Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gap Adaptasi Iklim Pesisir: Si Kaya Menjauhi Laut, Si Rentan Terjebak

Kompas.com, 30 September 2025, 17:02 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah penelitian di tingkat global menemukan bahwa naiknya permukaan laut dan meningkatnya ancaman di pesisir menyebabkan orang-orang berpindah menjauhi pantai.

Akan tetapi, di wilayah berpendapatan rendah, jutaan penduduk masih terperangkap di sana, atau justru bergerak mendekati laut.

Riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada 22 September 2025, menganalisis 1.071 daerah pesisir yang tersebar di 155 negara di seluruh dunia.

Para peneliti mendapati, meskipun 56 persen kawasan mengalami perpindahan penduduk ke wilayah yang mendekati darat dalam kurun waktu 1992 hingga 2019, daerah-daerah yang paling miskin dan juga paling rentan tidak memiliki pilihan untuk pindah, bahkan ada yang dipaksa mendekat ke pantai, sehingga risiko bahaya yang mereka hadapi semakin besar.

Melansir Down to Earth, Senin (29/9/2025), studi tersebut menemukan bahwa 26 persen penduduk pesisir memilih untuk tetap tinggal dan 16 persen justru bergerak mendekati pantai.

Baca juga: Ironi Perikanan Indonesia: Produk Buruk, Penduduk Pesisir Stunting

Amerika Selatan mencatat persentase penduduk tertinggi yang berpindah ke dekat pantai (17.7 persen). Diikuti oleh Asia (17.4 persen), Eropa (14.8 persen), dan Oseania (13.8 persen).

Di Afrika, sebanyak 12.4 persen populasi pesisir bergerak mendekati laut, sedangkan Amerika Utara mencatat angka 8.8 persen.

Perpindahan penduduk sebagian besar dipicu oleh tingkat kerentanan masyarakat serta kemampuan mereka dalam menanggapi krisis tersebut.

Penelitian itu menemukan adanya hubungan antara perpindahan masyarakat menjauhi pantai dengan riwayat pengalaman mereka menghadapi bencana iklim pesisir sebelumnya.

"Kami berhasil memetakan perpindahan pemukiman manusia dari wilayah pesisir di seluruh dunia. Jelas terlihat bahwa penduduk memang bergerak menjauhi pantai, namun ini hanya terjadi pada mereka yang memiliki kemampuan atau sumber daya untuk pindah," papar Xiaoming Wang, penulis utama yang juga adjunct professor di Monash University.

Wang menekankan bahwa penduduk di wilayah yang kurang mampu, yang tidak memiliki sarana atau kapasitas untuk mengatasi bahaya iklim, terpaksa terus berhadapan dengan cuaca ekstrem dan ancaman iklim yang besar.

Fakta ini menyoroti kesenjangan adaptasi yang signifikan dalam upaya mengatasi ancaman perubahan iklim di masa mendatang.

Namun, penelitian ini turut menyoroti perbedaan yang jelas di wilayah Oseania dan Australia. Di sana, baik penduduk kaya maupun miskin sama-sama berpindah lebih dekat ke pantai, yang mengindikasikan adanya ketergantungan terhadap sektor ekonomi di wilayah pesisir.

Baca juga: Akademisi UI: Giant Sea Wall Bakal Ubah Ekosistem Pesisir Pantura

Komunitas yang bertahan di dekat pantai umumnya didukung oleh lebih banyak perlindungan fisik, seperti tanggul banjir, dan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik.

Kendati demikian, penelitian ini juga mengkhawatirkan bahwa adanya infrastruktur pelindung justru dapat memberi rasa aman yang berlebihan kepada penduduk dan mendorong pembangunan yang berbahaya semakin dekat ke wilayah pesisir.

"Di satu pihak, pergerakan menuju pantai dapat meningkatkan risiko yang dihadapi kelompok rentan terhadap badai, erosi, dan kenaikan air laut. Di pihak lain, pergerakan ini juga mengancam komunitas yang lebih kaya dengan risiko bencana pesisir yang terus meningkat," kata Wang.

Para peneliti menyimpulkan bahwa, dengan meningkatnya permukaan laut dan memburuknya dampak iklim, berpindah lebih jauh ke daratan bisa jadi merupakan keharusan.

Mereka juga menegaskan bahwa relokasi dari pesisir harus direncanakan sebagai strategi adaptasi iklim jangka panjang, mengingat perpindahan penduduk akan membawa konsekuensi ekonomi dan sosial yang luas bagi masyarakat dan wilayah terkait.

"Selain upaya mitigasi, strategi adaptasi harus mencakup pengurangan ancaman di pesisir, peningkatan kualitas pemukiman kumuh, dan penyeimbangan antara kebutuhan ekonomi dengan bahaya lingkungan. Tanpa langkah-langkah ini, kesenjangan adaptasi akan terus membesar dan mengorbankan masyarakat termiskin di seluruh dunia," tambah Wang.

Baca juga: Prabowo Vs Trump di PBB: Beda Sikap soal Krisis Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau