Peneliti juga mencatat dengue berkembang pesat di 'zona Goldilocks' (zona ideal) suhu.
"Angka kejadiannya memuncak pada suhu sekitar 27,8 derajat C, meningkat tajam saat wilayah yang lebih dingin menghangat, tetapi sedikit menurun ketika daerah yang sudah panas melampaui rentang optimal," tulis peneliti.
Dengan meningkatnya suhu di wilayah yang lebih dingin dan padat penduduk, seperti Meksiko, Peru, dan Brazil, kasus dengue diperkirakan akan meningkat.
Sebaliknya, beberapa daerah dataran rendah terpanas mungkin akan mengalami sedikit penurunan kasus. Meski begitu, efek global secara keseluruhan adalah peningkatan tajam dalam penyebaran penyakit ini, kata studi tersebut.
Urbanisasi, migrasi manusia, dan evolusi virus dengue akan semakin memperburuk risiko tersebut.
Namun, para peneliti mengatakan bahwa kemajuan medis diharapkan dapat membatasi intensitas penyakit, sehingga membuat proyeksi menjadi tantangan.
Studi tersebut menambahkan bahwa mitigasi iklim yang agresif, ditambah dengan pengendalian populasi nyamuk yang lebih baik dan penguatan sistem kesehatan dengan vaksin dengue baru adalah kunci untuk meminimalkan beban penyakit.
"Perubahan iklim tidak hanya memengaruhi cuaca tapi juga memiliki konsekuensi berjenjang bagi kesehatan manusia, termasuk memicu penularan penyakit oleh nyamuk," tambah Erin Mordecai, penulis senior dan profesor biologi di Stanford School of Humanities and Sciences.
Baca juga: WHO: Kasus Malaria Melonjak dalam 5 Tahun Terakhir akibat Krisis Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya