KOMPAS.com - Hilangnya keanekaragaman tanaman secara besar-besaran dapat membuat padang rumput di seluruh dunia termasuk padang rumput liar dan lahan penggembalaan kehilangan kemampuan menyerap karbon.
Menurut studi baru Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) dan Universitas Kiel (CAU), hilangnya biodiversitas tanaman akan membuat padang rumput kehilangan 15 persen lebih sedikit kemampuan menyerap karbon pada pertengahan abad ini jika dibandingkan dengan skenario di mana keanekaragaman hayatinya tetap terjaga.
Melansir Phys, Kamis (8/10/2026) di beberapa wilayah yang paling parah terdampak, penyerapan CO2 melalui fotosintesis bahkan bisa merosot hingga 50 persen, meskipun dalam skenario di mana pemanasan global tetap berada di bawah 2 derajat C.
"Perubahan iklim dapat menurunkan produktivitas tanaman yang saat ini mendominasi padang rumput. Namun, jika keanekaragaman hayatinya dijaga, tanaman lain yang lebih tahan terhadap dampak iklim akan memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih dominan dan mencegah penurunan tersebut," jelas Stephen Wirth, peneliti PIK sekaligus penulis utama studi ini.
Baca juga: Padang Rumput Hilang 4 Kali Lebih Cepat dari Hutan, Ini Penyebabnya
"Bukan sekadar laju fotosintesis yang menurun, hilangnya keanekaragaman tanaman juga mengurangi pasokan pakan bagi hewan ternak. Hal ini pada gilirannya dapat mengancam penghidupan masyarakat yang bergantung pada peternakan. Selain itu, tanah juga akan menyimpan lebih sedikit karbon sehingga kontribusinya dalam meredam pemanasan global pun berkurang," tambah Wirth.
Berbagai eksperimen lokal sebelumnya telah menunjukkan bahwa keanekaragaman tanaman mendukung produktivitas padang rumput.
Studi ini melanjutkan penelitian tersebut dengan menggunakan model vegetasi global untuk meneliti bagaimana hilangnya keanekaragaman memengaruhi penyerapan CO2 dan penyimpanan karbon di dalam tanah di tengah perubahan iklim.
Dalam studinya, para peneliti membandingkan bagaimana kondisi padang rumput ketika keanekaragaman tanamannya dijaga versus ketika mengalami penurunan yang drastis.
Dalam model tersebut, mereka mengasumsikan terjadinya kepunahan atau hilangnya keanekaragaman tanaman secara ekstrem untuk melihat potensi dampak buruknya. Mereka mengkaji dua skenario iklim, yaitu ketika pemanasan global berada di bawah 2 derajat C dan di sekitar 4 derajat C.
Dalam skenario pemanasan global 2 derajat C, padang rumput dengan keanekaragaman tanaman yang sangat berkurang akan menyerap CO2 melalui fotosintesis sekitar 11 miliar ton lebih sedikit per tahun pada 2050, jika dibandingkan dengan padang rumput yang keanekaragamannya tetap terjaga.
Penurunan serapan ini setara dengan kehilangan area padang rumput berproduktivitas rata-rata seluas wilayah tundra Arktik. Model tersebut juga memperkirakan stok karbon di dalam tanah akan lebih sedikit pada area yang keanekaragamannya menurun.
Perbedaan yang sangat mencolok dalam hal penyerapan CO2 pada tahun 2050 terlihat di banyak wilayah tropis dan subtropis.
Di daerah ini, padang rumput dengan keanekaragaman yang merosot parah menyerap CO2 hingga 50 persen lebih sedikit dibandingkan padang rumput yang keanekaragamannya terjaga. Besar kecilnya manfaat dari keanekaragaman ini sendiri bervariasi di setiap wilayah.
Baca juga: BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
"Di beberapa wilayah, tanaman yang tersisa mampu menggantikan peran jenis tanaman lain yang hilang, bahkan produktivitasnya bisa saja meningkat. Namun secara global, manfaat dari menjaga keanekaragaman tetap lebih besar dalam kedua skenario iklim tersebut," ungkap Susanne Rolinski, peneliti PIK sekaligus salah satu penulis studi ini.
Para peneliti mengingatkan bahwa angka pasti dari dampak tersebut masih belum sepenuhnya pasti karena model yang digunakan menyederhanakan sifat dan interaksi antar-tanaman.
"Untuk menjaga produktivitas padang rumput di tengah perubahan iklim, kita memerlukan praktik pengelolaan yang dapat merawat keanekaragaman yang ada dalam jangka panjang serta mencegah penggembalaan yang berlebihan," ujar Friedhelm Taube, peneliti dari Universitas Kiel sekaligus salah satu penulis studi ini.
"Kebijakan pertanian harus mendukung para petani dalam menyesuaikan lahan mereka terhadap perubahan iklim. Hal ini dapat membantu memperkuat mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada peternakan, khususnya di wilayah Global Selatan," tutup Taube.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya