Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ini Kaitkan Naiknya Harga Pangan dengan Perubahan Iklim

Kompas.com, 22 Juli 2025, 16:33 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Penelitian yang dilakukan oleh Barcelona Supercomputing Center dan Bank Sentral Eropa menunjukkan bahwa perubahan iklim menyebabkan hasil panen menurun dan harga komoditas pertanian naik, yang pada akhirnya membuat biaya belanja bahan makanan menjadi lebih mahal.

Penulis studi ini menyatakan bahwa cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi akan menjadi hal biasa di masa depan.

Rekor-rekor baru untuk kondisi ekstrem akan terus dipecahkan, melebihi kemampuan sistem pertanian dan ekonomi saat ini untuk beradaptasi. Ini menandakan bahwa dampak perubahan iklim akan semakin parah dan menantang.

Kesimpulan ini didapat setelah peneliti menyoroti 16 peristiwa cuaca ekstrem sepanjang 2022 hingga 2024. Peristiwa cuaca ekstrem tersebut sebagian besar belum pernah terjadi sebelum 2020.

Baca juga: Perubahan Iklim, Situs Warisan Dunia Terancam Kekeringan atau Banjir

Kondisi seperti suhu tinggi seperti yang baru-bari ini dialami di Eropa dan masih memengaruhi benua lain, serta hujan lebat menyebabkan panen berkurang yang pada akhirnya memicu kenaikan harga bahan pangan.

Melansir Know ESG, Senin (21/7/2025) laporan ini pun kemudian menggambarkan dampak buruk perubahan iklim di berbagai wilayah.

Di California, AS kekeringan tiga tahun menyebabkan jutaan hektar lahan tak bisa ditanami dan kerugian 2 miliar dolar AS, yang memicu kenaikan harga sayuran di AS hingga 80 persen.

Negara bagian Arizona juga kekurangan air dari Sungai Colorado, dan Badai Ian menghantam Florida yang semuanya memperburuk keadaan.

Sementara itu gelombang panas ekstrem di China menyebabkan harga sayuran naik 40 persen, sementara di Korea Selatan, harga kubis naik hampir 70 persen, mempersulit pembuatan kimchi.

Akibat banjir parah di awal 2022, harga selada di Australia melonjak 300 persen. Kerusakan panen ini bahkan membuat restoran cepat saji seperti KFC harus mengganti selada dengan kubis di menunya agar bisnis mereka tetap bisa beroperasi.

Penelitian ini membahas pula apakah inflasi yang disebabkan perubahan iklim akan permanen. Hasilnya menunjukkan bahwa kenaikan harga ini hanya sementara, karena harga tinggi akan memicu peningkatan produksi pertanian, yang pada gilirannya akan menurunkan harga lagi.

Baca juga: Ancaman Tersembunyi Perubahan Iklim, Bikin Nutrisi Makanan Turun

Namun, untuk produk lain seperti daging sapi dan kopi, situasinya berbeda. Produk-produk ini membutuhkan lahan luas untuk memastikan pasokan berkelanjutan, sehingga lebih sulit untuk ditanam atau diternakkan dalam kondisi yang berubah-ubah. Akibatnya, harganya mungkin akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Laporan ini juga memperingatkan bahwa cuaca ekstrem akan semakin memburuk dan menimbulkan tekanan inflasi. Pemerintah dan bank sentral harus bertindak hati-hati untuk mengatasinya.

Penulis menyarankan langkah-langkah seperti mengurangi emisi, memperbaiki prediksi cuaca, dan menerapkan kebijakan perlindungan konsumen sebagai upaya pencegahan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
LSM/Figur
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
Pemerintah
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
LSM/Figur
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
Pemerintah
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
Pemerintah
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
LSM/Figur
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
LSM/Figur
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
LSM/Figur
Kemenhut Hentikan Sementara Pengangkutan Kayu di Sumatera, Cegah Peredaran Ilegal
Kemenhut Hentikan Sementara Pengangkutan Kayu di Sumatera, Cegah Peredaran Ilegal
Pemerintah
Kukang dan Trenggiling Dilepasliar ke Hutan Batang Hari Jambi
Kukang dan Trenggiling Dilepasliar ke Hutan Batang Hari Jambi
Pemerintah
Cerita Usaha Kerupuk Sirip Ikan Tuna di Bali, Terhambat Cuaca Tak Tentu
Cerita Usaha Kerupuk Sirip Ikan Tuna di Bali, Terhambat Cuaca Tak Tentu
LSM/Figur
Survei HSBC: 95 Persen CEO Anggap Transisi Iklim Peluang Pertumbuhan Bisnis
Survei HSBC: 95 Persen CEO Anggap Transisi Iklim Peluang Pertumbuhan Bisnis
Pemerintah
Ketika Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Ketika Lingkungan Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Pemerintah
Suhu Harian Makin Tidak Stabil, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Suhu Harian Makin Tidak Stabil, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Melawan Korupsi Transisi Energi
Melawan Korupsi Transisi Energi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau