Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 20:31 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Singapura menduduki peringkat sebagai kota dengan udara paling kotor di dunia pada hari Rabu, (7/10/2026).

Menurut perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, kualitas udara di Singapura sempat turun ke level "sangat tidak sehat" pada Rabu siang, menjadikannya yang terburuk di dunia.

Sebelumnya pada hari yang sama, ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, sempat memegang posisi pertama sebagai kota terpolusi.

Sementara itu, melansir Independent, Kamis (8/10/2026) Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA), yang menggunakan standar pengukurannya sendiri (Pollutant Standards Index atau PSI), mencatat kualitas udara di kelima wilayah Singapura berada pada tingkat "tidak sehat" (berada di kisaran angka 101–200) atau di bawah kategori "sangat tidak sehat".

Baca juga: Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung

Pada hari Kamis pukul 7 pagi, angka rata-rata 24 jam badan tersebut menunjukkan angka 109 di Singapura bagian tengah dan 111 di bagian timur.

Badan tersebut juga memperkirakan cuaca kering akan melanda sebagian besar wilayah selatan Asia Tenggara dalam beberapa hari ke depan, yang berarti risiko kebakaran hutan dan kabut asap masih akan tetap tinggi.

Di Malaysia, seluruh sekolah, taman kanak-kanak, dan pusat penitipan anak di Batu Pahat yang berada di sekitar 140 km sebelah barat laut Singapura diperintahkan untuk tutup setelah Indeks Polutan Udara di wilayah tersebut mencapai angka 203 pada Selasa pagi, (6/10/2026) yang masuk dalam kategori "sangat tidak sehat".

Komite penanggulangan bencana setempat menyatakan bahwa sekolah akan dibuka kembali tergantung pada hasil pengukuran kualitas udara berikutnya. Kebijakan ini berdampak pada hampir 200 sekolah dan tempat penitipan anak di Batu Pahat.

Kabut asap ini disebabkan kebakaran yang tidak terkendali di Indonesia. Praktik membersihkan lahan pertanian dengan cara dibakar diperparah fenomena El Nino membuat wilayah sekitar menjadi sangat kering.

Menurut platform pemantau kebakaran yang dikelola Kementerian Kehutanan Indonesia (SiPongi), jumlah titik panas pada bulan lalu merupakan yang tertinggi sejak tahun 2015.

Pada tahun 2015, kabut asap regional sempat menimbulkan banyak gangguan serta ketegangan diplomatik antara Indonesia dan negara-negara tetangga.

Baca juga: Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya

Kelompok pegiat lingkungan Greenpeace mendeteksi lebih dari 20 perusahaan kelapa sawit, bubur kertas (pulp), dan gula yang konsesi lahannya menjadi sumber asap dari kebakaran tersebut. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kaitan bisnis dengan Malaysia dan Singapura.

Kabut asap ini datang beberapa hari menjelang ajang balap mobil Formula 1 (F1) Singapore Grand Prix yang dijadwalkan dimulai pada hari Jumat (9/10/2026). Pihak penyelenggara, Singapore GP, menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk menilai situasi sebelum membuat keputusan bersama mengenai acara tersebut jika kabut asap mengganggu jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau jalannya acara.

Sementara itu, juru bicara Formula One menyatakan bahwa kondisi saat ini belum pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Sebelumnya penyelenggara Standard Chartered Marathon di Kuala Lumpur sempat membatalkan lomba lari khusus anak-anak karena alasan kesehatan, tetapi tetap melanjutkan kategori lomba lainnya, termasuk maraton penuh dan setengah maraton. Sebagai perbandingan, pada tahun 2015 ajang maraton tersebut sempat dibatalkan sepenuhnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau