Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Implementasikan Keberlanjutan, Kalbe Olah Sampah Organik dengan Maggot

Kompas.com, 23 Februari 2025, 14:00 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) mendukung pemerintah dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan sebagai bagian dari inisiatif keberlanjutan.

Senior Manager of Corporate Sustainability PT Kalbe Farma Tbk, Arief Purwanto Nugroho, menjelaskan bahwa perusahaan telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi produksi sampah.

"Contohnya, beberapa produk Kalbe sudah 100 persen tidak menggunakan virgin paper untuk kemasannya. Kalbe Nutritionals 100 persen sudah menggunakan kertas daur ulang untuk outer box-nya," ungkap Arief dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/2/2025).

Baca juga:

Arief menambahkan bahwa Kalbe juga mengolah sampah organik menggunakan maggot dari jenis lalat black soldier fly (BSF).

Ia menjelaskan bahwa BSF tidak memiliki antena untuk menyengat, berbeda dengan lalat biasa yang dapat menjadi pembawa penyakit. "BSF justru memiliki set antibiotik alami sehingga tidak menjadi pembawa penyakit bagi manusia," jelasnya.

Menurut Arief, pengelolaan sampah dari limbah produk yang dilakukan Kalbe Nutritionals melalui budidaya maggot mencapai sekitar 20-26 persen dari total sampah yang ada. "Target ini akan terus ditingkatkan, karena kami ingin mencapai di tahun berikutnya di angka 40 persen," sebutnya.

Saat ini, sebanyak 27 cabang Kalbe Nutritionals telah menerapkan metode pengelolaan menggunakan maggot BSF, yang dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 90 ton.

Tim Kalbe Nutritionals juga menggerakkan komunitas untuk mengumpulkan sampah rumah tangga yang kemudian ditukar dengan produk susu anak.

Sampah organik tersebut digunakan sebagai pakan maggot.

“Lalat BSF memiliki siklus hidup sekitar 40-45 hari, dan selama fase maggot, mereka berfungsi sebagai decomposer atau pengurai limbah organik," kata Senior Dept Head of QS Supply Chain Kalbe Nutritionals, Yohanes Wisnu Susalit.

Ia menambahkan, limbah sampah organik atau produk Kalbe yang tidak dapat dipasarkan diberikan kepada para pembudidaya maggot untuk dijadikan pakan. "Sehingga maggotnya bisa tumbuh, kembang, dan nantinya bisa dijadikan sebagai pakan ternak,” ujarnya.

Panen Maggot

Wisnu menjelaskan bahwa setelah diberikan pakan dari sampah organik yang bernutrisi tinggi, panen maggot dapat dilakukan dalam waktu 10 hari, lebih cepat dibandingkan waktu sebelumnya yang mencapai 14 hari.

"Maggot memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan bernilai ekonomi untuk komunitas maupun peternak. Pemanfaatan maggot membantu mengurai limbah sampah hingga 80 persen," tambahnya.

Namun, Wisnu juga mencatat tantangan dalam pemanfaatan maggot. Perusahaan masih kesulitan menemukan mitra yang beroperasi secara nasional, sehingga pengembangan program ini tidak dapat dilakukan dengan cepat.

Baca juga:

Kalbe pun mengintegrasikan kegiatan ini sebagai program untuk membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). "Kalbe Nutritionals hadir untuk membantu kesulitan mereka, dengan produk yang tidak bisa dijual, dijadikan sebagai tambahan campuran limbah sayuran dan buah," paparnya.

Setelah proses pengelolaan sampah selesai, residu limbah organik dapat digunakan sebagai kompos, sementara sampah anorganik dari kemasan produk berupa plastik atau kertas akan ditangani melalui pilot project dengan salah satu binaan budidaya maggot di Jawa Timur.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau