Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Kebakaran Hutan, Tutupan Pohon Global Hilang 370 Persen

Kompas.com, 31 Oktober 2025, 18:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kerusakan hutan akibat kebakaran mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2024.

Peningkatan kerusakannya sangat drastis, terutama pada hutan primer tropis yang terbakar hingga 370 persen lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya.

Konsekuensi dari kebakaran masif itu adalah makin banyaknya emisi karbon yang dilepaskan serta mendorong hilangnya keanekaragaman hayati.

Melansir Down to Earth, Kamis (30/10/2025), menurut laporan The 2025 State of the Climate: A Planet on the Brink yang diterbitkan pada 30 Oktober 2025, total kehilangan tutupan pohon global diperkirakan mencapai 29,6 juta hektar (Mha) pada tahun 2024.

Angka ini adalah yang tertinggi kedua yang pernah dicatat, di mana 4,7 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kerugian yang terjadi pada 2023.

Baca juga: 500 Warga Lokal Tambang Emas Ilegal di Area Hutan Dekat Sirkuit Mandalika

Peningkatan tajam ini sebagian besar disebabkan oleh lonjakan kerugian terkait kebakaran, yang diperburuk oleh perubahan iklim dan kondisi El Niño.

“Kerugian di dalam hutan primer tropis sangat besar pada tahun 2024, dengan kerugian akibat kebakaran mencapai rekor tertinggi sebesar 3,2 juta hektar, dibandingkan dengan hanya 0,69 juta hektar pada tahun 2023. Itu artinya peningkatan sebesar 370 persen,” demikian pernyataan laporan tersebut.

Kebakaran juga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem yang parah, dengan kerusakan hutan primer tropis pada tahun 2024 saja yang menghasilkan emisi hampir 3,1 gigaton karbon dioksida (CO2) setara.

Itu sekitar 8 persen dari seluruh emisi yang dihasilkan manusia pada tahun tersebut.

Krisis ini berlanjut hingga tahun 2025, dengan kebakaran hutan besar-besaran yang tercatat di berbagai benua. Pada bulan Januari, kebakaran di California, Amerika Serikat, menghanguskan lebih dari 57.000 hektar, meninggalkan kerugian ekonomi sekitar 250 miliar dolar AS.

Sementara pada bulan Maret, kebakaran hutan melanda 370 hektar di Jepang dan 48.000 hektar di Korea Selatan.

Kebakaran juga terjadi di Kanada yang menghanguskan 1,58 juta hektar lahan, sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim. Sedangkan bulan Agustus, musim kebakaran hutan di Uni Eropa telah mencapai yang terluas, melebihi 1 juta hektar lahan yang terbakar.

“Ini mencontohkan lingkaran umpan balik iklim yang berbahaya. Kebakaran melepaskan emisi karbon yang besar yang mempercepat pemanasan global, yang pada gilirannya memicu lebih banyak aktivitas kebakaran,” tulis laporan itu lagi.

Kebakaran hutan juga memiliki konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat, dengan paparan asap dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.

Baca juga: Pemerintah Godok Revisi UU Kehutanan, Fokuskan Pengelolaan Hutan

Laporan tersebut juga menyoroti krisis keanekaragaman hayati global yang semakin cepat, dengan populasi satwa liar anjlok hingga 73 persen selama lima dekade terakhir.

Perubahan iklim telah menjadi pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati, yang memengaruhi spesies di berbagai wilayah dan rentang.

Saat ini, lebih dari 3.500 spesies satwa liar yang dinilai terancam secara langsung oleh perubahan iklim, dengan beberapa di antaranya telah menunjukkan tanda-tanda penurunan populasi.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa konsekuensi ekologis dan ekonomi yang lebih luas dari perubahan ini masih kurang dipahami tetapi kemungkinan akan semakin intensif.

Gangguan terkait iklim terhadap keanekaragaman hayati dapat berdampak luas pada pertanian, ketahanan pangan, rekreasi, pariwisata, dan bahkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui hewan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau