KOMPAS.com - Data menunjukkan bahwa lautan global mengalami rekor suhu panas selama 100 hari berturut-turut antara 2 Juni dan 10 September, dan suhu permukaan laut yang tinggi tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan turun dalam waktu dekat.
Hal tersebut terungkap dari data Climate Reanalyzer, sebuah platform yang dikelola oleh Climate Change Institute di University of Maine, AS.
Melansir Eco Business, Selasa (22/9/2026) pada setiap hari dari periode 100 hari tersebut, suhu permukaan laut melampaui suhu pada tanggal yang sama di tahun-tahun sebelumnya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1982.
Salah satu angka tertinggi tercatat pada 22 Agustus, ketika suhu permukaan laut global mencapai 21,10 derajat Celsius.
"Suhu panas yang memecahkan rekor ini diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat mengingat fenomena El Niño yang kian menguat," kata Zachary Labe, ilmuwan iklim dari organisasi nirlaba Climate Central di AS yang mengedukasi sains perubahan iklim.
Baca juga: PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Labe menjelaskan bahwa rekor suhu panas lautan ini merupakan bagian dari tren jangka panjang yang dipicu oleh krisis iklim akibat ulah manusia. Tanpa pengurangan gas rumah kaca, ia menegaskan bahwa suhu lautan akan terus meningkat.
"Penyebab utama dari rekor suhu panas ini adalah perubahan iklim dan lebih dari 90 persen panas berlebih dari pembakaran bahan bakar fosil serta emisi gas rumah kaca tersebut diserap oleh lautan," katanya.
Para ahli menyatakan bahwa suhu panas lautan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mengganggu ekosistem laut, pola cuaca dunia, hingga perekonomian yang bergantung pada laut untuk ketahanan pangan, mata pencaharian, dan perlindungan pesisir.
Lautan menyerap energi panas dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya. Analisis yang diterbitkan dalam Advances in Atmospheric Science menemukan bahwa selama tahun 2025, lautan menyerap 23 zettajoule energi setiap hari. Angka ini melonjak lebih dari 43 persen dibandingkan penyerapan panas tahun 2024 yang tercatat sebesar 16 zettajoule.
Labe menjelaskan bahwa pemanasan ini tidak hanya terjadi di permukaan laut, tetapi sudah menembus sampai ke lapisan laut yang lebih dalam.
Baca juga: Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
"Ada hubungan langsung antara meningkatnya suhu laut dengan seberapa parah gelombang panas di daratan," kata Labe. Ia menjelaskan bahwa gelombang panas yang melanda Eropa selama musim panas, terutama di wilayah pesisir, makin diperparah oleh tingginya suhu permukaan laut.
Ia juga menyebutkan bahwa tingginya suhu laut berdampak pada peningkatan wet bulb temperature (suhu bola basah) di daratan. Itu merupakan ingkat suhu terendah yang bisa dicapai melalui penguapan air, yang menentukan kemampuan tubuh manusia untuk mendinginkan diri. Makin tinggi kelembapan udara, makin lambat keringat dapat menguap.
"Suhu bola basah yang lebih tinggi berdampak buruk bagi kesehatan manusia, karena kelembapan yang tinggi mengurangi kemampuan tubuh kita untuk mengatur suhunya sendiri," ujar Labe.
"Hal ini membuktikan bahwa dampak tingginya suhu laut tidak berhenti di laut saja tetapi juga mengancam kehidupan laut, industri pangan dan pariwisata, hingga kehidupan manusia sehari-hari," paparnya lagi.
Meskipun para ahli sepakat bahwa perubahan iklim adalah penyebab utama tingginya suhu permukaan laut ini, fenomena El Niño yang dimulai sejak Juni lalu dapat memperburuk keadaan dengan memperbesar pemanasan akibat aktivitas manusia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya