KOMPAS.com - Panas tidak hanya membuat bekerja menjadi tidak nyaman, tetapi juga menurunkan produktivitas secara nyata. Sebuah studi baru bahkan telah menghitung perkiraan kerugian finansial dari penurunan tersebut.
Melansir Earth, Jumat (18/9/2026) para peneliti di UC Davis memperkirakan bahwa setiap ton karbon dioksida yang dilepaskan ke udara pada tahun 2025 menyebabkan kerugian produktivitas tenaga kerja senilai 41 dolar AS di seluruh dunia.
Angka ini menempatkan tekanan panas di tempat kerja ke dalam jajaran biaya ekonomi tertinggi akibat perubahan iklim.
Studi ini dipimpin oleh Frances Moore, seorang profesor di Departemen Ilmu dan Kebijakan Lingkungan UC Davis.
Baca juga: Kesejahteraan Pekerja Jadi Kunci Keberlanjutan Bisnis
Dampak buruk ini tidak dirasakan secara merata. Wilayah padat penduduk yang suhu dan kelembapannya sering kali melampaui batas kemampuan tubuh manusia seperti Asia Selatan, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Afrika menanggung beban terberatnya.
Tenaga kerja dalam jumlah besar di tempat-tempat tersebut sudah bekerja mendekati batas aman tubuh manusia terhadap panas. Perubahan iklim membuat tekanan panas ini semakin parah.
"Studi kami menambah bukti mengenai apa saja kerugian nyata akibat perubahan iklim," ujar Moore.
Kehilangan jam kerja kini berada persis di bawah faktor kematian sebagai pemicu utama kerugian ekonomi akibat emisi karbon. Angka ini bahkan melampaui banyak dampak kerusakan iklim lainnya.
Dalam studinya, tim peneliti menggunakan ukuran tekanan panas yang disebut suhu bola termometer basah (wet-bulb globe temperature/ WBGT).
Mereka menggabungkan perkiraan tersebut dengan data mengenai tingkat kerja dan paparan di luar ruangan dari berbagai jenis pekerjaan dan wilayah.
WBGT dirancang untuk mengukur tingkat bahaya fisik dari kondisi panas dengan memperhitungkan suhu, kelembapan, dan kecepatan angin.
Kondisi-kondisi ini memengaruhi seberapa efektif tubuh manusia mendinginkan dirinya sendiri.
Paparan tekanan panas tersebut sangat beragam, tergantung di mana seseorang tinggal, jenis pekerjaan mereka, dan sumber daya yang mereka miliki untuk menghadapi panas tersebut.
Bukan hal yang mengejutkan jika pekerja di sektor pertanian dan konstruksi menghadapi paparan panas yang jauh lebih tinggi daripada pekerja kantoran atau pegawai sektor jasa, mengingat pekerjaan mereka umumnya sangat berat dan dilakukan di luar ruangan.
Namun, pekerja di dalam ruangan juga belum tentu aman, terutama mereka yang tidak memiliki AC atau hanya memilikinya dalam jumlah sedikit.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya