JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan temperatur global tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat memukul pendapatan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Setiap kenaikan temperatur global sebesar 1 derajat Celsius berpotensi menurunkan pendapatan sektor UMKM secara keseluruhan hingga 14 persen.
Sementara itu, penurunan pendapatan pada skala perorangan atau pekerja di sektor UMKM dapat mencapai 21 persen untuk setiap kenaikan temperatur sebesar 1 derajat Celsius.
Baca juga: BNPB: 5 Hektar Lahan di Kebumen Terbakar Diduga karena Warga Bakar Sampah
Temuan tersebut berdasarkan riset berjudul Productivity Impact of Temperature Change: Evidence from Indonesia Household-Based Enterprises Survey.
Riset tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap stabilitas finansial dan pendapatan masyarakat di tingkat akar rumput.
Untuk mengurangi dampak tersebut, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengatakan, upaya dekarbonisasi perlu dilakukan di berbagai sektor, mulai dari energi, transportasi hingga pengelolaan sampah.
Namun, upaya menurunkan emisi dan menyerap karbon tidak mudah dilakukan. Diaz mencontohkan tantangan tersebut melalui sektor transportasi.
Menurut dia, sebuah mobil yang tergolong irit diperkirakan menghasilkan emisi sekitar 15 kilogram setara karbon dioksida (CO2e) untuk setiap 100 kilometer perjalanan.
Dengan jarak Jakarta-Bandung sekitar 150 kilometer, satu kali perjalanan menggunakan mobil tersebut dapat menghasilkan sekitar 22,5 kilogram setara CO2.
Di sisi lain, satu batang pohon rata-rata hanya mampu menyerap sekitar 25 kilogram setara CO2 dalam kurun waktu satu tahun.
Artinya, secara sederhana, emisi yang dihasilkan dari satu kali perjalanan Jakarta-Bandung membutuhkan kemampuan penyerapan karbon yang hampir setara dengan kemampuan satu pohon selama setahun.
Baca juga: Gudang Sampah TPA Barengkrajan Sidoarjo Terbakar, Asap Pekat Ganggu Warga
"Kalau kita mau ideal, sesusah itu untuk menurunkan emisi atau menyerap emisi di sektor transportasi, kurang lebih begitulah," tutur Diaz dalam Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru 2026–2045, Senin (21/9/2026).
Tantangan dekarbonisasi juga datang dari sektor pengelolaan sampah. Saat ini, sebanyak 31 tempat pemrosesan akhir (TPA) di Indonesia dilaporkan mengalami kebakaran.
Selain kebakaran TPA, emisi gas rumah kaca (GRK) juga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut.
Diaz mengatakan, tumpukan sampah di TPA juga menghasilkan emisi metana dalam jumlah besar. Kondisi tersebut semakin kompleks ketika sampah dibakar atau terjadi kebakaran di area TPA.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya