ditemukan di Pembangkit Listrik Muara Karang Block 3, Jakarta. Mitsubishi Power memasok turbin gas M701F dan turbin uap untuk fasilitas GTCC berkapasitas sekitar 500 MW yang mulai beroperasi secara komersial pada 2021.
Saat commissioning, Muara Karang Block 3 mencatat efisiensi 60,7 persen. Angka tersebut menunjukkan porsi energi dari bahan bakar yang berhasil dikonversi menjadi listrik dalam kondisi pengujian ketika fasilitas mulai dioperasikan.
Mitsubishi Power kemudian mengembangkan turbin gas seri JAC dengan efisiensi combined cycle di atas 64 persen. Perusahaan mencatat seri tersebut telah mengumpulkan lebih dari 3,7 juta jam operasi secara global dan dirancang dengan fleksibilitas bahan bakar, termasuk hidrogen.
Kehadiran pembangkit fleksibel tidak berarti fungsi penyimpanan energi menjadi berkurang. Sebaliknya, baterai, pumped storage, pembangkit fleksibel, dan sumber EBT memiliki fungsi berbeda dalam menjaga pasokan dan permintaan tetap seimbang.
Hal yang sama berlaku di dalam kelompok energi terbarukan. Tidak semua EBT memiliki karakteristik pembangkitan yang bersifat intermiten (bergantung pada kondisi alam) seperti energi surya dan angin.
Dari 42,6 GW tambahan EBT dalam RUPTL 2025–2034, pemerintah menargetkan 5,2 GW berasal dari panas bumi. Meski kapasitas tersebut lebih rendah dibandingkan energi surya dan tenaga air, panas bumi memiliki karakteristik operasional yang berbeda dari sumber energi terbarukan yang bersifat fluktuatif.
Kawai menjelaskan bahwa panas bumi dapat beroperasi sebagai sumber baseload. Berbeda dengan energi surya dan angin, pembangkit panas bumi tidak bergantung pada perubahan kondisi cuaca untuk menghasilkan listrik.
Karakteristik itu memungkinkan panas bumi menyediakan listrik secara lebih kontinu. Karena itu, peningkatan kapasitas panas bumi dapat menambah EBT sekaligus memberikan pasokan yang relatif stabil dalam sistem.
Mitsubishi Power telah terlibat dalam pengembangan sejumlah pembangkit panas bumi di Indonesia. Salah satunya adalah Lumut Balai Unit 2 di Sumatera Selatan yang memiliki kapasitas pembangkitan sebesar 55 MW.
Kawai mengatakan, unit tersebut telah mulai beroperasi pada Juni 2025. Mitsubishi Power memasok turbin uap, generator, serta peralatan terkait untuk proyek milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk tersebut.
Darajat Geothermal Power Plant.Sementara itu, Darajat Unit 3 di Jawa Barat memiliki jalur berbeda. Mitsubishi Power memperoleh kontrak retrofit dari Star Energy Geothermal Darajat II Limited untuk meningkatkan turbin uap dan peralatan terkait.
Proyek tersebut dirancang untuk menaikkan kapasitas unit dari 121 MW menjadi 129 MW atau bertambah 8 MW. Pekerjaan itu juga disertai dukungan untuk operasi jangka panjang setelah proses retrofit.
Lumut Balai dan Darajat menunjukkan bahwa penambahan daya dari panas bumi dapat ditempuh melalui dua jalur. Kapasitas baru dapat dibangun, sementara teknologi pada fasilitas yang sudah beroperasi juga dapat ditingkatkan.
Dua pendekatan tersebut kembali memperlihatkan bahwa transisi tidak hanya bergantung pada satu jenis intervensi. Kebutuhan sistem justru perlu dilihat dari fungsi yang harus dipenuhi masing-masing sumber dan teknologi.
Surya dan angin dapat memperbesar pasokan energi terbarukan, tetapi produksinya berubah mengikuti kondisi alam. Penyimpanan energi dapat memindahkan pemanfaatan energi dari satu waktu ke waktu lain, sementara pembangkit listrik yang fleksibel membantu merespons perubahan pasokan dan beban dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Panas bumi dan hidro menawarkan pembangkitan EBT yang lebih kontinu. Di sisi lain, aset existing masih perlu dikelola sepanjang kapasitasnya tetap dibutuhkan sistem.
Kawai menilai kebutuhan tersebut membuat berbagai teknologi harus ditempatkan sebagai bagian yang saling melengkapi. Tidak ada satu teknologi yang dapat memenuhi seluruh fungsi secara mandiri .
Pendekatan portofolio membuat pembahasan transisi tidak berhenti pada pertanyaan mengenai teknologi mana yang harus menggantikan teknologi lainnya. Pertanyaan yang lebih relevan adalah fungsi apa yang perlu dipenuhi sistem dan teknologi mana yang paling sesuai untuk menjalankannya.
RUPTL 2025–2034 pada akhirnya menggambarkan kompleksitas tersebut. Penambahan EBT berjalan bersama penyimpanan energi dan kapasitas pembangkitan lain karena seluruhnya menjalankan fungsi berbeda dalam sistem.
Bagi Indonesia, transisi energi bukan sekadar memperbesar angka kapasitas energi terbarukan. Perubahan juga perlu berlangsung dengan menjaga kemampuan sistem memasok listrik ketika dibutuhkan dan menyesuaikan diri ketika pola pembangkitan berubah.
Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi aset lama dan pembangunan kapasitas baru tidak harus ditempatkan sebagai dua pilihan yang bertentangan. Keduanya dapat menjadi bagian dari proses yang sama untuk membawa sistem kelistrikan menuju emisi yang lebih rendah tanpa melepaskan kebutuhan terhadap keandalan pasokan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya