Kebakaran juga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk mematikan tanaman-tanaman endemik. Kebakaran akan menganggu rantai ekologi, yang pada gilirannya merugikan masyarakat.
"Dengan terbakar ya, terjadi juga hilangnya habitatnya. Di Jambi, itu ada harimau dan itu kalau sudah terbakar habitatnya (kawasan gambut), harimaunya masuk ke pemukiman masyarakat," ucapnya.
Selain itu, ekosistem gambut merupakan kawasan untuk menyimpan karbon yang bagus. Jika terbakar, kawasan gambut akan melepaskan cadangan karbon yang tersimpan dalam jumlah besar ke atmosfer.
"Inilah yang, yang akan membantu eh, terjadinya krisis iklim global. Itulah yang terjadi pemanasan global. Kalau gambutnya sudah habis terbakar, kemampuannya untuk menyerap karbon akan berkurang," tutur Ade.
Menurut Ade, kebakaran merupakan bencana multidimensi yang mengancam kesehatan, menghancurkan ekonomi masyarakat, memicu krisis sosial, merusak ekosistem, serta memperparah krisis iklim.
Dari segi kesehatan, saat Jambi dilanda kebakaran gambut di tahun 2015, 2017, dan 2019, banyak orang menderita infeksi saluran pernafasan yang akut atau ISPA.
"Ribuan warga ya, mulai anak-anak hingga lansia itu, itu harus mendapat perawatan di Jambi waktu itu. Di Jambi itu waktu kebakaran dulu, anak-anak tidak sekolah, mulai dari SD, SMP, sampai SMA tidak sekolah, libur. Semuanya sudah pakai masker," tutur Ade.
Dari segi ekonomi, kebakaran menghanguskan pertanian dan kebun-kebun warga yang umumnya terletak berdampingan dengan lahan-lahan gambut korporasi.
"Kebun mereka ikut terbakar karena rembetan api yang tidak mampu dikendalikan. Banyak juga masyarakat yang kehilangan kebunnya, yang menjadi sumber pangan, sebagai mata pencaharian mereka. Banyak keluarga-keluarga di desa itu kehilangan panen karena tanaman ladang mereka terbakar. Jika sudah terbakar itu membutuhkan waktu lama untuk memulihkan lahan atau bisa tumbuh kembali," ucapnya.
Dari segi sosial, kebakaran menimbulkan rasa takut dan tidak nyaman. Masyarakat yang tinggal di lokasi kebakaran harus menghadapi ancaman keselamatan, kesulitan beraktivitas, hingga dirundung rasa cemas secara terus menerus.
"Tidak bisa tidur kalau malam. Takut nanti karena memang mereka tinggal di (kawasan) gambut. Cemas, malam tidak tidur karena takut terjadi kebakaran," ujar Ade.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya