Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon

Kompas.com, 11 Oktober 2026, 14:01 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Hilangnya keanekaragaman tanaman secara besar-besaran dapat membuat padang rumput di seluruh dunia termasuk padang rumput liar dan lahan penggembalaan kehilangan kemampuan menyerap karbon.

Menurut studi baru Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) dan Universitas Kiel (CAU), hilangnya biodiversitas tanaman akan membuat padang rumput kehilangan 15 persen lebih sedikit kemampuan menyerap karbon pada pertengahan abad ini jika dibandingkan dengan skenario di mana keanekaragaman hayatinya tetap terjaga.

Melansir Phys, Kamis (8/10/2026) di beberapa wilayah yang paling parah terdampak, penyerapan CO2 melalui fotosintesis bahkan bisa merosot hingga 50 persen, meskipun dalam skenario di mana pemanasan global tetap berada di bawah 2 derajat C.

"Perubahan iklim dapat menurunkan produktivitas tanaman yang saat ini mendominasi padang rumput. Namun, jika keanekaragaman hayatinya dijaga, tanaman lain yang lebih tahan terhadap dampak iklim akan memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih dominan dan mencegah penurunan tersebut," jelas Stephen Wirth, peneliti PIK sekaligus penulis utama studi ini.

Baca juga: Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya

"Bukan sekadar laju fotosintesis yang menurun, hilangnya keanekaragaman tanaman juga mengurangi pasokan pakan bagi hewan ternak. Hal ini pada gilirannya dapat mengancam penghidupan masyarakat yang bergantung pada peternakan. Selain itu, tanah juga akan menyimpan lebih sedikit karbon sehingga kontribusinya dalam meredam pemanasan global pun berkurang," tambah Wirth.

Berbagai eksperimen lokal sebelumnya telah menunjukkan bahwa keanekaragaman tanaman mendukung produktivitas padang rumput.

Studi ini melanjutkan penelitian tersebut dengan menggunakan model vegetasi global untuk meneliti bagaimana hilangnya keanekaragaman memengaruhi penyerapan CO2 dan penyimpanan karbon di dalam tanah di tengah perubahan iklim.

Dalam studinya, para peneliti membandingkan bagaimana kondisi padang rumput ketika keanekaragaman tanamannya dijaga versus ketika mengalami penurunan yang drastis.

Dalam model tersebut, mereka mengasumsikan terjadinya kepunahan atau hilangnya keanekaragaman tanaman secara ekstrem untuk melihat potensi dampak buruknya. Mereka mengkaji dua skenario iklim, yaitu ketika pemanasan global berada di bawah 2 derajat C dan di sekitar 4 derajat C.

Perbedaan besar pada tahun 2050

Dalam skenario pemanasan global 2 derajat C, padang rumput dengan keanekaragaman tanaman yang sangat berkurang akan menyerap CO2 melalui fotosintesis sekitar 11 miliar ton lebih sedikit per tahun pada 2050, jika dibandingkan dengan padang rumput yang keanekaragamannya tetap terjaga.

Penurunan serapan ini setara dengan kehilangan area padang rumput berproduktivitas rata-rata seluas wilayah tundra Arktik. Model tersebut juga memperkirakan stok karbon di dalam tanah akan lebih sedikit pada area yang keanekaragamannya menurun.

Perbedaan yang sangat mencolok dalam hal penyerapan CO2 pada tahun 2050 terlihat di banyak wilayah tropis dan subtropis.

Di daerah ini, padang rumput dengan keanekaragaman yang merosot parah menyerap CO2 hingga 50 persen lebih sedikit dibandingkan padang rumput yang keanekaragamannya terjaga. Besar kecilnya manfaat dari keanekaragaman ini sendiri bervariasi di setiap wilayah.

Baca juga: BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas

"Di beberapa wilayah, tanaman yang tersisa mampu menggantikan peran jenis tanaman lain yang hilang, bahkan produktivitasnya bisa saja meningkat. Namun secara global, manfaat dari menjaga keanekaragaman tetap lebih besar dalam kedua skenario iklim tersebut," ungkap Susanne Rolinski, peneliti PIK sekaligus salah satu penulis studi ini.

Para peneliti mengingatkan bahwa angka pasti dari dampak tersebut masih belum sepenuhnya pasti karena model yang digunakan menyederhanakan sifat dan interaksi antar-tanaman.

"Untuk menjaga produktivitas padang rumput di tengah perubahan iklim, kita memerlukan praktik pengelolaan yang dapat merawat keanekaragaman yang ada dalam jangka panjang serta mencegah penggembalaan yang berlebihan," ujar Friedhelm Taube, peneliti dari Universitas Kiel sekaligus salah satu penulis studi ini.

"Kebijakan pertanian harus mendukung para petani dalam menyesuaikan lahan mereka terhadap perubahan iklim. Hal ini dapat membantu memperkuat mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada peternakan, khususnya di wilayah Global Selatan," tutup Taube.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau