Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konservasi Indonesia-The Alliance Percepat Energi Bersih di Kawasan Pesisir

Kompas.com, 7 Oktober 2025, 19:46 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Konservasi Indonesia (KI) menggandeng Global Energy Alliance for People and Planet atau The Alliance, dalam rangka mempercepat penerapan energi bersih di kawasan pesisir Indonesia. Hal ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sebagai bagian dari upaya mendukung akses energi berkelanjutan dan penghidupan yang lebih tangguh bagi nelayan.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin menunjukkan bahwa energi bersih dapat mendukung dan memperkuat pemberdayaan serta kesejahteraan masyarakat dan perlindungan alam," kata Senior Vice President dan Executive Chair KI, Meizani Irmadhiany, dalam keterangannya, Selasa (7/10/2025).

Di wilayah pesisir, lanjut dia, tantangan perubahan iklim dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sering kali terjadi beringingan. Dengan energi terbarukan, pihaknya berharap biaya operasional nelayan menjadi lebih efisien, hasil tangkapan lebih berkualitas, dan ekosistem laut tetap terjaga.

Baca juga: Transisi Energi di Daerah 3T harus Disesuaikan dengan Potensi Sumber Energi Baru

“Kami percaya transformasi ini akan memperkuat ekonomi lokal, membuka peluang ekspor langsung dari daerah, dan memberikan contoh nyata bagaimana konservasi dan energi bersih dapat saling memperkuat,” ungkap dia.

Fokus utama kerja sama tersebut ialah konversi sistem berbasis bahan bakar fosil tradisional menuju teknologi energi terbarukan di sektor perikanan, langkah penting untuk menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Nantinya, The Alliance memperluas jangkauan program transisi energi bersih ke wilayah pesisir maupun pulau-pulau kecil dengan menghadirkan listrik tenaga surya sebagai pengganti mesin diesel yang mahal dan mencemari lingkungan.

The Alliance berupaya menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi di tingkat komunitas.

Teknologi yang akan dikembangkan mencakup lampu penangkap ikan hemat energi, mesin pembuat es bertenaga surya, serta fasilitas penyimpanan ikan skala kecil yang membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan, memperpanjang masa simpan, dan meningkatkan nilai jual ikan di pasar.

Sebagai organisasi berbasis sains yang telah lama bekerja bersama pemerintah dan komunitas lokal, KI berperan penting dalam memastikan pendekatan berbasis masyarakat dalam implementasi program ini.

Melalui studi kelayakan awal 20 desa di Maluku akan menjadi lokasi pilot project. Sebab, wilayah itu berpotensi dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan terutama bagi nelayan tuna dan cakalang yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir.

Baca juga: IESR : Metana Sektor Energi Belum Terkontrol, Indonesia Harus Bergerak Lebih Cepat

Sementara itu, Chief Executive Officer Global Energy Alliance for People and Planet, Woochong Um, menyatakan kemitraan dengan KI mencerminkan komitmen The Alliance menghadirkan solusi energi bersih yang berpihak pada masyarakat.

“Kolaborasi dengan Konservasi Indonesia merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa transisi energi tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga menempatkan manusia dan keberlanjutan planet kita sebagai inti dari proses tersebut," jelas Um.

"Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin transformasi energi bersih di kawasan ini. Tidak ada satu pihak pun yang dapat mewujudkannya sendiri, hal ini hanya dapat dicapai melalui kemitraan jangka panjang yang didasarkan pada tujuan bersama," imbuh dia.

Selain di tingkat lokal, kedua organisasi juga akan berkolaborasi dalam studi teknis dan analisis sosial-ekonomi guna mengidentifikasi solusi efektif di persimpangan antara energi terbarukan, konservasi laut, hingga kesejahteraan masyarakat.

Inisiatif ini juga menargetkan pengembangan skema pembiayaan hijau yang inovatif, termasuk potensi pemanfaatan kredit karbon, untuk memastikan keberlanjutan finansial program dan memperluas dampaknya dalam jangka panjang.

Baca juga: KKP Siapkan 17 Lokasi Karbon Biru, dari Pesisir Jawa hingga Situs Warisan Dunia

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau