Selenium merangsang proses fotosintesis pada tanaman, yang meningkat lebih dari 40 persen. Peningkatan fotosintesis ini berarti tanaman menyerap lebih banyak CO2 dan mengubahnya menjadi karbohidrat. Karbohidrat tersebut kemudian dialirkan ke akar tanaman, yang mendorong pertumbuhan akar.
Baca juga: Thailand Niat Kembangkan Startup Teknologi Pertanian, Jadikan Indonesia Pasar Utama
Akar yang lebih besar dan sehat melepaskan banyak senyawa organik yang memicu pertumbuhan mikroba bermanfaat di dalam tanah. Mikroba-mikroba ini kemudian bekerja secara simbiosis dengan akar padi untuk menarik lebih banyak nitrogen dan amonium dari tanah ke dalam tanaman.
Proses ini meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen (NUE) dari 30 persen menjadi 48,3 persen, sekaligus mengurangi pelepasan dinitrogen monoksida dan amonia ke atmosfer sebesar 18,8–45,6 persen.
Dengan masuknya lebih banyak nutrisi, padi yang dihasilkan menjadi lebih banyak, dan bulir padinya pun lebih bernutrisi. Kandungan protein, beberapa asam amino penting, dan selenium juga meningkat.
Tim peneliti juga menemukan bahwa penggunaan nano-selenium memungkinkan petani mengurangi penggunaan nitrogen sebanyak 30 persen.
Karena budidaya padi menyumbang 15-20 persen dari total penggunaan nitrogen global, teknik baru ini memiliki potensi besar untuk membantu menghadapi tiga tantangan utama yakni pertumbuhan populasi, perubahan iklim, dan meningkatnya biaya ekonomi serta lingkungan di sektor pertanian.
Baca juga: Vandana Shiva Dorong Pertanian Organik, Guru Besar IPB Ingatkan Risikonya
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya