Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harapan Orangutan di Tengah Ancaman Kepunahan: Sains, Politik, Publik

Kompas.com, 19 Juni 2025, 20:44 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Krisis kepunahan membayangi, terutama bagi primata. Sebuah laporan terbaru, "Primates in Peril 2023-2025," yang dirilis oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society, dan Re:wild, bersama lebih dari seratus ilmuwan, menyoroti 25 spesies primata yang paling terancam punah di Bumi.

Banyak dari mereka hanya menyisakan beberapa ratus, bahkan puluhan individu, dan tanpa tindakan cepat, beberapa di antaranya bisa lenyap dalam satu dekade.

Laporan dua tahunan ini mengganti 15 nama dari daftar sebelumnya, bukan karena kondisi mereka membaik, melainkan untuk mengalihkan perhatian ke spesies lain yang juga menghadapi ancaman serius, menyebarkan peringatan di Asia, Afrika, Madagaskar, dan Amerika Selatan.

Pergeseran fokus dalam daftar ini bukan berarti ancaman telah mereda. Para editor menekankan bahwa meskipun suatu spesies dihapus dari daftar, prospeknya belum tentu membaik. Sebaliknya, panel ingin menyoroti kerabat lain yang menghadapi masa depan yang sama suramnya.

Indonesia dan Madagaskar masing-masing menyumbang empat spesies baru dalam daftar ini, diikuti oleh Tiongkok, Vietnam, dan Nigeria dengan masing-masing tiga spesies. Hilangnya habitat, perburuan, perubahan iklim, dan perdagangan satwa liar ilegal tetap menjadi pendorong utama penurunan populasi yang mengkhawatirkan ini.

Primata di Ambang Kepunahan: Kisah-Kisah Mendesak

Di dataran tinggi Sumatra, tepatnya di hutan Batang Toru, seperti dilansir laman earth.com, hanya sekitar 767 individu orangutan Tapanuli yang tersisa, menjadikannya kera besar paling langka yang pernah tercatat.

Baca juga: Apakah Melindungi Harimau di Hutan Bisa Atasi Perubahan Iklim?

Para peneliti memperkirakan bahwa populasi ini kini hanya menduduki kurang dari 2,5 persen dari jangkauan aslinya pada abad kesembilan belas, dan bahkan sisa wilayah itu terus tergerus oleh aktivitas penambangan dan pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air.

Situasi yang lebih kritis dihadapi oleh gorila Cross River di Afrika Barat, dengan kurang dari 250 individu dewasa yang bertahan di sebelas lokasi perbukitan yang membentang di perbatasan Nigeria-Kamerun.

Di sana, kerusuhan sipil yang berulang memperparah tekanan dari penebangan hutan dan aktivitas pertanian. Meskipun rencana konservasi telah menciptakan cagar alam baru dan patroli lintas batas, hilangnya satu individu dewasa saja dapat menghapus kemajuan konservasi bertahun-tahun di tingkat lokal.

Madagaskar menambahkan primata terancam punah terkecil di dunia ke dalam daftar ini, yaitu lemur tikus Madame Berthe. Dengan berat hanya sekitar tiga puluh gram, spesies ini telah kehilangan lebih dari delapan puluh persen populasinya dalam sepuluh tahun terakhir akibat pertanian tebang-dan-bakar yang menyebabkan fragmentasi habitat hutan keringnya.

"Spesies ini juga telah menghilang dari sebagian besar hutan utuh yang tersisa, yang menunjukkan konsekuensi mengerikan untuk kemungkinan tindakan konservasi," kata Peter Kappeler, kepala stasiun lapangan di Forêt de Kirindy. "Ini bisa menjadi primata pertama yang kita kehilangan selamanya di abad ke-21, karena tidak ada populasi penangkaran."

Bahkan spesies yang pernah dianggap relatif aman dari ancaman kepunahan pun bisa kembali terancam. Gibbon Cao-vit, yang mendiami hutan batugamping di Tiongkok dan Vietnam, kembali menjadi perhatian publik tahun ini.

Baca juga: Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Riau, Dinamai Ade

Survei terbaru menunjukkan bahwa jumlah individu mereka sebenarnya mendekati sembilan puluh, jauh lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya yang lebih dari seratus, karena survei awal menghitung ganda kelompok.

Ancaman Global, Solusi Lokal

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
AHY Soroti Pencemaran dan Sedimentasi Sungai, Dorong Pengelolaan Air Terpadu
Pemerintah
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
Program FOLU dan PBNU Rintis Pemanfaatan Hutan Selain Tebu di Blitar Jatim
LSM/Figur
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum
BUMN
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
Pengurangan Emisi Krusial untuk Tekan Penyakit Bawaan Nyamuk
LSM/Figur
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
Kota Rendah Karbon Butuh Tata Kelola Terintegrasi dan Kolaborasi Antardaerah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau