Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi UGM: Perubahan Iklim dan Manusia Jadi Pemicu Keringnya Sungai Eufrat

Kompas.com, 9 Agustus 2025, 20:34 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dosen Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan UGM, Hatma Suryatmojo, menjelaskan fenomena Sungai Eufrat mengering dipicu perubahan iklim dan aktivitas manusia. Menurut dia, ada ketidakseimbangan tata air di sungai yang melewati Turki, Suriah, dan Irak ini.

Hatma memastikan bahwa secara alamiah, jumlah air di bumi tidak berkurang ataupun berlebih.

"Jadi kita bisa melihat, memonitor bagaimana peningkatan suhu bumi yang kemudian memengaruhi banyak hal. Termasuk di antaranya adalah keseimbangan air, sehingga di satu tempat air berlimpah, di tempat lain yang biasanya itu biasa-biasa saja tiba-tiba kekurangan," ujar Hatma saat dihubungi, Sabtu (9/8/2025).

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim Meluas, DPR Dorong Pengesahan RUU EBT

Ia mengaku, tidak mengetahui secara detail terkait perubahan iklim yang terjadi di kawasan tersebut. Namun, curah hujan cenderung lebih sedikit di wilayah Afrika dan Timur Tengah menyebabkan berkurangnya jumlah air yang sampai ke permukaan.

Implikasinya, dari yang sebelumnya sungai bisa menampung banyak air menjadi lebih sedikit air.

"Kalau nanti diamati pasti ada daerah lain yang terjadi peningkatan intensitas curah hujan sehingga daerah tersebut sering banjir. Jadi kalau di daerah sini kering daerah sana pasti kelebihan air, daerah sini kekurangan air, daerah sana pasti kelebihan air," tutur Hatma.

"Karena prinsipnya, jumlah air di bumi enggak berubah dia tetap hanya distribusinya aja yang berpindah-pindah," imbuh dia.

Di sisi lain, Hatma menyoroti faktor antropogenik atau aktivitas manusia turut memengaruhi kekeringan di Sungai Eufrat. Aktivitas itu mempercepat terjadinya ketidakseimbangan pada aliran sungai.

"Mungkin di daerah sana ada misalnya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang cukup besar. Karena kalau secara geologi kalau enggak salah dulu teman-teman Teknik Geologi UGM pernah mendiskusikan daerah sana sebenarnya termasuk daerah yang simpanan air tanahnya tinggi," kata Hatma.

Baca juga: Tinggal 3 Tahun, Kita Kehabisan Waktu Atasi Krisis Iklim jika Tak Gerak Cepat

Sebab, lokasi aliran Eufra memiliki cekungan yang sangat besar dengan luasnya daerah aliran sungai. Dengan begitu, air hujan yang tertampung pun sangat banyak.

"Kalau tampungan hujannya besar berarti potensi airnya besar. Mungkin karena ada aktivitas manusia yang mengganggu atau mungkin ada bendungan di salah satu bagian dari sungai itu yang kemudian mempengaruhi aliran yang ke hilirnya," papar dia. 

Sementara itu, Dosen Teknik Geologi UGM, Agus Hendratno, mengatakan Sungai Eufrat memiliki air tanah yang melimpah sehingga pertanian di sekitarnya sangat subur.

NASA melaporkan, Sungai Eufrat mengalami penurunan debit air dari 2003 yang disebabkan oleh adanya sedimentasi serta perubahan iklim.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Eufrat di Suriah kini menyusut drastis dan menyingkap dasar sungai, hingga memunculkan pemandangan kilauan mineral.

Fenomena itu membuat puluhan warga di pedesaan Raqqa berbondong-bondong menggali tanah di bantaran sungai yang mengering, sebagaimana diberitakan oleh Shafaq News, Jumat (1/8/2025).

Mereka berharap menemukan emas setelah melihat gundukan tanah berkilau di dasar sungai. Tenda-tenda darurat dan lubang-lubang galian bermunculan, sementara harga peralatan penggalian melonjak.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Akibat Perubahan Iklim Kian Sering Batalkan Acara Besar

Adapun, Suriah menghadapi musim kering terburuk dalam beberapa dekade. Curah hujan antara 2021–2023 menjadi yang terendah dalam 35 tahun terakhir.

Tahun ini, sebagian wilayah Timur Tengah telah mengalami kondisi kekeringan yang memecahkan rekor, penurunan curah hujan, dan badai pasir dan debu yang semakin sering terjadi.

Kondisi tersebut diperparah oleh proyek pembangunan bendungan raksasa Ilisu di Turki, yang memangkas pasokan air ke Suriah hingga 60 persen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
1.500 Ecoenzym Dituang ke Sungai Cisadane, Ahli Jelaskan Efektivitasnya
LSM/Figur
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
LSM/Figur
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
Cuaca Ekstrem Meningkat, Ilmuwan Desak Sistem Peringatan Bencana yang Lebih Personal
LSM/Figur
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak, Tangani Serangan Beruang di Talamau
Pemerintah
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Sampah Organik MBG Jadi Sumber Ekonomi Tambahan Pemulung di Duren Sawit
Swasta
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
Program Hidroponik Berbasis PLTS Dukung Inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong
BUMN
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
Sukabumi Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House
LSM/Figur
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
Sinar Matahari Bisa Turunkan Keanekaragaman dan Biomassa Padang Rumput
LSM/Figur
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
450 Spesies Ular Terancam Punah, Studi Soroti Peran Orangtua Bentuk Persepsi Anak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau