Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Transisi Energi Indonesia: Banyak Coba-coba, Belum Fokus pada yang Terbarukan

Kompas.com, 8 Mei 2025, 20:00 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Transisi energi Indonesia dinilai masih pada pendekatan coba-coba teknologi, alih-alih fokus pada hasil yang nyata dan berkeadilan.

Hal ini disampaikan Policy Strategist CERAH, Wicaksono Gitawan, dalam diskusi CERAH Insight Talk bertajuk “Agenda Iklim dan Transisi Energi di Tengah Memanasnya Situasi Geopolitik Internasional" pada Rabu (7/5/2025).

Menurut Wicaksono, sejumlah rencana transisi yang tercantum dalam dokumen pemerintah, seperti Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024, justru menunjukkan kecenderungan mempertahankan energi fosil lewat teknologi transisi yang dinilai tidak efektif dan berisiko menambah emisi.

“Transisi energi seharusnya menciptakan kedaulatan dan keadilan. Tapi yang terjadi sekarang, kita justru terlalu banyak mencoba teknologi yang enggak menyelesaikan persoalan bauran energi kita,” ujarnya.

Komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi sebetulnya telah tercantum dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 2016 yang meratifikasi Perjanjian Paris.

Namun, implementasinya masih jauh dari memadai. Target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2024, misalnya, itu tidak tercapai. Data Kementerian ESDM mencatat bauran energi bersih Indonesia pada 2024 baru mencapai sekitar 13–14 persen. Tenggat waktu pun kembali dimundurkan menjadi 2030.

Alih-alih memperkuat pengembangan energi bersih berbasis kebutuhan dalam negeri, Indonesia dinilai masih terpengaruh dari teknologi dari negara lain, yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal.

“Teknologi yang dibawa negara tetangga, termasuk dari kerja sama multilateral, tidak selalu cocok untuk kita. Sering kali malah memperpanjang ketergantungan kita pada energi fosil,” kata Wicaksono.

Baca juga: Polarisasi Isu Energi Panas Bumi, Bagaimana Mengatasinya?

Adapun, meski pendanaan internasional seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) kini goyah, terutama karena sikap Amerika Serikat yang menarik diri, Wicaksono menyebut Indonesia masih memiliki akses ke skema seperti Belt and Road Initiative dari China dan Asia Zero Emission Community dari Jepang. Walau, menurutnya, perlu ada kehati-hatian dalam menilai arah dan dampak investasi tersebut.

“Tidak semua investasi dari China dan Jepang itu mendukung komitmen netral karbon,” tegasnya.

Investasi China, misalnya, masih dominan di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) untuk mendukung smelter nikel. Meskipun pemerintah China sebelumnya menyatakan akan menghentikan pendanaan PLTU di luar negeri, faktanya sejumlah proyek PLTU aktif diluar negeri hingga kini tetap dijalankan oleh perusahaan-perusahaan dari negara tersebut.

Sementara Jepang, lanjut Wicaksono, banyak mengandalkan biomassa dan gas alam (LNG). Biomassa yang digunakan juga berisiko tinggi terhadap deforestasi karena berbasis pembakaran batu bara bersama limbah kayu, yang stoknya tidak bisa dijamin berkelanjutan.

Teknologi carbon capture juga disebut belum menjanjikan. “Kementerian ESDM memang akan mencobanya di PLTU. Tapi sampai sekarang, teknologi ini baru efektif diterapkan di tiga PLTU secara global dan hanya menyerap kurang dari 50 persen emisi,” kata Wicaksono.

Menurutnya, investasi transisi energi seharusnya lebih difokuskan pada solusi yang nyata dan pembangunan kapasitas manusia.

“Dana sebaiknya digunakan untuk mendukung mereka yang sudah menggunakan energi terbarukan, untuk pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan kemampuan (upskilling) tenaga kerja di sektor energi. Inovasi hanya bisa lahir kalau sumber daya manusianya siap,” ujarnya.

Dengan pendekatan seperti ini, kata dia, Indonesia tak hanya bisa mencapai ketahanan energi, tetapi juga memperkuat ketahanan pekerja dan ekonomi secara keseluruhan.

“Kalau ini dilakukan secara menyeluruh, Indonesia bisa memperkuat kedaulatan energi dan tetap punya peluang mengejar target ekonomi 8 persen, tanpa meninggalkan keadilan dalam transisi,” pungkas Wicaksono.

Baca juga: Percepatan Transisi Energi Lindungi RI dari Dampak Gejolak Geopolitik

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Inggris Siapkan 294 Juta Dollar AS untuk Kembangkan Avtur Berkelanjutan
Pemerintah
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Indonesia Butuh Pasokan Air yang Masif untuk Topang Industri Data Center
Swasta
Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik
Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik
Pemerintah
Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun
Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun
Pemerintah
Pakar IPB Sebut Karhutla Bisa 'Ubah' Matahari Jadi 'Merah', Ingatkan Bahayanya
Pakar IPB Sebut Karhutla Bisa "Ubah" Matahari Jadi "Merah", Ingatkan Bahayanya
LSM/Figur
OJK Siapkan RPOJK Baru, Verifikasi Laporan Keberlanjutan Wajib Dilakukan
OJK Siapkan RPOJK Baru, Verifikasi Laporan Keberlanjutan Wajib Dilakukan
Pemerintah
Jejak Karbon 'Fast Fashion Bisa Dikurangi' di Seluruh Siklus, Begini Caranya
Jejak Karbon "Fast Fashion Bisa Dikurangi" di Seluruh Siklus, Begini Caranya
Pemerintah
Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim
Kota di Eropa Belum Maksimal Gunakan Ruang Hijau untuk Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
ADB Targetkan Rp 35 Triliun untuk Pemulihan Lahan di Asia-Pasifik
ADB Targetkan Rp 35 Triliun untuk Pemulihan Lahan di Asia-Pasifik
Pemerintah
Perkuat Fondasi Bisnis, Langkah UMKM Medan Menuju Usaha Berkelanjutan
Perkuat Fondasi Bisnis, Langkah UMKM Medan Menuju Usaha Berkelanjutan
Swasta
Unggahan Medsos Ungkap Cara Masyarakat Menghadapi Cuaca Panas Ekstrem
Unggahan Medsos Ungkap Cara Masyarakat Menghadapi Cuaca Panas Ekstrem
Pemerintah
BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, 3 Saham Resmi Berstatus Saham Hijau
BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, 3 Saham Resmi Berstatus Saham Hijau
Swasta
Tim Dokter Tanaman IPB Kunjungi Petani di Blitar, Bawa Mobil Klinik Tanaman
Tim Dokter Tanaman IPB Kunjungi Petani di Blitar, Bawa Mobil Klinik Tanaman
Pemerintah
Riset Ungkap Mayoritas Penggunaa Air di PUsat Data untuk Produksi Listrik
Riset Ungkap Mayoritas Penggunaa Air di PUsat Data untuk Produksi Listrik
LSM/Figur
Dari Lapangan Desa, 60 Bocah Solok Selatan Kejar Mimpi Menjadi Pemain Sepak Bola
Dari Lapangan Desa, 60 Bocah Solok Selatan Kejar Mimpi Menjadi Pemain Sepak Bola
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau