Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mokh Sobirin M.Si
Peneliti IISM

Researcher Indonesian Initiative for Sutainable Mining

Solusi Pengawasan Tambang Di Masa Efisiensi Anggaran

Kompas.com, 6 Maret 2025, 16:37 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dalam beberapa waktu terakhir ini, perhatian publik tertuju kepada keputusan politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan penghematan anggaran sebesar Rp 306,69 triliun, atau sekitar 8,5 persen dari total APBN 2025 yang berjumlah Rp3.621,3 triliun.

Langkah ini bertujuan untuk mengalihkan dana ke program prioritas, seperti penyediaan makanan gratis bagi lebih dari 82 juta anak dan ibu hamil, yang memerlukan anggaran tahunan sebesar 28 miliar dollar AS.

Namun, penghematan ini berdampak signifikan pada berbagai sektor, termasuk sektor pertambangan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengalami pemotongan anggaran sebesar 42,4 persen, dari Rp3,91 triliun menjadi Rp2,25 triliun.

Baca juga: Pasca-RUU Minerba Disahkan, Hampir 20 Koperasi Ajukan Permohonan Kelola Tambang

Lalu apa yang mungkin terjadi ketika efisiensi anggaran untuk sektor pertambangan ini diberlakukan?

Menurut penulis, setidaknya terdapat tiga hal yang akan terjadi. Pertama, berkurangnya anggaran pengawasan.

Jika anggaran untuk instansi seperti Kementerian ESDM, inspektorat tambang, atau dinas pertambangan daerah dikurangi, maka jumlah inspektur tambang, fasilitas pemantauan, dan frekuensi inspeksi bisa berkurang.

Ini dapat menyebabkan lemahnya pengawasan terhadap kepatuhan perusahaan tambang terhadap regulasi.

Kedua, penurunan kualitas pemantauan lingkungan. Sektor tambang memiliki risiko lingkungan tinggi, dan efisiensi anggaran bisa mempengaruhi kapasitas pemerintah dalam memantau dampak tambang terhadap lingkungan.

Pengurangan dana bisa berdampak pada keterlambatan evaluasi Amdal, pengawasan reklamasi, dan pemantauan pascatambang.

Ketiga, meningkatnya risiko praktik ilegal. Dengan lemahnya pengawasan, tambang ilegal dan pelanggaran dalam izin usaha pertambangan (IUP) bisa meningkat. Hal ini bisa mengurangi penerimaan negara dari sektor tambang dan memperparah dampak sosial-lingkungan akibat eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.

Baca juga: Bukan Nikel, Baterai LFP Semakin Dinikmati Pasar Global

Solusi teknologi

Namun, hal ini tentu tidak boleh menjadi alasan bagi pemerintah untuk menjalankan pengawasan tambang yang berkualitas. Digitalisasi dan otomatisasi dalam pengawasan sektor pertambangan dapat menjadi solusi strategis dalam menghadapi keterbatasan anggaran.

Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah pemantauan berbasis satelit dan remote sensing, menggunakan citra satelit, drone, dan LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk mendeteksi aktivitas tambang ilegal serta memantau dampak lingkungan seperti deforestasi dan pencemaran.

Sebagai contoh, di Kalimantan Timur, teknologi pemantauan berbasis satelit telah digunakan untuk mendeteksi tambang ilegal di sekitar kawasan hutan lindung.

Di Sulawesi Tenggara, drone dan sensor IoT telah mulai diterapkan untuk memantau kualitas air di sekitar lokasi pertambangan nikel guna memastikan bahwa aktivitas tambang tidak mencemari sumber air bersih masyarakat.

Baca juga: Nikel Segera Diperdagangkan di Bursa Indonesia, Harga Acuan Dibentuk

Sementara itu, di Bangka Belitung, sistem berbasis AI telah diuji coba untuk menganalisis pola eksploitasi timah dan mendeteksi aktivitas pertambangan tanpa izin.

Selain itu, teknologi Internet of Things (IoT) memungkinkan pemasangan sensor di lokasi tambang untuk memantau kualitas air, udara, kebisingan, dan getaran secara real-time, sehingga mengurangi kebutuhan inspeksi manual yang mahal dan memakan waktu.

Dalam hal pelaporan dan verifikasi, sistem digital berbasis cloud dapat meningkatkan transparansi dan mengurangi risiko manipulasi data produksi serta keuangan, seperti yang telah diterapkan dalam sistem E-PNBP Kementerian ESDM.

Pada Bali Blockchain Summit 2024, yang berlangsung pada 20 Agustus 2024 di Denpasar, berbagai inisiatif perusahaan Indonesia dalam mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam sektor pertambangan dibahas secara mendalam.

Dalam agenda ini, banyak pembicara mengeksplorasi penggunaan teknologi yang memungkinkan pelacakan aktivitas penambangan secara transparan dan aman dari hulu ke hilir, memastikan setiap langkah dalam proses penambangan dapat ditelusuri kembali ke sumbernya, sehingga meningkatkan transparansi dan kepatuhan terhadap peraturan.

Selain itu, teknologi blockchain diidentifikasi sebagai alat penting untuk mendukung operasional yang lebih berkelanjutan dan transparansi rantai pasokan.

Penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data juga diangkat sebagai solusi untuk analisis kepatuhan, dengan kemampuan mendeteksi pola mencurigakan dalam laporan produksi, lingkungan, dan keuangan perusahaan tambang.

Baca juga: Bagaimana AI Membantu Manajer ESG Mendorong Keberlanjutan?

Selain itu, implementasi e-inspection dan virtual reality (VR) memungkinkan inspeksi jarak jauh yang lebih efisien, memanfaatkan kamera 360° dan drone untuk mengurangi biaya perjalanan inspektur.

Kolaborasi menjadi kunci

Inisiatif-inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi teknologi canggih guna meningkatkan transparansi, efisiensi, dan keberlanjutan dalam industri pertambangan. Komitmen yang juga sejalan dengan upaya nasional dalam memperkuat kedaulatan energi melalui adopsi teknologi blockchain.

Meskipun digitalisasi dan otomatisasi menawarkan berbagai keuntungan dalam pengawasan pertambangan, tantangan utama yang harus diatasi adalah kesiapan infrastruktur digital, pelatihan SDM, serta adopsi teknologi oleh perusahaan tambang.

Baca juga: Kunjungi China, Prabowo Diharap Perkuat Kolaborasi Rendah Karbon

Dalam konteks ini, kolaborasi kementerian terkait dengan berbagai elemen masyarakat sipil, penyedia teknologi, dan sektor swasta berperan penting dalam implementasi solusi digital tersebut, baik dalam menyediakan teknologi pemantauan, analisis data, maupun platform berbasis AI untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam sektor pertambangan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau