JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan UGM, Hatma Suryatmojo, menjelaskan fenomena Sungai Eufrat mengering dipicu perubahan iklim dan aktivitas manusia. Menurut dia, ada ketidakseimbangan tata air di sungai yang melewati Turki, Suriah, dan Irak ini.
Hatma memastikan bahwa secara alamiah, jumlah air di bumi tidak berkurang ataupun berlebih.
"Jadi kita bisa melihat, memonitor bagaimana peningkatan suhu bumi yang kemudian memengaruhi banyak hal. Termasuk di antaranya adalah keseimbangan air, sehingga di satu tempat air berlimpah, di tempat lain yang biasanya itu biasa-biasa saja tiba-tiba kekurangan," ujar Hatma saat dihubungi, Sabtu (9/8/2025).
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim Meluas, DPR Dorong Pengesahan RUU EBT
Ia mengaku, tidak mengetahui secara detail terkait perubahan iklim yang terjadi di kawasan tersebut. Namun, curah hujan cenderung lebih sedikit di wilayah Afrika dan Timur Tengah menyebabkan berkurangnya jumlah air yang sampai ke permukaan.
Implikasinya, dari yang sebelumnya sungai bisa menampung banyak air menjadi lebih sedikit air.
"Kalau nanti diamati pasti ada daerah lain yang terjadi peningkatan intensitas curah hujan sehingga daerah tersebut sering banjir. Jadi kalau di daerah sini kering daerah sana pasti kelebihan air, daerah sini kekurangan air, daerah sana pasti kelebihan air," tutur Hatma.
"Karena prinsipnya, jumlah air di bumi enggak berubah dia tetap hanya distribusinya aja yang berpindah-pindah," imbuh dia.
Di sisi lain, Hatma menyoroti faktor antropogenik atau aktivitas manusia turut memengaruhi kekeringan di Sungai Eufrat. Aktivitas itu mempercepat terjadinya ketidakseimbangan pada aliran sungai.
"Mungkin di daerah sana ada misalnya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang cukup besar. Karena kalau secara geologi kalau enggak salah dulu teman-teman Teknik Geologi UGM pernah mendiskusikan daerah sana sebenarnya termasuk daerah yang simpanan air tanahnya tinggi," kata Hatma.
Baca juga: Tinggal 3 Tahun, Kita Kehabisan Waktu Atasi Krisis Iklim jika Tak Gerak Cepat
Sebab, lokasi aliran Eufra memiliki cekungan yang sangat besar dengan luasnya daerah aliran sungai. Dengan begitu, air hujan yang tertampung pun sangat banyak.
"Kalau tampungan hujannya besar berarti potensi airnya besar. Mungkin karena ada aktivitas manusia yang mengganggu atau mungkin ada bendungan di salah satu bagian dari sungai itu yang kemudian mempengaruhi aliran yang ke hilirnya," papar dia.
Sementara itu, Dosen Teknik Geologi UGM, Agus Hendratno, mengatakan Sungai Eufrat memiliki air tanah yang melimpah sehingga pertanian di sekitarnya sangat subur.
NASA melaporkan, Sungai Eufrat mengalami penurunan debit air dari 2003 yang disebabkan oleh adanya sedimentasi serta perubahan iklim.
Diberitakan sebelumnya, air Sungai Eufrat di Suriah kini menyusut drastis dan menyingkap dasar sungai, hingga memunculkan pemandangan kilauan mineral.
Fenomena itu membuat puluhan warga di pedesaan Raqqa berbondong-bondong menggali tanah di bantaran sungai yang mengering, sebagaimana diberitakan oleh Shafaq News, Jumat (1/8/2025).
Mereka berharap menemukan emas setelah melihat gundukan tanah berkilau di dasar sungai. Tenda-tenda darurat dan lubang-lubang galian bermunculan, sementara harga peralatan penggalian melonjak.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Kian Sering Batalkan Acara Besar
Adapun, Suriah menghadapi musim kering terburuk dalam beberapa dekade. Curah hujan antara 2021–2023 menjadi yang terendah dalam 35 tahun terakhir.
Tahun ini, sebagian wilayah Timur Tengah telah mengalami kondisi kekeringan yang memecahkan rekor, penurunan curah hujan, dan badai pasir dan debu yang semakin sering terjadi.
Kondisi tersebut diperparah oleh proyek pembangunan bendungan raksasa Ilisu di Turki, yang memangkas pasokan air ke Suriah hingga 60 persen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya