Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Berpotensi Jadi Sumber Listrik Ramah Lingkungan Skala Besar

Kompas.com, 17 April 2025, 17:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Siapa sangka, hujan berpotensi menjadi sumber energi listrik yang bersih dan berkelanjutan.

Hal tersebut terungkap setelah peneliti berhasil memanfaatkan tetesan air hujan melalui sebuah tabung. Cara tersebut ternyata mampu menghasilkan listrik yang cukup untuk menyalakan 12 lampu LED.

Teknologi ini pun berpotensi untuk dikembangkan menjadi sistem pembangkit listrik bersih skala kecil yang dapat dipasang di atap bangunan dengan memanfaatkan energi dari hujan.

“Hujan turun di Bumi setiap hari. Semua energi terbuang sia-sia karena kurangnya sistem untuk memanen energi hujan,” kata Siowling Soh, peneliti Universitas Nasional Singapura, dikutip dari New Scientist, Kamis (17/4/2025).

Biasanya, ketika kita menghasilkan listrik dari air, kita menggunakan pergerakan air dalam jumlah besar untuk menggerakkan turbin di sungai, laut, atau bahkan di dalam pipa air minum.

Baca juga: ASEAN Tertinggal, Cuma 23 Persen Listrik dari Energi Terbarukan

Tetapi air yang mengalir di atas permukaan yang konduktif secara elektrik dapat menghasilkan muatan listriknya sendiri melalui proses yang disebut pemisahan muatan.

Ini didorong oleh proton bermuatan positif dari molekul air yang tetap berada dalam cairan dan elektron bermuatan negatif yang berpindah ke permukaan, mirip ketika menghasilkan listrik statis dengan menggosok balon pada rambut.

Itu merupakan cara yang tidak efisien untuk menghasilkan listrik karena muatan listrik hanya tercipta di permukaan yang disentuh air.

Jika menggunakan saluran mikro atau nano untuk meningkatkan luas permukaan, akhirnya kita membutuhkan lebih banyak energi untuk memompa air ke dalamnya daripada energi didapatkan kembali."

Kini, Soh dan rekan-rekannya berhasil menciptakan sebuah pengaturan sederhana yang mengandalkan gravitasi untuk menggerakkan air ke bawah melalui tabung vertikal setinggi 32 sentimeter dengan diameter dalam 2 milimeter.

Singkatnya, sistem ini bekerja dengan cara menciptakan tetesan air seperti hujan yang masuk ke dalam tabung vertikal.

Interaksi antara tetesan air dan udara di dalam tabung menghasilkan aliran sumbat yang unik, yang tampaknya meningkatkan pemisahan muatan listrik pada molekul air saat mereka mengalir ke bawah. Listrik yang dihasilkan kemudian ditangkap oleh kabel di ujung-ujung tabung.

Dalam sebuah percobaan, satu tabung menghasilkan 440 mikrowatt. Ketika para peneliti menggunakan empat tabung sekaligus, mereka dapat menyalakan 12 LED selama 20 detik.

Baca juga: Harga Listrik di Asia Makin Dipengaruhi Energi Terbarukan

"Untuk pertama kalinya, kita dapat memanen energi dari hujan, atau sumber alami lainnya seperti sungai atau air terjun, melalui pemisahan muatan pada antarmuka padat-cair," kata Soh.

Jumlah listrik yang dihasilkan mungkin tidak terlihat terlalu mengesankan, tetapi Soh mengatakan pengaturan tersebut mengubah lebih dari 10 persen energi air yang jatuh melalui tabung menjadi listrik, yang lima kali lipat lebih besar daripada listrik yang diperoleh dari air yang mengalir melalui tabung dalam aliran yang kontinu.

"Hujan jatuh dari ketinggian beberapa kilometer di langit ke bumi, jadi ada banyak ruang dalam ruang tiga dimensi untuk memanen energi hujan," katanya.

Ini menunjukkan bahwa sistem tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan listrik dari hujan ditingkat yang lebih kecil seperti di atap rumah.

"Jika ini dapat dikembangkan dengan cara tepat untuk setiap rumah secara individual, itu bisa menjadi hal yang sangat bermanfaat," tambah Shannon Ames dari Low Impact Hydropower Institute di Boston.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau