Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasar Obligasi Berkelanjutan Anjlok di Paruh Pertama 2025

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 14:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Penerbitan obligasi berkelanjutan global menurun tajam pada paruh pertama tahun 2025, mencerminkan pasar yang melambat di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan sentimen investor.

Menurut data dari Bank Dunia dan Environmental Finance, total penerbitan obligasi hijau, sosial, berkelanjutan, terkait keberlanjutan, dan transisi—yang secara kolektif dikenal sebagai obligasi berkelanjutan—mencapai 480 miliar dolar AS.

Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 18,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pada kuartal kedua saja, penerbitan anjlok 19,9 persen dari tahun ke tahun menjadi 215 miliar dolar AS.

Melansir Know ESG, Senin (4/8/2025) setiap kategori obligasi mengalami penurunan.

Baca juga: Penanganan Krisis Iklim Butuh Obligasi Hijau, Apa Itu?

Data menunjukkan obligasi hijau turun 14,6 persen, obligasi sosial anjlok 27 persen, obligasi berkelanjutan merosot 32,8 persen, obligasi terkait keberlanjutan turun tipis 0,2 persen, dan obligasi transisi mengalami penurunan paling tajam, yaitu 78,8 persen.

Walaupun terjadi perlambatan, obligasi hijau tetap menjadi pemimpin pasar dengan porsi 68,3 persen dari total penerbitan pada Q2 2025.

Lebih lanjut, para pemain dari sektor publik tetap aktif, berkontribusi sebesar 36 persen dari penerbitan obligasi di kuartal tersebut, atau senilai 79 miliar dolar AS.

Entitas pemerintah menyumbang porsi yang signifikan, dengan mengumpulkan 41,2 miliar dolar AS.

Dua negara Asia, juga memasuki pasar obligasi berkelanjutan pemerintah untuk pertama kalinya.

China menerbitkan obligasi hijau senilai 6 miliar yuan (824 juta dolar AS) pada bulan April, sementara Pakistan meluncurkan sukuk hijau senilai 32 miliar rupee (113 juta dolar AS) pada bulan Mei, menandakan meningkatnya minat terhadap keuangan berkelanjutan di pasar negara berkembang.

Laporan terpisah dari Moody's menyoroti bahwa penurunan penerbitan obligasi berkelanjutan bersifat global, tetapi kawasan Asia-Pasifik dan Eropa mengalami kontraksi lebih lambat dibandingkan kawasan lain.

Baca juga: China Luncurkan Obligasi Hijau Internasional, Dunia Sambut Meriah

Hal tersebut memungkinkan pangsa penerbitan global mereka meningkat pada Triwulan II 2025, menawarkan ketahanan di tengah pasar yang lesu.

Kuartal ini juga mencatat sedikit peningkatan dalam penerbitan obligasi korporasi non-keuangan, yang menunjukkan bahwa partisipasi sektor swasta dapat stabil dalam beberapa bulan mendatang.

Moody's juga merevisi proyeksi total penerbitan obligasi berkelanjutan global untuk tahun 2025 menjadi 900 miliar dolar AS, lebih rendah dari perkiraan awal sebesar 1 triliun dolar AS.

Sementara itu para analis mengaitkan kinerja yang melambat ini dengan tantangan makroekonomi, kondisi keuangan yang lebih ketat, dan ketidakpastian kebijakan, yang semuanya telah meredam minat investor terhadap instrumen utang berkelanjutan.

Namun meskipun paruh pertama tahun 2025 telah menyoroti tantangan yang dihadapi pasar keuangan berkelanjutan, para ahli mencatat bahwa meningkatnya minat dari negara-negara berkembang dan dominasi obligasi hijau dapat mendukung pemulihan bertahap setelah kondisi ekonomi stabil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau