KOMPAS.com - Industri fast fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia.
Sesuai namanya, agar terus menguntungkan industri ini memproduksi barang sangat cepat dengan mengandalkan bahan pakaian murah yang cepat rusak seperti kaos berbahan katun dan poliester.
Namun sebuah studi mengungkapkan jejak karbon industri fast fashion bisa dikurangi di seluruh siklus hidupnya.
Baca juga: Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Melansir Phys, Jumat (28/8/2026) sebuah studi baru dari Concordia meneliti seluruh siklus hidup kaos poliester dan katun untuk mengetahui tahap mana, mulai dari pembuatan, pengiriman, pemakaian oleh konsumen, hingga pembuangan yang paling merusak lingkungan.
Penelitian ini juga mencari tahu di tahap mana pengurangan polusi terbesar bisa dilakukan.
Tim peneliti menganalisis siklus produksi fast fashion, mulai dari bahan baku dan pembuatan baju di China, pengiriman barang, penggunaan oleh konsumen di Montreal, hingga akhirnya dibuang.
Mereka juga menguji berbagai skenario seperti mengganti jalur pengiriman, mengubah cara pembuangan, dan memperpanjang masa pakai baju untuk melihat perubahan mana yang memberikan dampak paling besar.
Dalam skenario awal, kaos poliester menghasilkan jauh lebih banyak emisi gas rumah kaca dibandingkan kaos katun karena pembuatan serat sintetis membutuhkan lebih banyak energi dan bahan bakar fosil.
Namun, katun jauh lebih banyak menyedot sumber daya tanah dan air untuk proses bercocok tanam.
Studi ini juga menemukan bahwa cara pengiriman dan lama penggunaan baju berpengaruh lebih besar daripada jenis bahan bajunya.
Pengiriman lewat jalur udara terbukti menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Menggantinya dengan pengiriman jalur laut bisa memangkas jejak karbon baju sekitar 30 persen hingga 60 persen.
Baca juga: Larangan Pemusnahan Pakaian Tak Terjual Resmi Berlaku di Uni Eropa
Selain itu, memperpanjang masa pakai baju menjadi dua kali lebih lama bisa mengurangi emisi hingga separuhnya, karena pabrik tidak perlu memproduksi terlalu banyak baju baru.
Temuan ini menunjukkan bahwa cara terbaik bagi industri fashion untuk menjaga lingkungan adalah dengan mengurangi jumlah produksi baju, merancang pakaian yang awet, dan mengurangi pengiriman lewat pesawat.
Bagi konsumen, para peneliti menyarankan bahwa memakai baju yang ada secara lebih lama memberikan manfaat lingkungan yang jauh lebih besar daripada sekadar mempermasalahkan apakah baju tersebut terbuat dari katun atau poliester.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya