JAKARTA, KOMPAS.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mengubah cara manusia memanfaatkan teknologi, tetapi juga membawa perubahan baru bagi sektor energi.
Seiring meluasnya kemampuan AI, kebutuhan terhadap infrastruktur digital seperti pusat data (data center) yang membutuhkan pasokan listrik besar dan andal pun semakin meningkat.
International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi listrik pusat data global mencapai sekitar 415 terawatt hour (TWh) pada 2024. Angka tersebut diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, seiring meningkatnya penggunaan layanan digital dan AI.
Perubahan tersebut membuat kebutuhan listrik tidak hanya meningkat dari sisi jumlah, tetapi juga berubah dari sisi pola penggunaan. Infrastruktur digital seperti data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil karena operasinya berlangsung sepanjang waktu.
Bagi sektor ketenagalistrikan, kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru. Sistem listrik perlu memiliki kemampuan dalam menyediakan kapasitas tambahan sekaligus menjaga keandalan pasokan ketika kebutuhan energi semakin beragam.
Di Indonesia, tren tersebut berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan kebutuhan listrik nasional. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, penjualan listrik diproyeksikan meningkat dari 306 TWh pada 2024 menjadi 511 TWh pada 2034.
Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, hilirisasi, hingga munculnya kebutuhan baru, seperti pusat data dan elektrifikasi. Kondisi ini membuat sektor ketenagalistrikan tidak hanya membutuhkan tambahan kapasitas, tetapi juga teknologi yang mampu menjawab kebutuhan listrik yang semakin dinamis.
Perubahan kebutuhan tersebut menjadi perhatian bagi perusahaan yang bergerak di sektor pembangkitan dan teknologi energi. Mitsubishi Power yang telah mendukung sektor ketenagalistrikan Indonesia selama lebih dari lima dekade melihat perubahan ini sebagai bagian dari perkembangan kebutuhan energi di masa depan.
Sejak 1971, Mitsubishi Power telah berkontribusi pada sektor ketenagalistrikan Indonesia dengan mendukung sekitar 19 gigawatt (GW) kapasitas terpasang yang mencakup pembangkitan berbasis gas, batu bara, dan panas bumi.
Dukungan tersebut tidak hanya mencakup pembangunan kapasitas baru, tetapi juga peningkatan aset, pemeliharaan, serta layanan jangka panjang untuk membantu pelanggan menjaga performa pembangkit sepanjang siklus operasinya.
Senior Vice President, Sales and Marketing Strategy, Mitsubishi Power Asia Pacific Tomoya Kurisaki.Senior Vice President, Sales and Marketing Strategy Mitsubishi Power Asia Pacific Tomoya Kurisaki melihat perubahan kebutuhan listrik tersebut terjadi di berbagai pasar Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Menurutnya, peningkatan kebutuhan listrik saat ini tidak hanya berasal dari pertumbuhan ekonomi atau elektrifikasi, tetapi juga dari industri baru yang membutuhkan pasokan energi dalam skala besar.
“Permintaan datang bukan hanya dari pertumbuhan GDP atau elektrifikasi. Faktor terbesarnya adalah industri AI, termasuk pabrik semikonduktor dan data center. Hal tersebut menjadi alasan meningkatnya kebutuhan listrik,” ujar Kurisaki dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com, Selasa (22/9/2026).
Pertumbuhan kebutuhan listrik yang cepat membawa tantangan baru bagi penyedia listrik dan pengelola pembangkit. Persoalannya bukan hanya berapa besar tambahan kapasitas yang perlu dibangun, tetapi juga bagaimana memastikan pasokan tetap tersedia sesuai karakter kebutuhan setiap pengguna.
Kurisaki menjelaskan, industri berbasis digital seperti AI, data center, dan semikonduktor memiliki kebutuhan berbeda dibandingkan penggunaan listrik konvensional. Salah satu perbedaan utamanya adalah tuntutan terhadap pasokan listrik yang stabil sepanjang waktu.
“Industri AI, data center, dan pabrik semikonduktor membutuhkan pasokan listrik yang sangat stabil, 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Kebutuhan tersebut tidak dapat hanya dipenuhi oleh energi terbarukan yang bergantung pada kondisi alam,” kata Kurisaki.
Kebutuhan terhadap pasokan listrik yang stabil membuat perusahaan yang mengelola pembangkit perlu mempertimbangkan lebih banyak faktor ketika merencanakan fasilitas baru. Selain kapasitas, aspek seperti keandalan, kemampuan menyesuaikan produksi listrik, dan kesiapan menghadapi perubahan kebutuhan menjadi semakin penting.
Perubahan tersebut juga terjadi ketika sektor energi bergerak menuju target emisi yang lebih rendah. Menurut Kurisaki, pengelola pembangkit kini semakin mempertimbangkan kemampuan teknologi untuk tetap relevan dalam jangka panjang.
“Pelanggan semakin berhati-hati dalam memilih aset yang siap menghadapi kebutuhan masa depan untuk mendukung target dekarbonisasi,” ujarnya.
Artinya, pembangkit yang dibangun hari ini tidak hanya perlu mampu menghasilkan listrik saat mulai beroperasi. Teknologi tersebut juga perlu memiliki kemampuan untuk beradaptasi ketika sistem energi mengalami perubahan dalam beberapa dekade mendatang.
Perubahan kebutuhan listrik membuat standar pembangkit masa depan ikut berkembang. Efisiensi tetap menjadi pertimbangan penting, tetapi pembangkit juga perlu mampu menyesuaikan produksi listrik ketika kebutuhan sistem berubah.
Sebagai penyedia teknologi pembangkitan, Mitsubishi Power mengembangkan berbagai solusi untuk menjawab kebutuhan tersebut. Salah satunya, melalui teknologi gas turbine combined cycle (GTCC) atau pembangkit listrik berbasis turbin gas siklus gabungan.
GTCC merupakan teknologi pembangkit yang menggabungkan turbin gas dan turbin uap. Sistem ini memanfaatkan panas dari gas buang turbin gas untuk menghasilkan uap yang kemudian digunakan kembali untuk menghasilkan listrik melalui turbin uap.
Dengan memanfaatkan kembali energi panas tersebut, bahan bakar yang digunakan dapat menghasilkan listrik melalui dua tahap pembangkitan. Pendekatan ini membantu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dibandingkan sistem pembangkit yang hanya menggunakan satu tahap proses.
Mitsubishi Power J-series gas turbine.Mitsubishi Power mencatat teknologi J-Series Air-Cooled (JAC) memiliki efisiensi combined cycle lebih dari 64 persen. Perusahaan juga menyebut teknologi tersebut dirancang dengan kemampuan menyesuaikan produksi listrik ketika kebutuhan sistem berubah.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika energi terbarukan seperti surya dan angin semakin banyak digunakan. Kedua sumber energi tersebut memiliki produksi listrik yang berubah mengikuti kondisi alam, sehingga sistem membutuhkan pembangkit yang dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan.
Kurisaki mengatakan kemampuan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan teknologi pembangkitan untuk kebutuhan jangka panjang.
“Jika melihat aset pembangkitan yang dapat beroperasi selama 20 hingga 30 tahun, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah keandalan, efisiensi untuk mengoptimalkan sumber daya, dan kesiapan menggunakan bahan bakar yang lebih bersih untuk mendukung dekarbonisasi,” ujar Kurisaki.
Melalui teknologi GTCC, Mitsubishi Power berupaya menghadirkan pembangkit yang tidak hanya menghasilkan listrik secara efisien, tetapi juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan sistem energi.
Umur operasi pembangkit yang panjang membuat keputusan investasi tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan saat ini. Teknologi yang dipilih juga perlu memiliki ruang untuk mengikuti perkembangan sistem energi dan pilihan bahan bakar di masa depan.
Salah satu aspek yang mulai dikembangkan adalah kemampuan menggunakan bahan bakar yang lebih bersih, termasuk hidrogen. Namun, kesiapan tersebut bukan berarti seluruh pembangkit akan langsung beralih menggunakan hidrogen dalam waktu dekat.
Menurut Kurisaki, teknologi pembangkitan yang dikembangkan Mitsubishi Power saat ini memungkinkan pembangkit menggunakan gas alam, sekaligus membuka peluang untuk memanfaatkan bahan bakar yang lebih bersih ketika pasokan, infrastruktur, dan ekosistem pendukungnya sudah tersedia.
“Teknologi kami saat ini menggunakan gas alam, tetapi ke depan dapat mencampurkan bahan bakar yang lebih bersih untuk mencapai target dekarbonisasi,” ujar Kurisaki.
Mitsubishi Power telah melakukan validasi penggunaan campuran hidrogen pada turbin gas melalui fasilitas pengujian di Jepang. Perusahaan mencatat pengujian campuran hidrogen sebesar 30 persen telah dilakukan, sementara pengembangan menuju tingkat penggunaan yang lebih tinggi masih terus berlangsung.
Kemampuan tersebut menjadi bagian dari konsep aset yang siap menghadapi kebutuhan masa depan (future-ready asset). Artinya, pembangkit yang dibangun saat ini memiliki ruang adaptasi ketika teknologi, kebutuhan energi, dan pilihan bahan bakar mengalami perubahan.
Bagi pengelola pembangkit, pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena fasilitas listrik yang dibangun hari ini diproyeksikan beroperasi selama puluhan tahun. Dengan teknologi yang lebih adaptif, investasi yang dilakukan saat ini dapat tetap relevan ketika sistem energi memasuki tahap perkembangan berikutnya.
Perkembangan teknologi digital tidak hanya meningkatkan kebutuhan listrik melalui AI dan data center. Pasalnya, teknologi digital juga mulai membantu pengelola pembangkit menjaga performa fasilitas yang telah beroperasi.
Salah satu solusi yang dikembangkan Mitsubishi Power adalah TOMONI, platform digital yang memanfaatkan data operasi pembangkit untuk membantu pemeliharaan dan pengelolaan fasilitas.
Kurisaki menjelaskan, TOMONI digunakan sebagai alat pemantauan untuk meningkatkan keandalan pembangkit sekaligus membantu mengoptimalkan kegiatan operasi dan pemeliharaan.
Melalui TOMONI Smart Maintenance, data operasi pembangkit dikumpulkan dan dikelola secara digital untuk membantu pengelola memahami kondisi fasilitas secara lebih cepat. Sistem tersebut mendukung pemeliharaan dengan memanfaatkan data historis dan kondisi aktual peralatan, sehingga keputusan perawatan dapat dilakukan secara lebih tepat.
Selain itu, TOMONI juga mendukung pemantauan jarak jauh terhadap kondisi pembangkit. Data operasi yang terkumpul dapat dianalisis untuk membantu mengenali perubahan performa, mendeteksi potensi gangguan lebih awal, serta mempercepat respons ketika terjadi masalah.
Pemanfaatan teknologi digital tersebut menjadi bagian dari pendekatan Mitsubishi Power dalam mendukung pengelolaan pembangkit sepanjang siklus hidupnya. Dengan menggabungkan teknologi pembangkitan dan pengelolaan berbasis data, perusahaan membantu pengelola pembangkit menjaga keandalan fasilitas sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Pada akhirnya, perubahan kebutuhan listrik membuat tantangan sektor energi tidak hanya berkaitan dengan menyediakan kapasitas yang lebih besar. Sistem kelistrikan juga membutuhkan teknologi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan industri, perkembangan energi terbarukan, serta target emisi yang semakin rendah.
Bagi Mitsubishi Power, masa depan pembangkitan membutuhkan teknologi yang tidak hanya menjawab kebutuhan listrik saat ini, tetapi juga membantu mempersiapkan sistem energi menghadapi perubahan dalam beberapa dekade mendatang.
Melalui pengembangan pembangkit yang efisien, fleksibel, siap menggunakan bahan bakar masa depan, serta didukung teknologi digital, Mitsubishi Power berupaya mendukung terciptanya sistem kelistrikan yang lebih andal dan siap menghadapi era energi baru.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya