Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pakar Satwa Liar Ungkap, Lahan HTI Prabowo Perlu Restorasi agar Jadi Rumah Nyaman bagi Gajah

Kompas.com, 29 Juli 2025, 12:00 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Beberapa waktu lalu Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu menyerahkan 90.000 hektar lahan untuk konservasi gajah.

Namun, lahan tersebut merupakan bekas hutan tanaman industri (HTI), yang efektivitasnya sebagai habitat gajah menimbulkan sejumlah pertanyaan.

Menurut Ekolog Satwaliar dan Research Fellow di Institute for Sustainable Earth & Resources, FMIPA Universitas Indonesia, Sunarto, HTI adalah status pengelolaan lahan, sehingga bisa jadi secara ekologi bukan habitat ideal untuk satwa liar seperti gajah.

“HTI, apalagi yang sudah dibuka atau ditanami monokultur, bisa jadi bukan habitat ideal untuk gajah,” ujar Sunarto kepada Kompas.com, Senin (28/7/2025).

Agar efektif sebagai kawasan konservasi, kata dia, perlu tahapan penilaian, seperti membandingkan peta lahan dengan sebaran gajah saat ini maupun historis. Kajian lanjutan juga perlu dilakukan lewat pemodelan habitat, dengan mengukur parameter seperti kelerengan, vegetasi, dan tutupan lahan.

Ia menyebut kelayakan habitat pun harus mempertimbangkan kondisi sosial di sekitarnya. Kawasan tidak boleh terlalu curam, harus menyediakan pakan alami seperti tumbuhan muda, dan ruang berlindung seperti hutan primer dan sekunder.

Baca juga: Prabowo Serahkan HTI untuk Konservasi Gajah, Ahli Jelaskan Cara Membuatnya Efektif

“Juga tidak tumpang tindih dengan penggunaan intensif oleh manusia,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sunarto mengatakan bahwa jika kawasan masih berhutan, penting untuk dijaga tetap sebagai hutan. Sementara, jika area terbuka dapat dipulihkan dengan restorasi dan pengayaan habitat. Termasuk mengganti tanaman monokultur dengan jenis-jenis yang lebih sesuai dengan kebutuhan gajah.

Dalam konteks ini, sejumlah jenis tumbuhan yang disukai gajah telah petakan melalui riset. Penelitian IPB pada 2013 mencatat lebih dari 20 jenis tumbuhan yang disukai gajah, dari ilalang, rumput teki, putri malu, hingga pohon-pohon seperti jabon dan sungkai.

Ia menyebut, langkah seperti penanaman spesies pakan, membuat salt-lick, dan embung air, dapat membantu meningkatkan kualitas habitat.

“Kalau sudah didukung pemangku kawasan dan pemegang izin, tinggal tantangan teknisnya saja,” ujar Sunarto.

Indikator keberhasilan konservasi, menurut Sunarto, juga perlu dipantau secara bertahap. Mulai dari dukungan masyarakat dan pemerintah, hingga peningkatan kualitas habitat dan jumlah populasi gajah.

Senada, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, R. Wisnu Nurcahyo, menegaskan bahwa efektivitas konservasi sangat bergantung pada kepastian status lahan dan kesesuaian habitat.

Baca juga: Mitigasi Konflik Manusia-Gajah, Belantara Foundation Dirikan Pos Pantau di OKI

“Kalau dibuat seperti taman nasional akan lebih bagus. Tapi tantangan terbesarnya memang status lahan yang sering tumpang tindih dengan sawit, tambang, dan permukiman,” ujar Wisnu, sebagaimana di kutip dari laman UGM.

Ia menekankan konservasi ideal dilakukan di habitat asli yang menyediakan pakan dan air alami, bukan di lahan bekas perkebunan atau dekat permukiman. Keterlibatan masyarakat dan LSM dinilai penting, bersama dukungan dari organisasi seperti WWF.

“Pemerintah sudah punya Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah. Tinggal implementasinya,” ujarnya.

Namun, ia juga menyoroti terbatasnya anggaran untuk konservasi gajah, seperti untuk patroli dan perawatan, padahal banyak anak gajah mati karena virus EEHV, dan gajah dewasa jadi korban jerat atau perburuan.

UGM, kata Wisnu, siap berkontribusi melalui riset, edukasi, dan kolaborasi. Menurutnya konservasi tidak cukup dari pemerintah saja, tetapi membutuhkan gerakan kolektif semua pihak.

Dengan restorasi ekologis, kolaborasi lintas sektor, dan dukungan ilmu pengetahuan, konservasi gajah tidak sekadar menyelamatkan spesies, tapi juga menegaskan komitmen pada keberlanjutan pengelolaan lahan dan hubungan manusia dengan alam.

Baca juga: Dorong Edukasi Hidup Berdampingan, Guru SD Kabupaten OKI Dilatih Buku Ajar Gajah Sumatera

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau