Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ilmuwan Ungkap Dampak Tak Kasatmata Karhutla, Picu Polusi Ozon Berbahaya

Kompas.com, 11 Agustus 2025, 19:29 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kebakaran hutan menghasilkan polutan yang kasat mata dalam jumlah masif ke atmosfer, membuat langit kelabu dan membuat orang-orang berdiam diri di dalam rumah demi menghindari udara yang tidak sehat.

Namun, ada ancaman kesehatan lain yang tak kasat mata terkait dengan kebakaran hutan, yaitu ozon.

Sebuah penelitian baru yang dipimpin oleh University of Utah mendokumentasikan bagaimana asap dari kebakaran hutan secara signifikan meningkatkan konsentrasi ozon, yang sering kali melampaui standar kesehatan.

Ozon adalah molekul oksigen reaktif (O3) yang berbahaya bagi paru-paru dan jaringan sensitif lainnya di tubuh manusia.

Peningkatan konsentrasi ozon ini bahkan terjadi bahkan di tempat-tempat terpencil yang memiliki sedikit sumber emisi prekursor polutan ozon dari manusia, seperti oksida nitrat atau NOx.

Baca juga: Dampak Jangka Panjang Kebakaran Hutan: Cemari Perairan Hingga 10 Tahun

Mengutip Phys, Sabtu (9/8/2025), penelitian yang diterbitkan bulan lalu di jurnal Atmospheric Environment ini menyoroti polusi udara ganda di wilayah yang berada di jalur angin dari kobaran api di Amerika Serikat.

Wilaya-wilayah tersebut memiliki tingkat polusi tinggi dari partikel halus (particulate matter) dan ozon.

Masalahnya menjadi rumit karena ozon tidak dilepaskan secara langsung ke udara. Ozon terbentuk di atmosfer ketika atom oksigen dari polutan lain bergabung kembali melalui proses fotokimia yang membutuhkan bantuan sinar matahari.

Penyebab utama dari pembentukan ozon adalah NOx (nitrogen oksida) dan VOCs (senyawa organik volatil). VOCs merupakan komponen utama dari asap kebakaran hutan, sedangkan NOx lebih terkait dengan sumber emisi buatan manusia, seperti knalpot kendaraan dan cerobong asap industri.

Selain itu, tingkat ozon sangat sulit dimodelkan karena polutan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kecepatan dan arah angin, suhu, tutupan awan, dan waktu dalam sehari.

Untuk lebih memahami hubungan rumit antara asap dan ozon, tim Mallia menggunakan model komputer gabungan, yang dikenal sebagai WRF-Sfire dan WRF-Chem, pada peristiwa asap yang memecahkan rekor pada tahun 2020 yang memengaruhi sebagian besar wilayah Amerika Serikat Bagian Barat.

Baca juga: 1 Miliar Orang Terpapar Asap Kebakaran Hutan Tiap Tahun

Periode 15-26 Agustus merupakan salah satu episode kebakaran terburuk di wilayah Barat di era modern.

Kebakaran di California tersebut menghanguskan lebih dari 1 juta hektar di tujuh wilayah utara, menyebabkan kerugian sebesar 12 miliar dolar AS.

Penelitian tersebut lantas menyimpulkan bahwa, rata-rata, keberadaan asap kebakaran hutan meningkatkan konsentrasi ozon sebesar 21 bagian per miliar (ppm).

"Ozon meningkat kira-kira 20 hingga 30 persen karena asap kebakaran hutan," ungkap penulis utama studi ini Derek Mallia.

Karena tingkat ozon di wilayah Barat sudah tinggi, tambahan polusi ini berpotensi mendorong kadar ozon melampaui standar kesehatan 70-ppb (bagian per miliar) yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (U.S. Environmental Protection Agency).

Penelitian juga menemukan fakta yang semakin memperumit masalah yakni keteduhan dari asap kebakaran mengubah kondisi cuaca dan memperlambat pembentukan ozon. Akibatnya, kadar ozon di dalam gumpalan asap berkurang hingga 10 ppb.

Penelitian ini pun menyimpulkan perlunya perbaikan pada model penelitian mengingat kebakaran hutan akan makin sering terjadi seiring dengan perubahan iklim.

Misalnya saja model seperti WRF-Sfire dan WRF-Chem akan sangat krusial untuk memprediksi kualitas udara dan melindungi masyarakat selama musim kebakaran hutan, tetapi alat-alat ini harus terus disempurnakan agar bisa menangani dinamika asap yang rumit.

Baca juga: Karhutla di Kalbar, Tropenbos Indonesia Beberkan Kerugian Ekonomi dan Dampak ke Ekologi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau