Lebih lanjut, laporan baru tersebut menyoroti bahwa Kabul berada di ambang menjadi ibu kota modern pertama yang kehabisan air. Namun, Kabul bukanlah kota besar pertama yang menghadapi ancaman eksistensial terkait air seperti ini, dan berdasarkan tren saat ini, Kabul juga tidak akan menjadi yang terakhir.
Sebelumnya, pada tahun 2018, Cape Town ibu kota legislatif Afrika Selatan nyaris kehabisan air selama masa kekeringan, namun akhirnya berhasil mengatasinya berkat pembatasan penggunaan air yang ketat dan kampanye penghematan air.
Situasi bahkan lebih buruk lagi di kota Chennai di India pada tahun 2019, ketika keempat waduk utamanya mengering, sangat membatasi pasokan air dan menjerumuskan kota ke dalam krisis.
Mahmoud juga menambahkan kekurangan air memiliki dampak sosial-ekonomi yang parah, memengaruhi ketahanan pertanian dan pangan, meningkatkan biaya hidup, dan dalam kasus ekstrem, menyebabkan migrasi massal dan pengungsian penduduk.
"Kita membutuhkan investasi yang lebih kuat dalam pengelolaan air berkelanjutan, infrastruktur air yang kokoh, dan tata kelola yang lebih baik untuk mulai mengatasi masalah kekurangan air," katanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya